Martin van Bruinessen: Negara Islam Penting Asia Menganut Madzhab Hanafi

Banua.co, JAKARTA – Peneliti Islam Asia Tenggara dan Turki, Martin van Bruinessen mengatakan bahwa negara penting di Asia mengambil madzhab Hanafi sebagai madzhab resmi negara.

“Kita lihat negara penting di Asia, Utsmani dan Mongol, adalah mengambil Hanafi sebagai mazhab negara. Mungkin dalam ajaran Hanafi ada satu kecocokan tidak berani memastikan,” ujar Martin saat Lecture II yang digelar Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdhlatul Ulama Indonesia (Unusia) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Sabtu (24/04/2021).

Guru Besar Universitas Utrecht, Belanda itu melihat perbedaan antara mayoritas Muslim di jalur sutra dengan yang di jalur rempah. Mayoritas di jalur sutra menganut mazhab Hanafi, sementara jalur rempah banyak yang menganut mazhab Syafi’i.

“Mazhab yang dianut jalur Rempah rata-rata Syafi’i, sedangkan jalur Sutra atau daratan itu Hanafi,” katanya.

images 2021 04 27T164333.457 - Martin van Bruinessen: Negara Islam Penting Asia Menganut Madzhab Hanafi
Martin van Bruinessen

Ia menjelaskan bahwa wilayah India bagian tengah bermazhab Hanafi, tetapi daerah India di pesisir menganut mazhab Syafi’i, seperti Malebari. Sebagian China menganut mazhab Hanafi, sedangkan Yaman lebih banyak bermazhab Syafi’i. Indonesia sebagai negara maritim yang dilalui jalur rempah juga menganut mazhab Imam Muhammad bin Idris, nama Imam Syafi’i.

Namun Martin tak berani berspekulasi lebih jauh mengenai penyebab perbedaan. Mungkin, katanya, salah satu faktor keberadaan negara lebih sering dipakai mazhab negara. Penulis buku Pesantren, Kitab Kuning, dan Tarekat itu cenderung meyakini bahwa fakta tersebut hanyalah sebuah kebetulan saja.

“Tapi saya pikir faktor kebetulan lebih besar,” akunya.

Madzhab Hanafi dan Penyebarannya

Sementara, Mazhab Hanafi adalah madzhab fikih tertua dalam masyarakat Muslim. Madzhab ini dirintis oleh Imam Nu’man bin Tsabit atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah.

Abu Hanifah meninggalkan tiga karya tulis, yaitu kitab Al Fiqh Al Akbar, Al Fiqh Al Absath, dan Al Alim Wa Al Muta’allim.

Dalam kitab-kitab karya Abu Hanifah tersebut tidak ada yang secara khusus membahas tentang hukum Islam. Pemikiran hukum Islam Abu Hanifah lebih banyak diperoleh dari karya-karya muridnya, seperti Abu Yusuf (wafat 182 H) dan Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaiban (wafat 189 H).

Madzhab Hanafi menjadi berkembang luas ketika Abu Yusuf diangkat Khalifah Harun Ar Rasyid menjadi Hakim Agung. Tugasnya yang tak hanya memutus persoalan hukum yang terjadi di wilayah kekuasaan Abbasiyah, tetapi juga mengangkat para hakim lokal membuat Abu Yusuf lebih banyak mengangkat para hakim dari kalangan pengikut Abu Hanifah.

Karena kebijakan ini, masyarakat pada akhirnya lebih mengenal pandangan-pandangan hukum Mazhab Hanafi dibanding pandangan mazhab lain. Di antara lokasi yang menjadi pusat penyebaran Mazhab Hanafi adalah Irak, Khurasan, Syam, Mesir, dan wilayah Afrika Utara lainnya.

Pengaruh Madzhab Hanafi akhirnya sangat kuat pada masa Dinasti Abbasiyah. Pernah suatu kali terjadi konflik di masyarakat hanya gara-gara Khalifah Al Qadir Billah mengangkat seorang hakim bermazhab Syafi’i. Hingga akhirnya Khalifah menggantinya dengan hakim bermazhab Hanafi untuk meredakan konflik.

Dalam catatan Christie S. Warren yang dipublikasikan Oxford Bibliographies, dituliskan bahwa pada abad ke-16 Kekhalifahan Turki Usmani mengadopsi Mazhab Hanafi sebagai mazhab resmi negara.

Namun, perkembangan Madzhab Hanafi tidak semata-mata karena dukungan politik. Menurut Abu Zahrah dalam buku Tarikh Al-Madzahib Al Islamiyyah, ada tiga faktor perkembangan mazhab Hanafi.

Pertama, banyaknya murid Abu Hanifah yang memiliki kecakapan dalam menjawab permasalahan-permasalahan hukum.

Mereka menguasai metode pengambilan keputusan hukum Abu Hanifah, pendapat-pendapat pendiri madzhab, dan dasar-dasar yang digunakannya. Hal ini membuat mereka dapat dengan cepat menemukan hukum agama terkait dengan kasus yang sedang terjadi. Selanjutnya mereka menjadi rujukan masyarakat luas.

Kedua, pengembangan teori pengambilan keputusan hukum. Pada saat yang bersamaan, pengikut madzhab lain belum menyadari pentingnya pengembangan teori tersebut. Misalnya tentang proses penemuan alasan hukum atau biasa disebut illat al-hukm.

Dengan memahami alasan di balik suatu keputusan hukum, mereka dapat melakukan analogi untuk kasus-kasus baru. Hal ini menjadikan Madzhab Hanafi lebih maju dibanding mazhab hukum lainnya. Bahkan, kasus-kasus yang belum timbul di masyarakat dapat diantisipasi sebelum terjadi.

Ketiga, penyebaran ke wilayah yang memiliki adat-istiadat yang beraneka macam. Hal ini akan menguji kemampuan para hakim bermazhab Hanafi menjawab permasalahan yang timbul. Pengalaman ini membuat para ulama pengikut Madzhab Hanafi dapat mengembangkan metode pengambilan hukum dan mengkompilasi fatwa yang sangat kaya.

Saat ini, Mazhab Hanafi menjadi mazhab yang dominan di beberapa negeri mayoritas Muslim. Christie S. Warren mencatat bahwa Mazhab Hanafi banyak dianut di Yordania, Lebanon, Pakistan, Suriah, Turki, Uni Emirat Arab, Bangladesh, Mesir, India, dan Irak.

Baca Juga: Madzhab Fikih yang Paling Lama Bertahan Bukan Syafi’i.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *