Haul Syekh Arsyad Al Banjari Tetap Dilaksanakan, Catat Tanggalnya!

Banua.co, MARTAPURA – Meski masih dalam suasana pandemi Covid-19, tahun 2021 ini haul Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau yang juga dikenal dengan sebutan Datuk Kalampayan untuk umum akan tetap dilaksanakan.

Hal ini berbeda dengan tahun 2020 silam di mana haul hanya dilaksanakan untuk kalangan internal keluarga saja. Kabar gembira ini telah viral disebarkan dalam bentuk sebuah pamflet di group-group Watshapp.

Kendati demikian, haul Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang tahun ini ke-215 tidak dipusatkan di satu tempat.

Menurut pamflet yang diedarkan, haul Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari akan dilaksanakan tepat pada hari wafatnya, yaitu tanggal 6 Syawal atau 17 Mei 2021 dan digelar secara serentak di langgar-langgar wilayah Martapura dan sekitarnya.

Dalam pamflet juga diingat bahwa haul Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Belum ada informasi lebih lanjut apakah nantinya haul ini akan disiarkan secara streaming untuk masyarakat umum di luar Martapura.

Haul Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ke-215
Pamflet Pemberitahuan Haul Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari ke-215
Profil Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah salah seorang ulama besar Madzhab Syafi’i. Kitab Sabilal Muhtadin yang ditulisnya menjadi rujukan umat Islam di Asia Tenggara.

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari dilahirkan pada 13 Safar 1122 H, bertepatan tahun 1710 Masehi di sebuah desa bernama Lok Ganang.

Masa kecil Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari menuntut ilmu di kampung halamannya. Hingga kemudian Raja Banjar saat itu, yaitu Sultan Tahlilullah meminta izin kepada orangtua Syekh Arsyad untuk membawanya ke istana agar bisa belajar dengan para alim ulama di ibu kota kerajaan.

Setelah dewasa, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari kemudian melanjutkan pendidikannya ke tanah haram.

Di Masjid al-Haram, beliau belajar pada sejumlah guru besar. Mereka antara lain, Syekh Ahmad bin Abdul Mun’im ad-Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidi, dan Syekh Hasan bin Ahmad al-Yamani.

Kemudian, Syekh Salim bin Abdullah al-Bashri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, dan Syekh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawy. Ada pula Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as-Sandy, Syekh Abdul Wahab at-Thantawy, dan Syekh Abdullah Mirghani.

Setelah 30 tahun menuntut ilmu di kota Makkah, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari pindah ke Madinah. Di kota Nabi inilah beliau berguru dengan seorang syekh tarekat bernama Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani.

Diceritakan bahwa sebenarnya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari masih berkeinginan melanjutkan pendidikan ke Mesir. Namun oleh guru-gurunya disarankan agar pulang ke kampung halaman saja, karena ilmunya sudah mumpuni.

Pada 1186 Hijriyah, bertepatan 1772 Masehi beliau meninggalkan tanah haram, pulang ke Nusantara.

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mengabdikan dirinya untuk berdakwah, membimbing rakyat di wilayah kerajaan Banjar. Beliau juga mencetak kader-kader, khususnya dari kalangan anak cucunya yang kelak dikirimkan berdakwah ke pelosok-pelosok. Juga menulis beberapa kitab sebagai pedoman dalam pembelajaran.

Syekh Muhammad Arsyad wafat pada 6 Syawal 1227 Hijriyah dalam usia 105 tahun, bertepatan tahun 1812 Masehi atau usia 102 tahun dalam perhitungan Masehi.

Editor: Shakira.

Baca Juga: Wadah Tinta Ini Saksi Sejarah Syekh Arsyad Al Banjari

Baca Juga: Guru Hatim Salman: Tidak Ada Bukti Otentik Penetapan Harta Gono Gini Oleh Syekh Arsyad Al Banjari!


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *