Rekam Jejak Munarman Bersama Kelompok Islam Garis Keras

Banua.co, JAKARTA – Polisi akhirnya menangkap Munarman, mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam, organisasi kelompok Islam garis keras yang telah dibubarkan pemerintah. Munarman dijemput Densus 88 ke rumahnya di kawasan perumahan kelas premium kawasan Modern Hill, Pamulang, Tangerang Selatan.

Meski sosok Munarman dikenal sebagai petinggi organisasi Islam garis keras, namun latar belakangnya bukanlah alumnus dari lembaga pendidikan Islam.

Munarman dilahirkan di Palembang, Sumatra Selatan, 16 September 1968. Dia menyelesaikan disiplin studi hukum di Universitas Sriwijaya, Palembang. Nama Munarman dikenal luas ketika dirinya bergabung dengan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Palembang pada 1995.

Kala itu Munarman bergabung sebagai sukarelawan, sebelum kemudian dipromosikan menjadi Kepala Operasional YLBHI Palembang pada 1997. Dari sana Munarman pindah menjabat Koordinator Kontras Aceh periode 1999-2000. Munarman tinggal di Aceh pada periode itu.

Di Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Munarman sempat ingin dipecat. Hal ini lantaran dianggap terlalu radikal dan terlibat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun Munarman mengaku hanya sebatas berteman saja dengan orang-orang HTI.

Awal Ketertarikan Munarman dengan Gerakan Islam Garis Keras

Ketertarikan Munarman dengan kelompok Islam garis keras dimulai ketika dia dekat dengan Abu Bakar Baasyir. Hal ini dikemukakannya ketika wawancara bersama Refly Harun. Munarman menjelaskan awal dirinya hijrah ke forum-forum umat Islam, yang salah satunya adalah kepincut dengan nilai serta sikap para pengajar Islam, termasuk Abu Bakar Ba’asyir.

“Ada waktu itu LBH membela Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, di situ saya melihat banyak kesesuaian sikap dan pernyataan dari beliau. Apa yang dia ucapkan dan tindakannya selisihnya sedikit. Kosekuensi seperti itu yang saya lakukan ketika melakukan lompatan (hijrah),” ujarnya.

Abu Bakar Ba’asyir adalah pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia. Kala itu, LBH yang diketuai Munarman mengambil posisi membela Ba’asyir dalam kasus Bom Bali. Di mata Munarman, Ba’asyir mampu menunjukkan ketenangan dan sikap anti-mengeluh selama menjalani proses hukum, meski dirinya diproses dalam kondisi sakit.

Selepas tidak mendampingi Ba’asyir, Munarman mulai dekat dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dari HTI, Munarman mulai mengenal sejumlah tokoh Islam garis keras, termasuk Ketua FPI Habib Rizieq Shihab. Dia lantas mendirikan An Nashr Institute. Munarman belakangan banyak berada pada garis depan atas kampanye pembubaran Ahmadiyah.

Memilih Bergabung FPI

Dalam wawancara tersebut, Munarman juga menjelaskan awal mula dirinya bergabung dengan FPI. Hubungan Munarman dan FPI berawal ketika gabungan laskar ormas Islam mengawal aksi penolakan harga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Munarman juga sempat diproses hukum bersama Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. “Saya sebagai penanggung jawab kelaskaran harus bertanggung jawab atas bentrok itu, sempat diadili, kebetulan bareng Habib Rizieq, diproses, divonis satu tahun enam bulan.”

Di dalam kurungan, sel Munarman bersebelahan dengan sel HRS. Sembilan bulan lamanya, hingga dipindah ke lapas terbuka. Menurut Munarman ia belajar banyak aspek ilmu keagamaan dari HRS, mulai dari tata cara salat sama pemikiran dan perbedaan mazhab.

Keluar dari lapas pada 2009, Munarman makin intensif berkomunikasi dengan HRS. Munarman pun ditawarkan aktif bergabung di FPI. “Sejak 2009 akhirnya saya itu ketua-ketua bidang. Pertama Ketua Bidang Nahi-Munkar 2009-2013,” Munarman.

“Setelah itu, karena referensi saya cukup banyak, saya jadi Ketua Badan Ahli, jadi dewan pakar sampai 2015, dan dilanjut sebagai Ketua Bidang Keorganisasian untuk menata FPI agar strukturalnya lebih lincah. Sudah itu beres, saya diminta untuk jadi sekum,” terangnya.

Peran Munarman di FPI yang utama adalah sebagai pengatur strategi. “Karena umat Islam mayoritas, bangsa kita juga kelemahan utamanya di manajemen strategisnya. Kita kalah dengan barat karena kita lemah dalam strategi pencapaian. Artinya membuat rencana strategi tidak punya kemampuan, melaksanakan apalagi,” pungkasnya.

Nama Munarman mencuat disebut terlibat dengan ISIS karena adanya rekaman video kehadirannya dalam pembaiatan ISIS.

Editor: Shakira.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *