Paribasa Urang Banjar: Kaya Manabang Tungkat Rumah

Banua.co – Kaya Manabang Tungkat Rumah, demikian bunyi salah satu Paribasa Urang Banjar. Paribasa ini adalah ungkapan bubuhan urang Banjar ketika menanggapi sesuatu yang terjadi. Apa maksudnya? Simak penjelasan pemerhati budaya Banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid.

Paribasa Urang BanjarMelakukan perbuatan bodoh, tidak diperhitungkan (naif), sehingga merugikan diri sendiri. Berbuat ceroboh, tanpa dipikirkan terlebih dahulu, akhirnya membawa resiko bagi diri dan bahkan keluarga, itulah yang dimaksud kaya manabang tungkat rumah.

Seperti memotong – menebang tonggak rumah, begitu arti harfiahnya. Rumah tradisional masyarakat banjar, sebagian besar merupakan rumah panggung, berdiri di atas tongkat kayu yang berfungsi sebagai penyangga. Kalau tongkat tersebut dipotong, robohlah rumah tersebut. Bahkan beberapa bagian saja dari tongkat bermasalah, berakibat fatal bagi bangunan keseluruhan. Dipinjam mengilustrasikan satu perbuatan bodoh – ceroboh, yang dapat merugikan diri sendiri.

Bangunan rumah, boleh jadi dikiaskan sebagai cita-cita hidup – satu bentuk masa depan yang harus disiapkan sebaik-baiknya. Bisa pula berupa kebahagiaan bersama dari keluarga, yang harus dijaga – dirawat, jangan sampai ada yang merusaknya, karena berdampak bagi semua anggota keluarga.

Banyak perbuatan ceroboh – tanpa perhitungan, yang kemudian ditanggung seumur hidup, meruntuhkan cita-cita dan kebahagiaan keluarga. Ada banyak kasus sebagai contoh, misalnya tergoda narkoba, akhirnya terjerat masalah yang merugikan diri sendiri dan keluarga. Bahkan seluruh keluarga tersandera akibat narkoba tersebut. Atau melakukan korupsi, hasil korupsi yang tidak seberapa, harus ditanggung – mengorbankan kehormatan keluarga. Ketika ditangkap, tamatlah riwayat, bukan hanya diri pribadi, tapi seluruh keluarga. Pun dalam berbagai kasus tidak penipuan, menyebabkan kehilangan harkat dan martabat pribadi – keluarga, menanggung malu yang sangat besar. Termasuk berbagai tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, sodomi, penganiayaan. Semua tindakan bodoh tersebut, sebenarnya telah menghacurkan seluruh bangunan hidup yang seharusnya dijaga.

‘Paribasa urang Banjar’ ini memberikan pelajaran agar berhati-hati dalam segala tindakan, jangan berbuat bodoh. Sekecil apapun tindakan, harus mempertimbangkan banyak hal. Apalagi tindakan tersebut menimbulkan resiko besar yang dapat menghacurkan kehormatan diri dan keluarga.

Juga mengingatkan agar selalu menjaga keluarga. Segala pondasi keluarga berupa nama baik, kepercayaan, nilai-nilai luhur kekerabatan, dan lain sebagainya, harus dirawat sedemikian rupa, jangan sampai dihancurkan. Sedikit saja ada kecerobohan, resikonya sangat besar, kaya manabang tungkat rumah. (nm)

Baca Juga: Paribasa Urang Banjar: Harang Habis, Panggangan Kada Masak.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *