Paribasa Banua Banjar: Kandal Kulit Pada Isi

Banua.co – Paribasa Banua Banjar berikut ini masih sering kita dengar hingga hari ini. Kandal kulit pada isi, demikian bunyinya. Apa maksud paribasa bubuhan urang Banjar ini? Simak refleksi budaya berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Paribasa Banua Banjar: Kandal Kulit Pada IsiHanya penampilan luar – fisik saja yang bagus, sedangkan isi di dalam berupa kemampuan, budi pekerti dan lain sebagainya, tidak sesuai. Lebih menonjolkan tongkrongan – gaya, sementara dalamnya kosong melompong, itulah yang dimaksud kandal kulit pada isi.

Tebal kulit dari pada isi, begitu arti harfiahnya paribasa Banua Banjar ini.

Ada beberapa jenis buah yang kulitnya sangat tebal, sementara isi dalamnya sangat tipis. Sementara kulit tebal tersebut dibuang, hanya isinya yang dimanfaatkan. Bila isinya sangat tipis, terasa rugi membeli buah tersebut. Durian, jeruk bali, dan jenis buah lainnya, pada varian tertentu lebih tebal kulit dari pada isi. Dipinjam menjadi perumpamaan untuk melihat manusia, penampilannya saja terlihat bagus, sedangkan isinya tidak sesuai.

Rupanya, banyak orang mengutamakan penampilan, pencitraan, gaya. Seolah-olah – seakan, padahal tidak seperti itu. Di muka publik sangat ideal, tapi di belakang, isi dalamnya bukan seperti itu. Apalagi zaman sekarang, pencitraan menjadi pokok, walau kenyataannya bertolak belakang. Lebih mengutamakan penampilan, sedangkan isi diabaikan.

Media sosial lebih memperparah kecendrungan suka menonjolkan kulit – penampilan fisik. Kesan – citra, dikemas sedemikian rupa menggambarkan citra yang diinginkan. Terkadang memaksakan diri demi up date status – demi konten. Bergaya jauh dari senyatanya. Seolah kaya – seakan sibuk, senyatanya tidak seperti itu. Dunia sedang mengemas kepura-puraan, dan memberi tempat sangat tinggi pada kepalsuan. Karena sebagaimana kebohongan, kepura-puraan yang diulang-ulang bisa dianggap kebenaran. Entah apa yang dicari dengan kebohongan-kebohongan itu? Apa yang dikejar dari up date status dan gila konten tersebut? Tentu saja hasil akhirnya sekedar citra, bukan senyatanya.

Melalui ungkapan ini, kebudayaan ingin mengingatkan untuk lebih memperhatikan isi dari pada kulit luar. Lebih baik penampilan sederhana – bersahaja, tapi isinya mengagumkan. Dari pada penampilan mengagumkan sedangkan kenyataannya memprihatinkan.

Hiduplah apa adanya, lalu terus memperbaiki isi agar semakin berkualitas dari waktu ke waktu. Jangan takut kalah dalam penampilan, karena berlian, sekalipun berada di dasar lumpur, tetaplah berlian. Percuma hanya hebat pada penampilan, bila kenyataannya kandal kulit pada isi. (nm)

Baca Juga: Paribasa Banjar: Harang Habis, Panggangan Kada Masak.

Baca Juga: Paribasa Banua Banjar: Mamasang Lukah di Karing.

Baca Juga: Telor Mata Sapi, Ayam Nang Mahajan Sapi Nang Ampun Ngaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *