Hukum Mengatakan: Tuhanku dan Tuhanmu Sama

Apa hukumnya mengatakan kepada pemeluk agama lain, ‘Tuhanku dan Tuhanmu sama’? Demikian tema sebuah diskusi ringan yang berlangsung dalam sebuah group Watshapp.

Oleh: Khairullah Zain

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Hukum Mengatakan: Tuhanku dan Tuhanmu SamaMenurut prinsip ilmu logika, sebelum kita menghakimi sesuatu (me-tashdiq) maka yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah menggambarkan secara jelas tentang apa yang akan dihakimi (men-tashwir). Prinsip inilah yang dipegang para peneliti, ulama, dan pegiat ilmu pengetahuan. Karenanya, bila kita baca dalam kitab-kitab ataupun buku-buku ilmiah, pengenalan atau penjelasan alias ta’rif dari kata kunci yang dibahas selalu menempati posisi awal.

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa ternyata kata Tuhan bila dipadankan dengan Bahasa Arab, ternyata tidak memiliki satu kata padanan saja. Tuhan bisa berarti ‘Rabb’, ‘Ilah’, ataupun ‘Al Ma’bud bi Haqq’.

Kalimat ‘Rabbul ‘Aalamin’ di ayat kedua surah Al Fatihah diterjemahkan dengan ‘Tuhan Semesta Alam’. Kata ‘Ilah’ pada kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah’ juga diterjemahkan dengan ‘Tuhan’.

Menurut Guru Busthomi, kata Tuhan maknanya adalah ‘Al Ma’bud bi Haqq’ (yang berhak disembah dengan sebenarnya).

Dengan demikian, kalimat ‘Tuhanku dan Tuhanmu sama’ setidaknya memiliki 3 makna:

1. Rabb-ku dan Rabb-mu adalah sama. Ini sesuai dengan ayat kedua surah Al Fatihah, bahwa Rabb seluruh alam adalah sama, yaitu Dzat yang bernama Allah.

2. Ilah-ku dan Ilah-mu sama. Ini bila kita memaknai kata Tuhan adalah ‘Ilah’.

3. Yang berhak disembah dengan sebenarnya olehku dan olehmu adalah sama. Ini bila menerjemahkan kata Tuhan adalah ‘Al Ma’bud bi Haqq’.

Kemudian, apakah hukumnya mengucapkan kalimat ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah sama’ terhadap pemeluk agama lain? Ini kita kembalikan pada apa makna dari kalimat tersebut.

Apabila maknanya adalah ‘Rabb-ku dan Rabb-mu sama’, maka sudah jelas sesuai dengan ayat kedua surah Al Fatihah.

Apabila maknanya adalah ‘Ilah-ku dan Ilah-mu adalah sama’, maka ini dikembalikan kepada arti kata ‘Ilah’ itu sendiri menurut Bahasa Arab. Umumnya kata ‘Ilah’ dimaknai dengan ‘Al Ma’bud bi Haqq’ (yang berhak disembah dengan sebenarnya).

Mengatakan atau menganggap bahwa yang berhak disembah oleh siapa saja, apa pun agamanya, adalah sama, tentunya ini sesuai dengan keyakinan dalam agama Islam.

Islam meyakini bahwa yang berhak disembah adalah Dzat Wajibul Wujud yang bernama Allah (dan 98 nama lainnya). Terlepas orang menyembahNya atau tidak, meyakiniNya atau tidak, hanya Dia yang behak disembah.

Dengan demikian, mengatakan ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah sama’ tidak bertentangan dengan keyakinan dalam agama Islam.

Islam meyakini bahwa Tuhan seluruh makhluk adalah sama. Terlepas dari makhluk itu meyakiniNya atau tidak, menyembahNya atau tidak, menaatiNya atau tidak.

Jadi, mengatakan ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah sama’ terhadap orang yang berbeda agama, tidaklah bertentangan dengan keyakinan dalam agama Islam. Tentu saja hukumnya tidak haram, apalagi menyebabkan kafir ataupun kesyirikan.

Karenanya, manakala Nabi Musa ditanya Fir’aun tentang siapa Tuhan, dia menjawab bahwa Tuhan pencipta langit dan bumi adalah “Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu”. Sila cek Surah Asy Syu’ara ayat 23 – 29.

Nabi Musa tidak membedakan antara Tuhannya dengan Tuhan Fir’aun dan pengikutnya. Karena Dzat Wajibul Wujud yang kita sebut dengan nama ‘Allah’, adalah Tuhan semesta alam.

Menurut Anda?

Editor: Shakira.

Baca Juga: Hukum Memasuki Gereja dan Tempat Ibadah Agama Lain.

Baca Juga: Jelang Natal, Habib Ali Al Jufri Ucapkan Selamat Natal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *