Terlanjur Bayar Zakat Fitrah Sebelum Mudik, Wajib Bayar Lagi?

Banua.co – Membayar zakat fitrah mesti di tempat mana seseorang menemui waktu wajib bayar. Jadi, misalnya seseorang yang dalam perjalanan, maka dia wajib membayar zakat fitrah ketika sampai waktu wajib bayar, di tempat mana dia berada ketika itu. Masalahnya kemudian, bagaimana bila seseorang telah terlanjur membayar sebelumnya? Misalnya orang yang menghabiskan sebagian waktu Ramadan di kota A, kemudian mendekati akhir hingga awal Syawal dia sedang berada di kota B. Sementara, dia sudah bayar zakat di kota A. Berikut penjelasannya.

Oleh: Khairullah Zain

Khairullah ZainSebelumnya, zakat fitrah adalah salah satu kewajiban seorang muslim. Setiap muslim dan muslimah yang memiliki harta atau makanan pokok cukup untuk bertahan hidup sehari semalam, wajib membayar zakat fitrah.

Menurut para ulama, zakat fitrah wajib ditunaikan bila seseorang menemui sebagian waktu di bulan Ramadan dan sebagian waktu di bulan Syawal. Dengan begitu, orang yang wafat sebelum waktu berbuka puasa di hari akhir Ramadan, ataupun lahir sesudah waktu berbuka di hari tersebut, tidak wajib bayar atau dibayarkan zakat fitrahnya. Karena orang yang pertama, dia tidak menemui sebagian waktu di bulan Syawal. Sementara orang yang nomer dua, tidak menemui sebagian waktu di bulan Ramadan.

Zakat fitrah menurut Madzhab Syafi’i boleh dibayarkan sejak awal Ramadan, meskipun ketika itu belum masuk waktu wajib. Sebagian ulama madzhab lain berpendapat zakat fitrah baru boleh dibayarkan beberapa hari menjelang Ramadan berakhir.

Kendati demikian, membayar zakat fitrah harus di tempat mana seseorang menemui waktu wajib bayar. Jadi, misalnya seseorang yang dalam perjalanan, maka dia wajib membayar zakat fitrah ketika sampai waktu wajib bayar, di tempat mana dia berada ketika itu.

Seorang pemudik, bila telah tiba di kampung halaman sebelum waktu wajib bayar, maka dia wajib bayar zakat fitrah di tempat tersebut. Namun, bila tiba waktu wajib bayar ketika dia masih di perjalanan, maka di tempat mana dia berada, di situlah dia membayarnya.

Masalahnya kemudian, bagaimana bila seseorang telah terlanjur membayar sebelumnya? Misalnya orang yang menghabiskan sebagian waktu bulan Ramadan di kota A, kemudian ketika menjelang akhir Ramadan dan awal Syawal dia berada di kota B. Sementara, dia sudah bayar zakat di kota A.

Berikut penjelasan Syekh Sulaiman Al Jamal:

 حتى لو عجل الفطرة ثم كان عند الوجوب فى بلد أخر أجزأ أو لا ولا بد من الإخراج ثانيا إذا كان عند الوجوب ببلد أخر، فيه نظر إهـ. سم على حج والأقرب الأول للعلة المذكورة في كلام الشارح فإن قضيتها أنه لا فرق بين زكاة المال والبدن ع ش. 

Sehingga, andai seseorang mendahulukan bayar zakat fitrah kemudian ketika tiba waktu wajib bayar dia berada di negeri lain, apakah yang sudah dibayarkannya memenuhi kewajiban ataukah belum sehingga dia mesti membayar lagi bila dia menemui waktu wajib di negeri lain. Dalam hal ini ada pertimbangan. Demikian kutipan dari Syarah Syekh Ahmad bin Qasim Al Ibadi (w. 994) terhadap kitab karya Syekh Ibn Hajar Al Haytami (w. 974). Pendapat yang lebih mendekati (kebenaran) adalah yang pertama (yaitu zakat yang sudah dibayarkannya sudah memenuhi kewajiban sehingga tidak perlu membayar lagi), karena adanya alasan yang disebutkan dalam ucapan pensyarah kitab. (Hasyiyah Al Jamal, vol.II, hal.297).

Penjelasan lainnya bisa kita simak penjelasan Sayyid Muhammad bin Abdullah Al Jurdani dalam Fath Al ‘Allam bi Syarh Mursyid Al Anam:

 فمن غربت عليه شمس أخر يوم من رمضان بمحل وجب عليه أن يخرج فطرته من غالب قوت ذلك المحل ويلزمه صرفها لمستحقيه لأن نقل الزكاة لا يجوز لغير الحاكم على المعتمد نعم، لو عجلها بمحل ثم سافر لأخر فغربت عليه شمس فيه أخر يوم من رمضان أجزأت ولا يلزمه أن يخرجها فى الأخر ثانيا كما نقله الحفنى عن الشبراملسى.

Siapa yang menemui matahari tenggelam di hari akhir Ramadan di suatu tempat, maka dia wajib membayar zakat fitrahnya dengan makanan pokok umumnya penduduk daerah tersebut, dan menyerahkan zakat fitrahnya kepada yang berhak menerima di lokasi tersebut. Karena menurut pendapat yang diperpegangi Madzhab Syafi’i memindahkan zakat tidak diperbolehkan kecuali dilakukan oleh pemerintah. Namun, andai seseorang mendahulukan bayar zakat di suatu tempat (sebelum tiba waktu wajib), kemudian dia bepergian ke daerah lain, maka dia menemui matahari tenggelam (di hari akhir Ramadan) di daerah tersebut, maka yang telah dibayarkan telah memenuhi kewajiban dan tidak wajib membayar kembali. Demikian sebagaimana dikutip Al Hifni dari Asy Syibramilisi. (Fath Al ‘Allam, vol.III, hal.301).

Editor: Shakira.

Baca Juga: Relasi Puasa dengan Zakat Fitrah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *