Beda Domisili Antara Orang Yang Membayarkan dan Dibayarkan Zakat Fitrah

Bagaimana zakat fitrah seorang anak yang tinggal jauh dari ayahnya atau seorang isteri yang tinggal berjauhan dari suaminya? Apakah seorang suami atau ayah membayarkan zakat fitrah di tempat mana dia berada ataukah dia berkewajiban membayar di tempat isteri atau anaknya berada. Apakah yang diperhitungkan dalam hal ini tempat tinggal orang yang berkewajiban membayarkan zakat fitrah ataukah tempat tinggal orang yang dibayarkan?

Oleh: Khairullah Zain *)

Khairullah ZainSebelumnya, pada prinsipnya setiap orang yang wajib diberi nafkah maka wajib pula dibayarkan zakat fitrah. Misalnya, seorang ayah berkewajiban memberi nafkah anaknya yang belum mencapai usia baligh, maka wajib pula membayarkan zakat fitrahnya. Dengan prinsip ini, bila seorang anak telah mencapai usia baligh, maka sang ayah tidak wajib lagi membayarkan zakat fitrahnya. Bahkan, menurut para ulama bila seorang ayah membayarkan zakat fitrah anak yang sudah mencapai usia baligh tanpa seizin anaknya tersebut, maka tidak sah dan tidak gugur kewajiban zakat fitrah anaknya.

Adapun zakat fitrah seorang isteri yang patuh pada suaminya, menurut pendapat mayoritas ulama -selain madzhab Hanafi- merupakan tanggung jawab suaminya, sebab nafkahnya merupakan kewajiban suaminya. Adapun menurut madzhab Hanafi, zakat seorang isteri tidak ditanggung oleh suaminya, dia wajib membayar sendiri zakat fitrahnya.

Menurut madzhab Syafii, meski seorang isteri memiliki harta sendiri atau kaya dan suaminya dalam keadaan fakir miskin serta tidak mampu membayarkan zakat fitrahnya, maka si isteri tidak wajib membayar zakat fitrah dirinya sendiri, dan suaminya pun tidak wajib membayarkannya karena ketidakmampuannya. Hal ini berbeda dengan nafkah yang tetap wajib diberikan oleh suami, meski ia miskin. Kendati demikian, isteri yang memiliki harta sendiri ini disunnahkan membayar zakat fitrah dirinya.

Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani dalam Nihayah Az Zain menyebutkan:

الزوجة الغنية التي في طاعة الزوج المعسر تجب نفقتها دون فطرتها، لأن المخاطب بفطرتها زوجها والحال أنه معسر فلا يجب عليها إخراج فطرة نفسها نعم يسن لها ذالك

“Seorang isteri yang berada dalam ketaatan terhadap suaminya yang susah (miskin) tetap wajib nafkahnya, tapi tidak zakat fitrahnya. Karena yang dituntut syariat untuk membayar zakat fitrahnya adalah suaminya, sementara suaminya dalam kondisi susah (yang membuat kewajiban menjadi gugur). Maka tidak wajib bagi seorang isteri membayar zakat fitrah dirinya sendiri. Akan tetapi disunnahkan bagi isteri yang demikian itu (membayar zakat fitrah dirinya sendiri)”.

Kemudian, kewajiban membayar zakat fitrah adalah di daerah mana seseorang menemui tenggelamnya matahari akhir Ramadan. Jadi, meskipun seseorang tinggal di negeri A, namun dia menemui tenggelamnya matahari akhir Ramadan di negeri B, maka di negeri itulah dia wajib membayar zakat fitrahnya.

Baca Juga: Terlanjur Bayar Zakat Fitrah Sebelum Mudik, Wajib Bayar Lagi?

Nah, bagaimana zakat fitrah seorang anak yang tinggal jauh dari ayahnya atau seorang isteri yang tinggal berjauhan dari suaminya? Apakah seorang suami atau ayah membayarkan zakat fitrah di tempat mana dia berada ataukah dia berkewajiban membayar di tempat isteri atau anaknya berada. Apakah yang diperhitungkan dalam hal ini tempat yang berkewajiban membayarkan zakat fitrah ataukah yang dibayarkan zakat fitrahnya?

Menurut Syaikh Nawawi Al Bantani dalam Nihayah Az Zain, wajib membayarnya di tempat atau di lokasi orang yang dibayarkan zakat fitrahnya dengan makanan pokok umumnya penduduk negeri orang yang dibayarkannya. Berikut kutipan penjelasan beliau:

ولو اختلف محل المؤدّي والمؤدّى عنه فالعبرة بغالب قوت محل المؤدّى عنه، ويجب صرفها إلى مستحقي محل المؤدّى عنه

“Seandainya berbeda domisili antara orang yang (berkewajiban) membayarkan zakat fitrah dengan orang yang (berhak) dibayarkan zakat fitrahnya, maka yang dipandang (dalam membayarkannya) adalah makanan pokok umumnya daerah orang yang dibayarkan zakat fitrahnya. Dan wajib menyalurkan zakat fitrah tersebut kepada orang yang berhak di daerah orang yang dibayarkan zakat fitrahnya”.

Demikian pula disebutkan dalam Hasyiyah Al Bujairmi ‘ala Al Khatib:

قوله : ( فالعبرة بغالب إلخ ) أي والعبرة أيضا بفقراء محل المؤدى عنه ، فمن يخرج عن غيره لا يدفع هذا المخرج لفقراء محل نفسه بل لفقراء محل المؤدى عنه .

“Perkataan Penyusun (maka yang dipandang adalah umumnya… dst) maksudnya yang dipandang pula (dalam menyalurkan zakat fitrah) adalah para fakir di daerah orang yang dibayarkan zakat fitrahnya. Maka sesiapa yang (wajib) mengeluarkan zakat fitrah untuk orang lain (maksudnya tanggungannya) jangan menyerahkan (zakat fitrah) yang dikeluarkannya ini kepada para fakir yang berada di daerahnya, tapi hendaknya kepada para fakir di lokasi orang yang dibayarkan zakat fitrahnya”.  

Dengan demikian, misal seorang pria berdomisili di Jakarta sedangkan anak dan isterinya tinggal di Banjarmasin, maka zakat fitrah yang dikeluarkannya untuk anak dan isterinya tersebut harus dibagikan di Banjarmasin, bukan di Jakarta.

Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah pemerhati fikih dan sosial masyarakat, alumnus Jurusan Fiqhiyyah Ma’had ‘Aly Darussalam Martapura.

Klik di sini untuk membaca Kajian Fikih lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *