Paribasa Banjar: Manyambung Puntung (Rokok) Handap

Banua.co – Pernah mendengar paribasa Urang Banjar ‘Manyambung Puntung (Rokok) Handap’? Apa maksud dari ungkapan bubuhan Banua Banjar ini? Simak refleksi budaya Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid

Paribasa Urang BanjarMelakukan usaha sampingan guna menambah penghasilan utama yang kurang mencukupi. Ketika gaji tidak cukup, hanya mampu membiayai hidup setengah bulan, perlu ada tambahan penghasilan hingga akhir bulan, itulah yang dimaksud manyambung puntung handap.

Menyambung puntung rokok yang pendek, begitu arti harfiahnya. Karena puntungnya pendek, perlu ada sambungan agar bara dari puntung masih bisa dimanfaatkan, rokok pun terus dinikmati. Kebiasaan orang merokok, dipinjam melihat kehidupan.

Ketika pendapatan tidak mencukupi, layaknya puntung rokok pendek, tidak sampai memenuhi kebutuhan. Harus ada tambahan. Bagaimanapun caranya, mesti dicari, agar segala kebutuhan dapat ditutupi.

Gaji seorang karyawan besarannya sudah ditentukan, ada UMR (Upah Minimun Regional) atau UMP (Upah Minimun Provinsi), tapi apakah tempat kerja mampu membayar sejumlah itu?

Banyak yang belum mampu memenuhinya, lalu mensiasati dengan mengurangi jam kerja. Atau kalaupun mampu memenuhi, apakah nilainya benar-benar menutupi kebutuhan satu bulan? Nilai tersebut, seringkali masih belum cukup. Biaya hidup semakin tinggi – pendapatan tidak semakin bertambah. Untuk menutupinya, harus ada tambahan.

Melalui ungkapan ‘Manyambung Puntung Handap’ ini kebudayaan mengajarkan, agar mengambil inisiatif mencari tambahan pendapatan. Jangan pasrah dengan pendapatan yang ada, membiarkan kehidupan serba kekurangan. Carilah peluang.

Bila waktu kerja sudah terpakai 7 atau 8 jam, sisa jam lainnya dapat dimanfaatkan menggagas hal lain, atau minimal mampu mengurangi pengeluaran.

Bagaimana caranya? Para ahli ekonomi memberikan rumus sederhana, dengan cara memanfaatkan segala asset dimiliki sebagai cara mendapatkan tambahan penghasilan. Asset berupa rumah, tanah, kendaraan, atau yang lainnya, jangan menjadi beban. Manfaatkan semaksimal mungkin untuk didayagunakan.

Sayangnya, banyak yang membiarkan asset menjadi tidak berguna. Ada tanah, dibiarkan jadi semak belukar. Ada ruang tidak terpakai di rumah, dibiarkan kosong. Atau ada kendaraan, dibiarkan mengganggur, tidak dipakai mencari tambahan penghasilan. Akhirnya asset justru menjadi beban, bukan penolong. Lalu kalau asset pun tidak dimiliki, bagaimana? Manfaatkan asset berupa potensi diri yang sudah diberikan Tuhan. Akal – pikiran – fisik yang sehat, juga adalah asset. Berusahalah semaksimal kemampuan, untuk dapat manyambung puntung handap. (nm)

Editor: Shakira.

Simak Paribasa Banua Banjar sebelumnya: Kaya Paku Lantak di Papan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *