Bolehkah Tamu dan Undangan Membawa Pulang Suguhan?

Banua.co – Bolehkah tamu membawa pulang suguhan, baik makanan ataupun minuman? Menarik untuk kita kaji bersama. Karena kadang, ada yang suka mengantongi suguhan ketika bertamu ataupun menghadiri undangan.

Oleh: Khairullah Zain *)

Foto saya 150x150 - Bolehkah Tamu dan Undangan Membawa Pulang Suguhan?Sebelum membahas lebih jauh boleh tidaknya tamu membawa pulang suguhan yang dihidangkan, pertama yang harus kita bahas adalah tentang status kepemilikan.

Kenapa demikian? Karena hal ini terkait erat dengan status kepemilikan terhadap obyek (makanan atau minuman) yang disuguhkan. Apakah tamu punya hak milik atau tidak terhadap suguhan, ini yang kemudian menjadi pertimbangan boleh tidaknya tamu membawa pulang suguhan makanan atau minuman.

Berikut penjelasan Al Imam Yahya bin Syarf an Nawawi dalam Raudhatuth Thalibin:

هل يملك الضيف ما يأكله؟ وجهان. قال القفال: لا بل هو إتلاف بإذن المالك، وللمالك أن يرجع ما لم يأكل. وقال الجمهور: نعم

“Apakah tamu mempunyai hak milik atas yang dimakannya (dalam perjamuan) Dalam hal ini ada dua pendapat (wajhani): (1) Menurut Imam Al Qaffal, tidak mempunyai hak milik. Tamu hanya mendapat izin dari pemiliknya untuk “itlaf” (lebih mudahnya kita maknai ‘mengonsumsi’). Dan (dalam hal ini) si pemilik boleh menarik kembali (izin mengonsumsi tersebut) selama belum dimakan. (2) Namun menurut mayoritas ulama, tamu punya hak milik.”

Dari penjelasan Al Imam An Nawawi di atas, ternyata para ulama berbeda pendapat menyikapi suguhan yang dihidangkan kepada tamu. Ada yang mengatakan bahwa tamu tidak mempunyai hak milik, hanya mendapat izin mengonsumsi. Ini adalah pendapat Imam Al Qaffal. Nah, kalau kita berpegang pada pendapat ini, maka tamu tidak berhak membawa pulang suguhan. Namun menurut mayoritas ulama, tamu mempunyai hak milik. Pertanyaan selanjutnya, sejauh mana hak milik tamu terhadap suguhan?

Oke, sebelum melanjutkan bahasan penting digarisbawahi, Imam An Nawawi menggunakan istilah “wajhani” (dua wajah) ketika menceritakan perbedaan pendapat di atas. Maksud ‘wajhani’ ini adalah perbedaan para ulama pengikut Madzhab Syafi’i yang melahirkan pendapat berdasarkan prinsip-prinsip standar dan nash-nash dalam Madzhab Syafi’i. Bila seorang ulama, meski bermadzhab Syafi’i, mengeluarkan pendapat tidak berdasarkan prinsip dan nash standar Madzhab Syafi’i, maka nantinya tidak dinamakan “wajh”.

Kita lanjut. Bila kita ikut pendapat mayoritas ulama yang mengatakan tamu atau undangan punya hak milik terhadap suguhan yang dihidangkan, maka sejak kapan hak milik itu didapatkannya?

Mari kita simak penjelasan Al Imam An Nawawi berikutnya:

وبم يملك؟ فيه أوجه. قيل: بالوضع بين يديه، وقيل: بالأخذ، وقيل: بوضعه في الفم، وقيل: بالازدراد يتبين حصول الملك قبيله. 

وضعف المتولي ما سوى الوجه الأخير. وعلى الأوجه ينبني التمكن من الرجوع.

“Pertanyaannya kemudian, dengan sebab apa (sejak kapan) tamu mempunyai hak milik?

Dalam hal ini ada beberapa pendapat (awjuh): (1) Dengan sebab meletakkan (suguhan) di hadapannya, (2) dengan sebab mengambilnya, (3) dengan sebab meletakkan di mulut, (4) dengan sebab menelan jelaslah kepemilikan sesaat sebelumnya (ketika sudah di mulut). 

Imam Mutawalli menganggap selain pendapat terakhir (nomer 4) statusnya dha’if (lemah). Dengan mengacu pendapat-pendapat tersebut maka memungkinkan (bagi penjamu) untuk menarik kembali (makanan yang disuguhkan sebelum hak milik berpindah dari penjamu atau pengundang kepada tamu atau undangan).”

Dari empat pendapat (awjuh) di atas, pendapat Imam Al Mutawalli yang paling ketat. Menurut dia, pendapat yang kuat adalah bahwa tamu atau undangan hanya mempunyai hak milik ketika suguhan sudah berada dalam mulutnya.

Konsekuensi dari belum perpindahnya hak milik dari penjamu atau pengundang kepada tamu atau undangan adalah penjamu atau pengundang berhak menarik kembali suguhan yang dihidangkan atau memberikannya kepada orang lain.

Kemudian, bagaimana bila hak milik telah berpindah. Misalnya kita ikut pendapat yang mengatakan bahwa tamu atau undangan telah mempunyai hak milik sejak atau dengan sebab mengambilnya. Apakah dengan begitu dia mempunyai hak untuk memberikan kepada orang lain, atau mengantongi dan membawa pulang? Berikut penjelasan lanjutan:

قلت: قال صاحب «البيان» : إذا قلنا: يملكه بالأخذ أو بالوضع في الفم، فهل للآخذ إباحته لغيره والتصرف فيه بغير ذلك؟ وجهان : الصحيح [وقول الجمهور] لا يجوز كما لا يعير المستعار. وقال الشيخ أبو حامد والقاضي أبو الطيب: يجوز أن يفعل ما يشاء من البيع والهبة وغيرهما؛ لأنه ملكه. قال ابن الصباغ: هذا لا يجيء على أصلهما. والله أعلم.

“Aku (Imam An Nawawi) mengatakan, penulis kitab Al Bayan berkata, bila kita katakan tamu mempunyai hak milik dengan mengambil atau (bahkan) dengan sebab meletakkan di mulut, maka (pertanyaannya) apakah boleh bagi tamu yang telah mengambil (yang berarti mempunyai hak milik) memberikan kepada orang lain dan mentasharrufkan (menggunakan) selain hal tersebut (mengonsumsi sendiri)?

Dalam hal ini ada dua pendapat (wajhani): Pendapat yang shahih (ini pendapat mayoritas) tidak boleh, sebagaimana tidak boleh meminjamkan barang pinjaman.

Namun, Syaikh Abu Hamid dan Al Qadhi Abu At Thayyib mengatakan boleh melakukan apa yang ia kehendaki, yaitu menjual, memberikan (kepada orang lain), dan yang lainnya. Karena ia telah mendapat hak milik.”

Selain dua pendapat di atas, ada pendapat ketiga, yaitu meski tamu mempunyai hak milik namun hak miliknya hanya untuk mengonsumsi bagi dirinya sendiri, bukan membawa pulang atau memberikan kepada pihak lain.

Menurut pendapat nomer tiga ini, seorang tamu tidak boleh pulang makanan atau minuman yang meski telah disuguhkan kepadanya, terkecuali jika dia mengetahui penjamu atau pengundang mengijinkannya.

الثالثة: ليس للضيف التصرف في الطعام بما سوى الأكل، فلا يجوز أن يحمل معه منه شيئا، إلا إذا أخذ ما يعلم رضى المالك به، ويختلف ذلك بقدر المأخوذ وجنسه، وبحال المضيف والدعوة

“Pendapat nomer tiga, tidak boleh bagi tamu men-tasharrufkan makanan yang disuguhkan selain memakannya. Maka tidak boleh (bagi tamu) membawa kecuali sebatas yang diketahuinya bahwa penjamu mengizinkannya.

Mengenai hal ini (andai kita anggap diiznkan membawa pulang) tidak bisa disamaratakan terkait kadar atau ukuran (berapa banyak) dan jenis yang boleh diambil (untuk dibawa). Dan terkait kondisi tuan rumah dan undangan.”

Tentu saja, meski tamu meyakini bahwa penjamu atau pengundang mengizinkan suguhan atau hidangan untuk diambil atau dinikmati bahkan dibawa pulang, dia harus memperhatikan dan mempertimbangkan apa saja kira-kira yang boleh diambil untuk dibawa, juga harus memperhatikan situasi dan kondisi, masih tersedia banyak atau tidak suguhan untuk tamu atau undangan berikutnya.

Bagaimana bila kita ragu, apakah kiranya pengundang atau penjamu mengizinkan ataukah tidak suguhan yang dihidangkan diambil untuk dibawa pulang?

فإن شك في وقوعه في محل المسامحة، فالصحيح التحريم، وليس للضيف إطعام السائل والهرة، ويجوز أن يلقم الأضياف بعضهم بعضا، إلا إذا فاوت بينهم في الطعام، فليس لمن خص بنوع أن يطعموا منه غيرهم، ويكره للمضيف أن يفعل ذلك.

Bila ragu bahwa ia dimaafkan (diizinkan memanfaatkan selain mengonsumsi sendiri), maka menurut pendapat yang shahih hukumnya haram (memanfaatkan selain memakan atau mengonsumsi sendiri). (Ketika hukumnya haram), maka tidak boleh bagi tamu memberi pengemis, (bahkan juga) kucing.

(Namun) diperbolehkan saling membagi makanan (yang disuguhkan) antar tamu. Kecuali bila antar tamu ada perbedaan makanan yang disuguhkan (sesuai status tamu). Maka tidak boleh bagi tamu yang dikhususkan dengan jenis makanan tertentu (misal yang pangkatnya lebih tinggi makanannya lebih mewah) memberikan kepada tamu lainnya (yang beda jenis makanannya). Namun, bagi tuan rumah makruh hukumnya melakukan hal ini (membedakan jenis makanan antar tamu).”

Demikian penjelasan lengkap Al Imam An Nawawi dalam kitab Raudhatuth Thalibin wa ‘Umdatul Muftin mengenai hukum menghadapi suguhan atau hidangan ketika bertamu atau menghadiri undangan perjamuan.

Wallahu Subhanahu wa Ta’ala A’lam.

Editor: Shakira.

*) Penulis adalah alumnus Jurusan Fiqhiyyah Ma’had ‘Aly Darussalam, pemerhati fikih dan sosial masyarakat, pengisi kajian rutin PCI NU Western Australia.

Baca Juga: Wanita Sholat dengan Dagu Terbuka, Tidak Sah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *