Paribasa Bubuhan Banjar: Kaya Babisul Burit

Banua.co – Salah satu paribasa yang akrab dengan bubuhan Banjar: Kaya Babisul Burit. 

Apa maksud paribasa bubuhan Banjar ini? Berikut ulasan pemerhati budaya Banjar, Noorhalis Majid.

Oleh: Noorhalis Majid*)

Paribasa Urang BanjarTidak betah – gelisah, rasanya ingin pergi saja, tidak ingin berlama-lama. Situasi terasa tidak nyaman, kurang sesuai suasana hati, sehingga ingin cepat belalu – menjauh. Duduk gelisah, berdiri pun resah, tidak memungkinkan bertahan, apalagi diam tenang, itulah yang dimaksud kaya babisul burit.

Seperti ada bisul pada pantat, begitu arti paribasa bubuhan Banjar ini. Bisa dibayangkan kalau di pantat ada bisul, pasti tidak bisa duduk. Setiap kali duduk, bisul meradang sakit, gelisah, selalu ingin berdiri dan pergi.

Dipinjam sebagai perumpamaan, menggambarkan seseorang yang tidak betah pada satu situasi. Boleh jadi karena situasinya memang tidak menyenangkan, atau yang bersangkutan tidak mau, atau tidak merasa menjadi bagian, sehingga ingin segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Boleh jadi pula segaja dibuat tidak betah, karena posisinya diincar orang lain.

Ada kalanya fisik berada pada satu tempat, sedangkan hati – pikiran dan jiwanya, ada pada tempat lain. Tubuhnya merasa tidak nyaman, tidak betah berlama-lama. Untuk menyindir hal tersebut, kebudayaan mengilustrasikan dengan ungkapan ini. Atau segaja dibuat tidak betah, agar segera berlalu. Mungkin karena memang ingin mengusirnya, berharap pergi – menjauh, diciptakanlah situasi tertentu agar tidak betah – layaknya seorang yang memiliki bisul pada pantatnya, selalu ingin beranjak dari tempat duduknya.

Tempat – kedudukan, dapat pula diibaratkan posisi – jabatan. Tidak semua membuat betah. Ada kalanya menggelisahkan. Kalaupun jabatan tersebut sudah ditempati – dijalani, tidak semua orang rela atau merelakan. Mungkin banyak yang iri, mengincar – memikirkan agar jabatan terlepas, diganti yang lain.

Orang bijak memberi nasehat, semakin tinggi jabatan, semakin banyak tantangannya. Layaknya pohon, semakin tinggi, semakin kencang angin meniupnya.

Ungkapan ini memberikan pelajaran, bahwa situasi sangat menentukan posisi. Belajarlah adaptif pada segala situasi, agar nyaman pada posisi apapun. Memang tidak semua posisi didapat sesuai harapan – keinginan, ada kalanya di luar kuasa, sehinga terpaksa menerimanya.

Pandai mengelola situasi untuk selalu kondusif, nikmati segala keadaan, karena semua hal berpulang pada diri sendiri, pada suasana hati, tidak mudah gelisah atau sengaja dibuat gelisah, kaya babisul burit. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI perwakilan provinsi Kalimantan Selatan.

Simak Ulasan Paribasa Banjar Sebelumnya: Jawaban Takasak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *