Meluruskan Kekeliruan Haji Denny Tentang NU

Banua.co – Sebagai orang yang pernah berinteraksi dan bahkan berkecimpung di PWNU Kalsel, saya menyayangkan sikap percaya diri Haji Denny tentang NU. Dari release-nya seolah-olah ia faham betul tentang NU Kalsel, berikut seluk-beluknya? Berita ini sangat menyesatkan. Berita ini juga sekaligus menggambarkan kekurang-jelian seorang ilmuan Prof. Dr. Denny Indrayana, yang kata para pendukungnya genuin dan brilliant. Bagaimana mungkin ia seceroboh seperti ini. 

Oleh: HM Syarbani Haira *)

Dua hari menjelang PSU Gubernur Kalsel, sejumlah media online memberitakan kunjungan “Haji Denny” –begitu dia mempopulerkan dirinya—salah satu pasangan calon gubernur Kalimantan Selatan, ke tokoh-tokoh NU. Di antara tokoh NU yang didatangi itu antara lain Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA, Sekjen PBNU Dr. Ir. Helmy Faisal Zaini (keduanya di Jakarta), serta Rais Syuriah PWNU Kalsel KH Muhammad Ramli (di Alabio, HSU, Kalsel).

Berita bersumber release Tim Pemenangan Pasangan 02 tersebut disertai sejumlah foto. Dari foto-foto yang beredar, Haji Denny hanya disertai Habib Banua, anggota DPD RI. Tokoh-tokoh lain yang juga turut mendampingi Haji Denny tersebut sama sekali tak terlihat.

Bagi orang-orang yang faham tentang Kyai Said Aqil Siraj, pasti bertanya-tanya melihat foto-foto tersebut. Bagaimana mungkin seorang Ketua Umum PBNU seperti Kyai Said Aqil Siraj, yang selama ini dikenal sebagai tokoh agama yang selalu tegas mengambil jarak dengan sejumlah lembaga keagamaan yang dianggap “radikal” (seperti Wahabi, HTI dan FPI). Tapi kali ini beliau menerima Habib Banua yang dulu pernah terkait dengan lembaga yang kini sudah dilarang pemerintah tersebut.

Apakah Kyai Said Aqil sudah berubah ? Tentu saja tidak. Kali ini beliau menghargai orang-orang yang turut mendampingi Haji Denny. Ditambah sejumlah elite PBNU yang menginfokan tentang calon Gubernur Kalimantan Selatan itu, bahwa ia menantu dari tokoh NU di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Seberapa dalam ke-NU-an Haji Denny? Saya sendiri sama sekali tak pernah tahu tentang Haji Denny ini. Walau sama-sama jemaat PMKS Konsul Yogyakarta, bahkan pernah satu almamater di UGM, saya baru kenal setelah sama-sama berkarier di tempat berbeda.

Selama di Yogya setahuku yang bersangkutan tak pernah berinteraksi dengan keluarga besar NU, khususnya PMII. Entah ketika dia tinggal di Australia ? Barangkali Prof Dr Kyai Nadirsyah Hosein, LL.M, MA, Rais Syuriah PCI NU Australia – New Zealand yang juga staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Monash, Australia, berkenan berbagi habar. Apakah Haji Denny pernah, minimal suka berinteraksi dengan sahabat-sahabat PCI NU Asutralia- New Zealand ?

Info Menyesatkan

Sebagai orang yang pernah berinteraksi dan bahkan berkecimpung di PWNU Kalsel, saya menyayangkan sikap percaya diri Haji Denny tentang NU. Dari release-nya seolah-olah ia faham betul tentang NU Kalsel, berikut seluk-beluknya?

Ringkasnya ia bilang begini, “ … Gubernur terdahulu, Gubernur Muhammad Said menyediakan asset tanah untuk pengembangan Nahdlatul Ulama, H. Rudy Arifin dengan membantu Gedung Dakwah, Gedung Kampus Universitas UNU, dan Gedung Pusat Bisnis PWNU Kalsel,” dst … dst.

Berita ini sangat menyesatkan. Berita ini juga sekaligus menggambarkan kekurang-jelian seorang ilmuan Prof. Dr. Denny Indrayana, yang kata para pendukungnya genuin dan brilliant. Bagaimana mungkin ia seceroboh seperti ini.

Beberapa saksi hidup bisa menjelaskan duduk perkaranya. Misal, soal lahan kampus Universitas NU Kalsel di kilometer 12, Jalan Ahmad Yani itu. Nonsen besar itu. NU sudah lama punya lahan di situ. Belakangan, ada tukar guling antara lahan milik NU Kalsel di belakang MIS Nurul Islam, yang berdampingan areal Dharma Praja, lahan perumahan Pemprov Kalsel. Lahan NU diserahkan, dan lahan milik keluarga besar HM Said sebagai imbalannya. Dokumen-dokumen yang ada boleh dilihat. Bahwa ada urusan administrasi yang belum kelar hingga hari ini, itu urusan dengan Allah SWT.

Kekeliruan lainnya adalah soal bantuan gedung. Ketika Gubernur Kalsel 2005 – 2015 dijabat oleh H. Rudy Arifin (hasil pilkada 2005 dan 2010), baru di periode kedua jabatannya ada dana hibah dari Pemprov Kalsel. Dana inilah yang kemudian dimanfaatkan buat membangun Gedung Dakwah tahun 2012. Kemudian di tahun 2014 ada lagi dana hibah, buat membangun gedung perkuliahan Universitas NU Kalsel (di belakang).

Tahun 2015 kembali diadakan Pilkada, yang formal dimenangkan Paman Birin. Di era beliau inilah lagi-lagi ada dana hibah, yang kemudian digunakan buat membangun Gedung Bisnis Kampus Universitas NU Kalsel tahun 2016.

Entah dari mana sumber yang dijadikan rujukan Saudara Prof Denny Indrayana tersebut? Yang pasti, dari kasus ini terlihat sebagai ilmuan ia masih ceroboh. Percaya begitu saja dengan data-data yang diperolehnya.

Semula saya ingin membiarkan saja kejadian ini. Tetapi karena kesalahan, bias merugikan NU. Akan ada banyak warga NU dan rakyat banua khususnya yang tertipu oleh info hoax ini. Selain menyesatkan, dan merusak sejarah. Dengan segala resiko, seperti dibully, saya pun ambil laptop, menulis naskah ini.

Namun, karena jelang PSU, maka naskah ini tak saya kirim langsung ke media. Saya menahan diri 2 (dua) hari, agar tak merusak dan mengganggu jalannya PSU. Saya memutuskan untuk mengekspose tengah hari saat PSU, usai pemilihan. Artinya warga banua yang terkena PSU itu sudah melaksanakan tugasnya masing-masing sebagai warga negara.

Siapa yang bakal menang? Saya tak mau berspekulasi. Jika Saudara Haji Denny di situ menyatakan akan memperhatikan NU, dan peradaban Kalsel yang maju dan sejahtera, bagi saya itu biasa saja sebagai sebuah janji politik. Semua orang bisa saja bilang begitu. Saya masih ingat, dulu ada calon kepala daerah yang bertekad akan membesarkan NU. Batin saya berkata, seperti apa kebesaran NU jika beliau menang. Nyatanya, setelah beliau menang, NU nggak istimewa-istimewa amat. Pengurus NU pun harus bekerja keras, untuk memajukan jam’iyah ‘titipan para awliya’ tersebut.

Di luar itu semua, ada fenomena baru dari seorang akademi UGM sekaliber Prof Dr Denny Indrayana. Dari yang dulu beliau tak pernah bahas NU, kini ujuk-ujuk care. Sebagai ilmuan, Haji Denny pintar menulis, baik di media atau buku-buku. Selama beliau sebagai penulis, saya belum menemukan beliau mau bahas NU. Itu sebabnya tak ada yang aneh ketika saat beliau mau peduli NU, wawasannya belum sempurna. Bahkan datanya rada amburadul. Kita lihat saja pasca PSU ini, apakah Prof Dr Denny Indrayana masih care dengan NU, seperti janjinya. Kita tunggu saja. Wallahu’alam bissawab!!

*) Penulis adalah Dosen Senior Universitas NU Kalsel.

Klik untuk membaca tulisan dan berita tentang Universitas NU Kalsel (Unukase).

Baca Juga: Politik (Kenyataan) di Kontestasi Politik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *