Kaya Mambabak Rumah; Paribasa Urang Banjar

Banua.co – Kaya mambabak rumah, demikian salah satu paribasa atau ungkapan urang Banjar. Apa maksudnya? Simak refleksi budaya banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid *)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Kaya Mambabak Rumah; Paribasa Urang BanjarKeharmonisan dalam berbagai segi kehidupan, sangat diperlukan. Bukan hanya menyangkut bunyi alat-alat musik yang memerlukan keharmonisan dalam satu orkestra, sehingga menghasilkan simponi yang indah. Segala potensi lingkungan sosial juga perlu keharmonisan, jangan tidak beraturan – kacau, apalagi sampai gaduh saling meniadakan. Kekacauan – ketidak harmonisan, itulah yang dimaksud kaya mambabak rumah.

Seperti orang membongkar rumah, begitu arti ungkapan Banjar ‘Kaya Mambabak Rumah’. Bisa dibayangkan kalau pernah menyaksikan membongkar rumah, apalagi rumahnya terbuat dari kayu, suaranya sangat gaduh, tidak beraturan, yang penting cepat selesai. Semua barang yang jatuh ke lantai, menimbulkan suara gaduh.

‘Kaya Mambabak Rumah’ dipinjam sebagai perumpamaan, menyindir satu keadaan yang tidak teratur – tidak harmoni, tidak saling mendukung – tidak selaras dan tidak saling memberi kesempatan.

Awalnya menyindir bunyi instrument musik yang sangat tidak nyaman di telinga. Yang bunyinya berlomba, saling berebut menonjolkan suaranya. Seperti beradu nyaring, melupakan keharmonisan, agar lahir bunyi yang indah. Yang penting suaranya saja menonjol, tidak mempedulikan bunyi lainnya.

Secara luas dapat dimaknai, bahwa hidup dan kehidupan juga harus teratur. Dengan segala tatanannya, semua mesti mendapat kesempatan yang sama, tidak saling meniadakan. Sekecil apapun wujudnya, harus mendapat peluang sama, agar memberi kontribusi sesuai potensi dimiliki.

Jangan sampai layaknya hukum rimba, hanya memberi kesempatan pada yang kuat. Siapa terkuat, berarti paling berkuasa. Siapa paling nyaring, dialah yang mendominasi. Lemah – kecil, akan tenggelam dan diambaikan.

Keharmonisan adalah keselarasan, kesesuaian antara satu bagian dengan bagian lainnya. Suatu keinginan saling memberi tempat, memberi kesempatan.

Adakah dalam kehidupan seperti itu? Karena sering kali kompetisi meniadakan kolaborasi, pertarungan mengabaikan perkawanan. Semua saling mendominasi, tidak mengapresiasi, sehingga jangan berharap ada keharmonisan, selalu saling mengalahkan.

Sebagaimana layaknya satu orkestra, agar semua bunyi harmoni, perlu seorang konduktor yang ahli. Begitu juga dalam kehidupan, konduktor adalah pemimpin, seorang yang mampu mengakomodir semua potensi. Semakin mampu menggali potensi dan menjadikannya kekuatan, semakin hebatlah pemimpin tersebut. Betapa indahnya bila semua yang berbeda menjadi harmoni, tidak ribut kaya mambabak rumah. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan, Pemerhati Budaya Banjar.

Baca Juga: Paribasa Orang Banjar: Kajal Barait.

Baca Juga: Paribasa Banua Banjar: Kandal Kulit Pada Isi.

Baca Juga: Telor Mata Sapi, Ayam Nang Mahajan Sapi Ampun Ngaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *