Kurban dengan Hewan Betina, Apa Hukum Fikihnya?

Banua.co – Berkurban dengan hewan kurban betina, apakah boleh dan sah? Mungkin ini menjadi pertanyaan sebagian orang. Karena umumnya orang Indonesia berkurban dengan menyembelih hewan kurban berkelamin jantan, baik sapi, ataupun kambing.

Oleh: Khairullah Zain *)

Khairullah ZainSebenarnya, tidak ada nash mengenai ketentuan jenis kelamin hewan kurban. Riwayat yang ada tentang kriteria hewan kurban adalah cukup usia dan tidak cacat.

Usia hewan kurban adalah yang sesuai dengan ketentuan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa aalih wa sallam, yaitu ‘musinnah’. Musinnah dalam bahasa Arab artinya telah tumbuh gigi, berasal dari kata sinnun yang artinya gigi.  

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَا تَذْبَحُوا إلَّا مُسِنَّةً إلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ.

Dari Jabir radhiyallahu’anh, beliau berkata, Rasulullah SAW. bersabda: “Janganlah kalian menyembelih hewan kurban, kecuali yang telah musinnah, terkecuali kalian sukar memperolehnya, maka sembelihlah domba yang jadza’ah.” (HR Muslim).

Bila kita perhatikan secara umur, maka hewan kurban berupa unta, minimal berusia 5 tahun dan telah masuk tahun ke-6. Bila sapi minimal berusia 2 tahun dan telah masuk tahun ke-3. Adapun bila domba berusia 1 tahun atau minimal berusia 6 bulan bagi yang sulit mendapatkan domba berusia 1 tahun. Sedangkan kambing minimal berusia 1 tahun dan telah masuk tahun ke-2.

Tidak cacat yang menjadi persyaratan adalah yang kondisinya sehat dan fisiknya normal. Yaitu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

عن البَراءِ بنِ عازبٍ رَضِيَ اللهُ عنه قال: سمعْتُ رسولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم- يقولُ: لا يجوز مِنَ الضحايا: العوراءُ البَيِّنُ عَوَرُها، والعَرْجاءُ البَيِّنُ عَرَجُها، والمريضةُ البَيِّنُ مَرَضُها، والعَجفاءُ التي لا تُنْقِي 

Dari al-Barra bin Azib radhiyallahu’anh, Rasulullah shalallahu’alaih wa aalih wa sallam bersabda, “Ada empat macam hewan yang tidak sah dijadikan hewan kurban, yaitu: yang (matanya) jelas-jelas buta (picek), yang (fisiknya) jelas-jelas dalam keadaan sakit, yang (kakinya) jelas-jelas pincang, dan yang (badannya) kurus lagi tak berdaging.” (HR. At-Tirmidzi no 1417 dan Abu Dawud no 2420).

Tidak adanya riwayat hadits yang menyebutkan ketentuan jenis kelamin hewan kurban, tidak serta merta menjadi dalil bahwa jenis kelamin tertentu tidak menjadi persyaratan bagi hewan kurban.

Kenapa demikian? Karena dalam hal ibadah, umumnya yang menjadi prinsip adalah kaidah:

الأصل في العبادات الحظر أو التوقف

“Hukum asal dalam perkara ibadah adalah terlarang ataupun berdiam (tidak bersikap)”.

Hukum asal berupa ‘terlarang’ atau minimal ‘berdiam’ ini hanya akan berubah bila ada dalil yang memerintahkan ataupun membolehkan. Ini berbeda dengan hukum asal dalam mu’amalat, yaitu boleh. Di mana dalam mu’amalat segala sesuatu diperbolehkan kecuali ada dalil yang melarang.

Bagaimana dengan jenis kelamin hewan kurban? Adakah landasan dalil yang bisa menjadi petunjuk?

Dalil Kebolehan Hewan Kurban Betina.

Menurut Al Imam an Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, berkurban dengan hewan betina tidak masalah. Ulama yang dianggap sebagai ‘Muharrir Madzhab’ (Editor Madzhab) di kalangan pengikut Madzhab Syafi’i ini menganalogikan kebolehan hewan kurban berjenis kelamin betina dengan kebolehan hewan akikah:

ويجوز فيها الذكر والانثى لما روت أم كرز عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا

Dan diperbolehkan dalam berkurban (menyembelih) hewan jantan maupun betina. Sebagaimana mengacu pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Kuraz dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalih wa sallam, bahwa beliau pernah bersabda “(Aqiqah) untuk anak laki-laki adalah dua kambing dan untuk perempuan satu kambing. Baik berjenis kelamin jantan atau betina, tidak masalah.”

وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب

Jika dalam hal aqiqah saja diperbolehkan dengan landasan hadits tersebut, maka hal ini menunjukkan kebolehan untuk menggunakan hewan berjenis kelamin jantan maupun betina dalam kurban. Karena daging jantan lebih bagus dari daging betina, dan daging betina lebih lembab.

Dengan demikian, maka tidak masalah secara fikih menyembelih hewan kurban betina. Mau menyembelih hewan kurban jantan atau hewan kurban betina, kurbannya tetap sah.

*) Penulis adalah pemerhati fikih dan sosial masyarakat. Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banjar.

Editor: Shakira

Baca Juga: Berkurban, Tapi Dagingnya untuk Sajian Perjamuan Makan, Bolehkah?
Baca Juga: Menggabungkan Akikah dan Kurban, Ini Rincian Hukumnya
Baca Juga: Hukum Mendistribusikan Kurban ke Luar Daerah

Klik di sini untuk menyimak Kajian Fikih Lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *