Daging Kurban untuk Sajian Perjamuan, Bolehkah?

Banua.co – Berkurban, tapi daging kurban untuk sajian perjamuan, seperti pada pesta perkawinan ataupun perjamuan lainnya, apa hukumnya? Menarik untuk kita kaji bersama. Sebelumnya, karena kurban adalah sebuah bentuk ibadah, maka ada aturan dan syarat yang harus dipenuhi agar maksud dari ibadah tersebut tercapai.

Oleh: Khairullah Zain *)

Khairullah ZainKurban bukan sekedar menyembelih hewan untuk mengonsumsi dagingnya, namun kurban adalah juga mendistribusikan dagingnya kepada yang berhak menerimanya, yaitu fakir miskin.

Memang, tidak diwajibkan menyedekahkan semua daging kurban, tanpa yang berkurban menikmatinya.

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

Dan telah Kami jadikan untuk kalian unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang (fakir) yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang (fakir) yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kalian, mudah-mudahan kamu bersyukur. (QS Al Hajj : 36).

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan agar yang berkurban memakan sebagian daging hewan kurbannya dan memberikan sebagian lainnya kepada orang fakir, baik yang tidak meminta-minta maupun yang meminta-minta.

Sebagian ulama mewajibkan orang yang berkurban memakan sebagian daging kurban, berdasarkan ayat di atas. Namun menurut Imam Al Khathib As Syarbani, yang lebih utama dalam mengonsumsi sendiri daging kurban cukup sekedarnya saja. Selebihnya disedekahkan.

وَالْأَفْضَلُ) التَّصَدُّقُ (بِكُلِّهَا)؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى التَّقْوَى وَأَبْعَدُ عَنْ حَظِّ النَّفْسِ (إلَّا) لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ أَوْ (لُقَمًا يَتَبَرَّكُ بِأَكْلِهَا) عَمَلًا بِظَاهِرِ الْقُرْآنِ، وَلِلِاتِّبَاعِ كَمَا مَرَّ وَلِلْخُرُوجِ مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ الْأَكْلَ   

Lebih utama menyedekahkan semuanya, karena lebih mendekatkan kepada ketakwaan dan menjauhkan dari kepentingan nafsu, kecuali satu, dua atau beberapa suap yang dimakan untuk mengambil keberkahan, karena mengamalkan bunyi eksplisit Al-Qur’an dan mengikuti Nabi seperti keterangan yang lalu, dan karena keluar dari ikhtilaf ulama yang mewajibkan memakan (Syekh Khathib as Syarbini, Mughni al Muhtaj, juz 6, hal. 135).

Dalam memberikan kepada fakir miskin, ada perbedaan prinsip antara daging kurban dengan daging akikah. Bila daging hewan akikah diperintahkan agar dibagikan dalam bentuk masak, maka daging hewan kurban diperintahkan dibagikan dalam bentuk mentah.

Al Imam Syekh Muhammad bin Ahmad ar Ramli menegaskan hal ini:

   وَيَجِبُ دَفْعُ الْقَدْرِ الْوَاجِبِ نِيئًا لَا قَدِيدًا   

Wajib memberikan kadar daging yang wajib disedekahkan dalam bentuk mentah, bukan berupa dendeng. (Syekh Muhammad bin Ahmad ar Ramli, Nihayah al Muhtaj, juz 8, hal. 142).

Pemberian daging dalam bentuk mentah ini dimaksudkan agar fakir miskin yang menerima daging kurban benar-benar memiliki, dalam artian bebas untuk memanfaatkannya, baik untuk dikonsumsinya, dijualnya, dan lain sebagainya.

Dalam kitab Mughni al Muhtaj, Imam Al Khatib as Syarbaini menjelaskan:

وَيُشْتَرَطُ فِي اللَّحْمِ أَنْ يَكُونَ نِيئًا لِيَتَصَرَّفَ فِيهِ مَنْ يَأْخُذُهُ بِمَا شَاءَ مِنْ بَيْعٍ وَغَيْرِهِ كَمَا فِي الْكَفَّارَاتِ، فَلَا يَكْفِي جَعْلُهُ طَعَامًا وَدُعَاءُ الْفُقَرَاءِ إلَيْهِ؛ لِأَنَّ حَقَّهُمْ فِي تَمَلُّكِهِ لَا فِي أَكْلِهِ وَلَا تَمْلِيكُهُمْ لَهُ مَطْبُوخًا

Disyaratkan dalam (pembagian) daging (yang wajib disedekahkan) harus mentah, supaya fakir/ miskin yang mengambilnya leluasa mentasarufkan dengan menjual dan sesamanya, seperti ketentuan dalam bab kafarat (denda), maka tidak cukup menjadikannya masakan (matang) dan memanggil orang fakir untuk mengambilnya, sebab hak mereka adalah memiliki daging kurban, bukan hanya memakannya. Demikian pula tidak cukup memberikan hak milik kepada mereka daging masak.

Apakah dengan demikian tidak boleh sama sekali orang yang berkurban menjadikan daging kurban untuk sajian perjamuan, seperti pesta perkawinan, selamatan, dan lainnya?

Sebenarnya, orang yang berkurban tidak dilarang menjadikan daging kurban untuk sajian perjamuan. Kurbannya tetap sah bila sudah terpenuhi kewajiban menyedekahkan sebagian daging kurban dalam bentuk mentah.

Kewajiban menyedekahkan daging kurban dalam bentuk mentah, bukan makanan sajian, terpenuhi bila pemberian tersebut sekira layak disebut ‘pembagian daging kepada fakir miskin’. Hal ini diterangkan Syekh Khathib as Syarbaini :

(وَالْأَصَحُّ وُجُوبُ التَّصَدُّقِ بِبَعْضِهَا)

وَلَوْ جُزْءًا يَسِيرًا مِنْ لَحْمِهَا بِحَيْثُ يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ الِاسْم عَلَى الْفُقَرَاءِ،

Menurut pendapat al-Ashah (yang kuat), wajib menyedekahkan sebagian kurban, meski bagian yang sedikit dari dagingnya, sekiranya bisa disebut pemberian daging (yang pantas), kepada orang fakir.

Pemberian daging ini harus benar-benar daging yang diberikan, bukan bagian yang lain. Dalam Syarh Al Bahjah ditegaskan:

ولا تمليكه له مطبوخا ولا تمليكه غير اللحم من جلد وكرش وكبد وطحال وعظم ونحوها

Dan tidak (memenuhi keabsahan kurban) pula membagikannya dalam bentuk masak. Dan tidak (memenuhi keabsahan kurban) pula memberikan hanya yang selain daging, misal kulit, usus, hati, limpa, tulang, dan lainnya.

Simpulannya, boleh saja orang yang berkurban menjadikan daging kurban untuk sajian perjamuan, seperti pada pesta perkawinan dan acara perjamuan lainnya, bila sebagian dagingnya sudah dibagikan dalam bentuk mentah kepada fakir miskin.

Namun, penting dicatat, kebolehan di atas berlaku pada kurban sunnah. Adapun kurban wajib, yaitu kurban yang telah dinadzarkan, maka wajib disedekahkan semuanya dalam bentuk mentah. As Syekh Nawawi bin Umar Al Bantani dalam Tawsih ‘ala Ibn Qasim (Qout Al Habib Al Gharib ‘ala Fath Al Qorib Al Mujib) mengatakan:

ولا يأكل المضحي ولا من تلزمه نفقته شيأ من الأضحية المنذورة حقيقة أو حكما   

Orang berkurban dan orang yang wajib ia nafkahi tidak boleh memakan sedikitpun dari kurban yang dinadzari (kurban wajib), baik secara hakikat atau hukumnya

Dengan demikian, keharaman memakan daging kurban wajib ini tidak hanya berlaku atas orang yang berkurban, tapi juga berlaku untuk segenap orang yang wajib ditanggung nafkahnya olehnya, seperti anak, istri, dan lain sebagainya. Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah pemerhati fikih dan sosial masyarakat.

Klik untuk menyimak Kajian Fikih lainnya.

Baca Juga: Berkurban dengan Hewan Betina, Apa Hukumnya?
Baca Juga: Menggabungkan Akikah dan Kurban, Ini Rincian Hukumnya.
Baca Juga: Distribusi Kurban ke Luar Daerah, Ini Hukumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *