Menggabungkan Akikah dan Kurban, Ini Rincian Hukumnya

Banua.co – Menggabungkan akikah dan kurban menarik kita diskusikan, karena secara kasat sama dua ibadah ini sangat mirip, yaitu sama-sama menyembelih hewan dan menyedekahkan dagingnya.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Menggabungkan Akikah dan Kurban, Ini Rincian HukumnyaSejatinya, akikah dan kurban adalah dua ibadah yang berbeda. Akikah adalah ibadah yang mengiringi kelahiran seorang bayi, sebagai wujud syukur orangtua. Sementara, kurban ibadah yang mengiringi hari raya Idul Adha, sebagai bentuk kepedulian terhadap fakir miskin. Daging akikah sunnah dibagikan dalam bentuk masakan siap saji, sementara daging kurban wajib sebagiannya dibagikan dalam kondisi mentah.

Apakah dengan begitu tidak boleh menggabungkan akikah dan kurban?

Sebelumnya, ada dua tipe menggabungkan akikah dan kurban. Tipe pertama adalah menggabungkan akikah dan kurban pada seekor hewan yang mencukupi untuk beberapa orang atau beberapa niat berbeda. Tipe kedua adalah menggabungkan niat akikah dan kurban pada seekor hewan yang hanya mencukupi satu orang atau satu niat saja.

Berserikat, Tapi Berbeda Niat.

Menurut para ulama Madzhab Syafi’i, bila beberapa orang berserikat menyembelih seekor hewan yang mencukupi untuk beberapa orang, seperti unta atau sapi, maka mereka boleh saling berbeda niatnya. Karena kelak dagingnya bisa dibagi antar mereka dan masing-masing menyalurkan sesuai niatnya.

Dalam hal ini, boleh sebagian orang niat kurban dan sebagian lagi berniat akikah. Meski mereka bergabung atau berserikat dalam satu hewan sembelihan, namun hal itu tidak membuat ibadah mereka tercampur. Masing-masing mendapatkan sesuai niatnya.

Bahkan, andai tujuh orang berserikat menyembelih seekor sapi, sebagian dari mereka ada non muslim yang tujuannya untuk mengonsumsi sendiri, atau ada penjual daging atau masakan yang tujuannya untuk berjualan, maka tetap sah.

Jadi, andai dalam arisan kurban atau perhimpunan kurban ada non muslim mau ikutan, tidak masalah.

Berikut penjelasan Syekh Al Baijuri:

وتجزئ بدنة عن سبعة اشتركوا فى التضحية بها 

(وقوله اشتركوا فى التضحية بها) اي بالبدنة ومثلها الهدي والعقيقة وغيرهما .

 فالتقييد بالتضحية لخصوص المقام سواء اتفقوا فى نوع القربة ام اختلفوا فيه كما اذا قصد بعضهم التضحية وبعضهم الهدية وبعضهم العقيقة 

وكذلك مالو اراد بعضهم التضحية وبعضهم الاكل وبعضهم البيع ولو كان احدهم ذميا لم يقدح فيما قصده غيره من اضحية ونحوها ولهم قسمة اللحم لانها قسمة افراز على الاصح كما فى المجموع وللجزار بيع خصته بعد ذلك

 (الباجوري . ج. 2 ص. 297)

Seekor unta memenuhi (kesunnahan) orang-orang yang berserikat dalam berkurban dengan unta tersebut.

Penjelasan redaksi di atas: maksudnya dan semisalnya berserikat kurban dan akikah dan selain dua niat tersebut, dalam satu sembelihan unta.

Mengaitkan dengan kata ‘kurban’ pada redaksi tersebut semata hanya kekhasan kedudukan kurban. (Padahal) sama saja (tetap sah) mereka (yang berserikat) bersepakat (menyembelih) untuk ibadah (yaitu kurban dan akikah) ataupun saling berbeda (ibadah dan tidak ibadah). Seperti sebagian orang berniat kurban, sebagiannya lagi berniat hadiah, dan sebagian lagi niat akikah.

Demikian pula (sah berserikat) seandainya sebagian orang berniat kurban, sebagian lagi berniat untuk dimakan sendiri, sebagian berniat untuk menjual (dagingnya). Dan jika salah seorang dari mereka (yang berserikat pada menyembelih seekor unta/sapi) seorang non muslim, maka itu tidak menodai (rekannya) yang berniat kurban dan semisalnya. Maka buat mereka (masing-masing) bagian dagingnya. Karena pembagian (daging hewan) adalah bagian yang masing-masing bisa dipisahkan, menurut pendapat tersahih, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al Majmu’. Dan bagi tukang jagal boleh menjual bagiannya setelah (pembagian) tersebut.

Berpijak pada pendapat ini, maka sah saja menggabungkan niat akikah dan kurban dalam satu sembelihan yang mencukupi untuk beberapa orang atau beberapa niat, semisal unta dan sapi, namun kemudian dagingnya dibagikan sesuai niatnya.

Bagaimana bila hanya seekor kambing, namun disembelih dengan dua niat, yaitu menggabungkan akikah dan kurban?

Menyembelih Seekor Kambing, Niatnya Menggabungkan Akikah dan Kurban

Dalam akikah atau kurban, seekor kambing mencukupi untuk satu orang. Nah, bagaimana bila satu orang menyembelih seekor kambing, namun niatnya menggabungkan akikah dan kurban.

Menyikapi hal ini, ada dua pendapat berbeda dari dua ulama besar rujukan pengikut madzhab Syafi’i generasi akhir.

Menurut Al Imam Asy Syaikh Muhammad Ar Ramli, satu ekor kambing bila diniatkan akikah dan kurban, maka sah dan memenuhi kesunnahan akikah dan kurban. Namun, menurut Ibnu Hajar, tidak sah.

Syekh Nawawi al-Bantani mengutip dua pendapat tersebut dalam Qout Al Habib Syarh Fath Al Qorib:

    قال ابن حجر لو أراد بالشاة الواحدة الأضحية والعقيقة لم يكف خلافا للعلامة الرملى حيث قال ولو نوى بالشاة المذبوحة الأضحية والعقيقة حصلا   

Ibnu Hajar berkata bahwa seandainya ada seseorang meginginkan dengan satu kambing untuk kurban dan aqiqah, maka hal ini tidak cukup. Berbeda dengan al-‘Allamah Ar-Ramli yang mengatakan bahwa apabila seseorang berniat dengan satu kambing yang disembelih untuk kurban dan aqiqah, maka kedua-duanya dapat terealisasi.

Imam Ar Ramli memandang akikah dan kurban ibadah yang semakna, sehingga bisa digabungkan. Sementara Ibn Hajar menganggap akikah dan kurban ibadah yang berbeda makna, meski mirip bentuknya, sehingga tidak bisa digabung antara keduanya.

Dalam Tuhfah Al Muhtaj, Syekh Ibnu Hajar menjelaskan:

وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمَتْنِ وَالْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا وَهُوَ ظَاهِرٌ؛ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ وَلِأَنَّ الْقَصْدَ بِالْأُضْحِيَّةِ الضِّيَافَةُ الْعَامَّةُ وَمِنْ الْعَقِيقَةِ الضِّيَافَةُ الْخَاصَّةُ وَلِأَنَّهُمَا يَخْتَلِفَانِ فِي مَسَائِلَ كَمَا يَأْتِي 

وَبِهَذَا يَتَّضِحُ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ حُصُولَهُمَا وَقَاسَهُ عَلَى غُسْلِ الْجُمُعَةِ وَالْجَنَابَةِ عَلَى أَنَّهُمْ صَرَّحُوا بِأَنَّ مَبْنَى الطَّهَارَاتِ عَلَى التَّدَاخُلِ فَلَا يُقَاسُ بِهَا غَيْرُهَا

Zhahir redaksi matan dan pendapat para ulama Madzhab Syafi’i, bahwa andai seseorang menyembelih seekor kambing dengan niat kurban dan akikah, maka dua-duanya tidak tercapai. Inilah (makna) yang zhahir. Karena setiap keduanya ada tujuan sunnah (masing-masing). Karena tujuan kurban adalah jamuan umum (dibagikan mentah), sementara tujuan akikah adalah jamuan khusus (dibagikan masak). Dan karena antar keduanya memiliki perbedaan dalam beberapa masalah, sebagaimana akan dibahas selanjutnya. 

Dengan ini jelaslah bantahan atas orang yang menganggap sah keduanya (menggabungkan akikah dan kurban) yang menganalogikan dengan hukum mandi Jum’at dan mandi junub, bahwa para ulama menjelaskan bahwa prinsip bersuci saling merasuki, tidak bisa dianalogikan dengannya ibadah yang lain (termasuk akikah dan kurban).

Bila kita berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Hajar Al Haytami yang mengatakan tidak sah menggabungkan akikah dan kurban, maka mana yang harus didahulukan?

Mana yang Didahulukan, Akikah apa Kurban?

Termasuk di antara perbedaan antara akikah dengan kurban adalah waktu pelaksanaannya. Ibadah kurban dibatasi hanya pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyriq. Sementara akikah lebih panjang masanya. Setidaknya, sebelum anak berusia baligh, orangtua masih sunnah mengakikahi anaknya.

Karena itulah, bila harus memilih antara melaksanakan ibadah kurban ataukah akikah ketika Idul Adha, maka lebih utama mendahulukan ibadah kurban.

Namun, memisah antara akikah dan kurban seperti di atas, tentu saja membutuhkan biaya yang lebih besar. Bagaimana dengan orang yang memiliki dana terbatas, tapi dia ingin melaksanakan ibadah akikah dan kurban? Hemat penulis, dia boleh ikut pendapat Imam Ar Ramli. Yaitu menggabungkan akikah dan kurban, dengan hanya menyembelih seekor kambing.

Selanjutnya, bila kita ikut pendapat Imam Ar Ramli, yang mengatakan satu ekor kambing boleh dan sah dengan dua niat, yaitu akikah dan kurban, maka bagaimana cara membagikan dagingnya?

Cara Membagi Daging Gabungan Akikah dan Kurban

Kerena daging kurban wajib sebagiannya disedekahkan dalam kondisi mentah maka sebagian daging kambing tersebut harus dibagikan mentah, agar terpenuhi maksud dari kurban. Sementara, daging akikah tidak disyaratkan dibagikan dalam bentuk masak, hanya saja lebih afdhal. Jadi andai dibagikan semuanya dalam bentuk daging mentah, sudah memenuhi tujuan akikah.

Namun andai ingin membagikan daging kurban dalam kondisi masak, juga dibolehkan, yang penting telah ada sebagian daging yang dibagikan dalam kondisi mentah.

Kemudian, bila kita ikut pendapat Imam Ar Ramli yang membolehkan menggabungkan niat akikah dan kurban hanya dengan menyembelih seekor kambing, apa dengan begitu boleh juga mengakikahi beberapa anak hanya dengan seekor kambing?

Akikah Beberapa Anak Hanya dengan Seekor Kambing.

Mengakikahi beberapa anak hanya dengan seekor kambing, boleh dan sah, bila kita berpijak pada pendapat Imam Ar Ramli. Karena dua ibadah berbeda saja yaitu akikah dan kurban menurut beliau boleh dan sah digabungkan, apalagi bila sama-sama akikah.

Berbeda bila kita ikut pendapat Syekh Ibnu Hajar, maka tidak cukup hanya dengan menyembelih seekor kambing dengan niat akikah beberapa orang anak.

Dalam Hasyiyah Al Baijuri disebutkan

(وَتَعَدُّدُ الْعَقِيْقَةِ بِعَدَدِ الْاَوْلَادِ)

 اَيْ فَلَا تَكْفِي عَنْهُمْ عَقِيْقَةٌ وَاحِدَةٌ وَهَذَا مَبْنِيٌ عَلَى قَوْلِ الْعَلَّامَةِ ابْنِ حَجَرٍ أَنَّهُ لَوْ اَرَادَ بِالشَّاةِ الْوَاحِدَةِ الْاُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيْقَةِ لَمْ يَكْفِ لَكِنِ الَّذِي صَرَّحَ بِهِ الْعَلَّامَةُ الرَّمْلِيُّ اَنَّهُ يَكْفِي وَعَلَيْهِ فَتَكْفِي عَقِيْقَةٌ وَاحِدَةٌ عَنِ الْاَوْلَادِ بِطَرِيْقِ الْاَوْلَى فَتَتَدَاخَلُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ اهـ. 

(حاشية الباجوري، 2/304)

(Dan berbilang aqiqah itu untuk berbilangnya anak), yakni tidak cukup satu aqiqah untuk banyak anak. Pendapat ini dilandasi pernyataan al ‘Allamah Ibnu Hajar bahwa seandainya ada seseorang menginginkan dengan satu kambing untuk kurban dan aqiqah, maka hal ini tidaklah mencukupi. Akan tetapi al ‘Allamah Ar Ramli menjelaskan bahwa yang demikian itu (satu kambing yang disembelih untuk kurban sekaligus aqiqah) adalah mencukupi. Atas pendapat (al ‘Allamah Ar Ramli) tersebut, maka lebih boleh lagi (satu kambing untuk beberapa anak).

Kendati demikian, penting diingat bahwa prinsip dalam ibadah adalah semakin besar nilai yang kita keluarkan, semakin besar pula pahalanya. Semakin besar pengorbanan kita, semakin tinggi pula balasan yang akan diterima.

Pendapat yang membolehkan menggabungkan akikah dan kurban hanya dengan menyembelih seekor kambing, ataupun mengakikahi beberapa anak hanya dengan seekor kambing, idealnya diamalkan hanya oleh mereka yang tidak mampu melaksanakan secara terpisah. Sementara, mereka yang memiliki kelebihan harta, sepatutnya berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Hajar Al Haytami. Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah pemerhati Fikih dan Sosial Masyarakat. Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banjar.

Baca Juga: Daging Kurban untuk Sajian Perjamuan, Bolehkah?

Baca Juga: Kurban Hewan Betina, Sah?

Baca Juga: 5 Pendapat Ulama Tentang Hari Penyembelihan Hewan Kurban.

Baca Juga: Distribusi Kurban Ke Luar Daerah, Apa Hukumnya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *