Bersama NU Melawan Feodalisme

Banua.co – Saatnya kaum muda NU memiliki tekad yang sama. Bersama NU lawan feodalisme. Perkuat barisan, jangan ada lagi di antara elemen NU yang mau bergandeng tangan tangan dengan penyusup kaum feodal. Jadikan negeri ini yang terbebas dari faham-faham buruk, seperti feodalisme, dan gunakan NU sebagai wadah perjuangan bersama melawan praktek feodalisme.

Oleh : M. Syarbani Haira *)

TAK lama lagi NU (Nahdlatul Ulama : “Kebangkitan Para Ulama”) akan memasuki perjalanan satu abad. Jam’iyah diniyah ini resmi berdiri di Kota Surabaya, Jawa Timur, pada tanggal 16 Rajab 1334 hijriyah, bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 Masehi.

Itu artinya, jika dihitung berdasar tahun hijriyah, maka usia NU Satu Abad tinggal 2 tahun (sekarang tahun 1442 hijriyah). Namun jika dihitung berdasar tahun mesihi, maka momentnya masih 5 tahun lagi (sekarang tahun 2021 mesihi).

Pendiri utamanya adalah 3 pimpinan pesantren terkemuka, masing-masing Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Wahab Hasbullah, dan Kyai Bisri Sansuri, serta sejumlah ulama terkemuka lainnya yang menjadi tulang punggung sejarah kelahiran Nahdlatul Ulama.

Sesungguhnya Kyai Wahab Hasbullah sudah ingin mendeklarasikan berdirinya NU ini sejak tahun 1924. Hanya saja Kyai Hasyim Asy’ari sebagai kyai sepuh dan dihormati, belum memberikan ijin. Pendiri Pesantren Tebu Ireng tersebut masih harus menunggu restu gurunya, Kyai Cholil Bangkalan.

Keinginan Kyai Wahab untuk mendirikan jam’iyah diniyah ini sudah terpendam lama. Karena menunggu restu kyai-kyai sepuh, maka Kyai Wahab sempat mendirikan sejumlah wadah pergerakan. Misalnya pada tahun 1914 para kyai-kyai tersebut mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar, dan ada pula yang menyebutnya sebagai Nahdlatul Fikr (Kebangkitan Pemikiran).

Kemudian pada tahun 1916 para kyai itu mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Tak hanya itu, pada tahun 1918, para kyai itu kemudian mendirikan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar).

Runtuhnya emperium Turki Utsmany pada tahun 1924, mendorong para ulama pesantren tersebut mendirikan NU. Lembaga yang diusung para ulama ini diharapkan bisa menjadi pioneer bagi umat Islam se nusantara untuk melakukan pembaharuan kemasyarakatan dan kebangsaan, serta syi’ar Islam ahlussunnah wal-jamaah.

NU juga diharapkan sebagai wadah perjuangan perlawanan kolonialisme Belanda, serta mampu menjadi tameng tradisi Islam, yang disepakati dan digelorakan ulama-ulama terkemuka melawan kelompok puritan di jazirah Arabia yang didukung kolonial Inggris.

Khusus di kawasan nusantara, NU diharapkan mampu memberantas kemiskinan struktural yang masih kuat melekat dalam diri dan komunitas umat Islam se Nusantara. Misalnya perlawanan terhadap kemiskinan struktural, seperti kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.

Sedikit demi sedikit NU juga melakukan pembaharuan pemikiran keummatan, seperti selain melawan arus kolonialisme, juga bertekad memerangi bentuk-bentuk imperialisme, feodalisme, serta beragam dogma dan keyakinan, yang tak sejalan dengan Islam.

Besarnya tekad para kyai NU mengusir penjajah di negeri ini, merupakan indikator terukur jika NU itu secara institusi sangat anti feodalisme dan imperialisme.

Pelopor perlawanan terhadap kolonial itu ternyata tidak tanggung-tanggung, melainkan dilakukan oleh orang nomor satu di tubuh NU, yakni Hadratus Syekh Kyai Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama.

Melalui Fatwa Resolusi Jihad-nya yang sangat bersejarah itu, para kyai NU memimpin perlawanan terhadap colonial asing, khususnya pasukan sekutu yang ingin merebut kembali kemerdekaan Indonesia, beserta para santri dan rakyat banyak.

Dampak fatwa Kyai Hasyim Asy’ari itu sangat luar biasa, sehingga pasukan sekutu yang bersenjatakan modern bisa dipatahkan oleh pejuang santri dan kyai yang hanya bermodalkan senjata bambu runcing.

Alhamdulillah kini pemerintah sudah menghargai pejuang kaum sarungan tersebut, di mana setiap tanggal 22 Oktober negara selalu memperingatinya sebagai “Hari Santri”. Kenapa ? Karena 22 Oktober tersebut dilancarakannya perlawanan para santri, yang didahului dengan seruan berupa fatwa Resolusi Jihad melawan sekutu. Kemenangan republik pada 10 Nopember, yang kemudian dijadikan hari pahlawan, merupakan hasil perlawanan melalui seruan perang kepada sekutu 22 Oktober.

Tentu urusan feodalisme ini tak hanya urusan perang melawan kolonial asing. Feodalisme adalah sebuah faham, dan merupakan ideologi, semacam dogma kemasyarakatan.

Dalam sejarahnya, feodalisme adalah merupakan bagian dari kehidupan politik dan praktik kebudayaan. Sebagai sebuah faham, feodalisme sesungguhnya tergolong tua, bersamaan dengan mulai berkembangnya peradaban manusia. Maka itu feodalisme ada yang primitive, selain ada pula yang modern. Untuk yang terakhir ini kerap juga disebut neo-feodalisme.

Di antara ciri-ciri masyarakat feodalis, antaranya keinginan untuk berkuasa secara berlebihan. Model-model ini bisa kita cermati dalam potret para raja. Masyarakat Eropa tempoe doeloe umumnya sangat feodal. Lihat saja kerajaan-kerajaan mereka, hingga hari ini masih ada yang bertahan. Para raja-raja tersebut ingin berkuasa hingga akhir hayatnya. Mereka baru bisa diganti karena factor usia, atau karena kudeta.

Begitu juga di kalangan umat Islam. Pasca wafatnya Rasulullah SAW yang diikuti dengan berdirinya berbagai kekhalifahan, seperti Bani Umayah atau Bani Abbasyiah, selain khalifah yang 4 (empat). Dalam sejarah Islam, kekhalifahan terakhir adalah berkuasanya para sulthan di tanah Turki (Kekhalifahan Turki Utsmany).

Selain itu sempat pula berdiri kerajaan-kerajaan Islam di sejumlah tempat, seperti di kawasan India, Thailand, Filipina dan kawasan nusantara (Indonesia, Malaysia, Brunei, dll). Sebagian dari kerajaan-kerajaan tersebut hingga hari ini masih bisa bertahan, atau bahkan mungkin sengaja dipertahankan.

Praktek ingin berkuasa lama ini ternyata tak serta merta bisa dihilangkan, meski kita sudah berada di abad ke-21 ini. Di bidang kenegaraan ada orang yang ingin selamanya berkuasa, seperti mendiang Soeharto. Di tubuh ormas pun fenomena yang sama nampak jelas. Lembaga organisasi politik pun malah semakin mengkerat. Lihat saja mereka-mereka yang merasa sudah nyaman itu, jarang-jarang ada yang rela mundur jika sudah menjabat. Gagasan seorang pemimpin cukup 2 periode itu sangat ideal. Ini bukan siapa yang mampu dan layak, melainkan untuk mengikis mental feodalisme.

Belum lagi ada mentalitas ingin berkuasa dengan menghalalkan segala cara. Mulai dari orang yang suka memfitnah, melakukan intimidasi, berbuat curang, mengadu domba, mendholimi, nepotism, penjilat, adalah merupakan ciri-ciri kaum feodal.

Haruskah ini semua dibiarkan oleh generasi NU sekarang? Tentu generasi penerus NU harus berbuat melakukan perlawanan. Ini bukan mengada-ada, melainkan itulah sesungguhnya yang diperjuangkan para perintis dan pejuang NU tempoe doeloe. Selain ini memang menjadi doktrin dalam ber-NU, juga selaras dengan anjuran agama Islam.

Oleh karenanya, saatnya kaum muda NU memiliki tekad yang sama. Bersama NU lawan feodalisme. Perkuat barisan, jangan ada lagi di antara elemen NU yang mau bergandeng tangan tangan dengan penyusup kaum feodal. Jadikan negeri ini yang terbebas dari faham-faham buruk, seperti feodalisme, dan gunakan NU sebagai wadah perjuangan bersama melawan praktek feodalisme.

Dengan niat yang tulus dan ikhlas, Insya Allah berpahala. Tentu warga NU tak lupa untuk selalu berdoa, sebagai bentuk langkah spiritual, agar pelaku-pelaku feodalisme itu bisa dienyahkan di muka bumi ini. Jadikan NU wadah perjuangan melawan praktek feodalisme. Wallahu A’lam bis Shawab.

*) Penulis adalah staf pengajar Universitas NU Kalsel.

Baca Juga: Meneladani Abah Guru Sekumpul, Membangun Kemandirian NU.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *