Hasib Salim Menjadi Nakhoda, Secercah Harapan NU Banua

Banua.co – Apa yang kini dimiliki Hasib Salim bisa dikatakan merupakan modal dasar buat menata kembali jam’iyah NU, yang memang masih jauh tertinggal dibanding dengan jam’iyah NU di Pulau Jawa. Maka itu, lupakanlah perbedaan politik. Berkaryalah dengan bukti yang nyata buat umat.

Oleh : HM. Syarbani Haira *)

IMG 20200406 105550394 150x150 - Hasib Salim Menjadi Nakhoda, Secercah Harapan NU BanuaSetelah mengalami semacam “masa suram” pasca ditinggal mundur mandataris Konferwil PWNU Kalimantan Selatan Drs. HA. Haris Makkie, M.Si, bulan September 2020 lalu, PWNU Kalimantan Selatan kini sedang berbenah diri untuk bangkit kembali.

Tanda-tanda kebangkitan kembali NU Kalimantan Selatan ini terbaca pasca disahkannnya Dr. KH. Hasib Salim, MAP, mantan Ketua PCNU HSU dan mantan Wakil Ketua PWNU Kalsel.

Hasib Salim menggantikan Haris Makkie, penerima mandate konferwil PWNU Kalsel Desember 2017. Generasi penerus NU, anak sulung mantan Bupati Tapin HA Makkie ini konsisten pada AD/ART NU, sehingga ia harus mundur sebagai pimpinan NU, karena mencalonkan diri dalam Pilwali Kota Banjarmasin 2020 silam.

Ditunjuknya Hasib Salim menjadi Ketua PWNU Kalsel pengganti Haris Makkie tersebut, direspon positive banyak kalangan. Ini terlihat dari ucapan selamat yang disampaikan, baik melalui poster yang dipublish, atau yang terpajang di tepi-tepi jalan. Misalnya Pemerintah Kabupaten HSU di bawah pimpinan bupatinya Dr. H. Abdul Wahid HK, salah satu di antara yang merespon positive. Begitu juga dengan Bupati Rantau, Kepala Kementerian Agama RI Kalimantan Selatan, serta hampir semua kepala Kemenag se Kal-Sel.

Baliho besar nampak juga terpampang di seputar kilometer 11, ucapan selamat dari kolega Hasib Salim di partai politik di mana kini ia sedang berkarya, yakni H Mardani H Maming sebagai Ketua Umum BPP HIPMI.

Tentu saja hampir semua Ketua Tanfidziah PCNU se Kalsel pun serta merta mengucapkan selamat pada Hasib Salim, yang saya tau sejak masih di Sekolah Rakyat dulu ia sudah kerap diajak orangtuanya dalam event-event NU.

Bagi saya pribadi, meski secara AD/ART NU bisa saja diperdebatkan, namun Sahabat Hasib Salim menjadi pilihan terbaik saat ini buat menyelamatkan NU.

IMG 20210611 WA0033 1024x1024 - Hasib Salim Menjadi Nakhoda, Secercah Harapan NU Banua

Hasib Salim memiliki kriteria kepemimpinan dalam perspective Islam, yang diwariskan Rasulullah. Misalnya sifat fathonah (cerdas), sifat amanah (dapat dipercaya), sifat tabligh (menyebarkan kebenaran), dan sifat siddik (jujur). Empat karakter ini modal dasar bagi kepemimpinan muslim, termasuk NU, terlepas beliau sebagai manusia tentu masih punya kelemahan. Namun secara umum karakter tersebut masih melekat di dalam dirinya.

Maka itu saya optimistic NU Kalsel dengan sisa waktu yang ada, akan ada pembaharuan kelembagaan (al-jam’iyah), pembaharuan visi misi , serta pembaharuan harokah (gerakan).

Dengan karakternya, jika misal di lingkungan NU itu masih ada kaum pragmatis, tentu ia akan mudah mengatasinya. Sejumlah bengkelai yang hingga kini belum berhasil diselesaikan oleh PWNU Kalsel sebelumnya, tentu semuanya akan menjadi prioritas kerja bagi seorang Hasib Salim dalam mengemban amanah organisasi dan kepemimpinan NU di Banua ini.

Hal lain yang juga harus dicermati baik-baik adalah, dengan ditunjuknya Hasib Salim menakhodai NU Kalsel ini tak ada kaitan dengan polarisasi politik mana pun. Tak ada kaitan dengan intrik politik yang muncul dan berkembang di luar urusan NU. Hasib Salim dipercaya karena semata hanya untuk menyelamatkan NU, semata urusan nahdliyin.

Hasib Salim pun sudah melepaskan sejumlah jabatan di institusi-institusi politik. Bahwa yang bersangkutan masih bertahan menjadi wakil rakyat di DPRD Kalsel, itu ada plus minus-nya. Minusnya, ia akan dicap masih berpolitik, bisa saja ini dianggap bertantangan dengan AD/ART NU. Plusnya, ia bisa berkarya untuk kemajuan NU. Posisinya sebagai anggota DPRD memudahkan bagi NU melakukan gagasan pembangunan. Misalnya mengusahakan pendirian rumah sakit, minimal klinik kesehatan. Menyelesaikan aset-aset (tanah) yang terbengkelai, memperkuat SDM banua, dan sebagainya. Maka itu saya masih responsive pada dia dalam hal kepemimpinan NU untuk saat ini.

Memang, dalam hal hubungan antar manusia, saya bisa saja berbeda pendapat dengannya. Namun dalam hal watak dasar semangat memajukan NU, saya punya mainstream yang sama.

Terlebih relasi kami sudah berlangsung sejak zaman masing-masing orang tua kami sama-sama active di Partai NU di tahun 1960 hingga awal tahun 1970-an.

Hal yang unik dan tak bisa kami lupakan, para orang tua kami di zaman active di Partai NU pernah sama-sama berurusan dengan aparat negara, bahkan sempat “nginap di hotel prodeo” beberapa hari. Ini memang watak buruk penguasa orde baru, yang bisa saja menahan orang tanpa proses hukum. Model-model begitu banyak sekali melanda para aktivis NU tempo doeloe.

Apa yang kini dimiliki Hasib Salim bisa dikatakan merupakan modal dasar buat menata kembali jam’iyah NU, yang memang masih jauh tertinggal dibanding dengan jam’iyah NU di Pulau Jawa. Maka itu, lupakanlah perbedaan politik. Berkaryalah dengan bukti yang nyata buat umat. Tinggal bagaimana Sahabat Hasib Salim merapikan beragam opini dan aspirasi yang berkembang di lingkungan jam’iyah NU, baik yang berada dalam structural pengurus mau pun yang berada di eksternal pengurus.

Langkah terbaik dan brilliant adalah jika Hasib Salim mau memperlihatkan karya nyatanya buat nahdliyyin dan umat Islam di banua ini.

Misalnya menyelesaikan rehabilitasi Kantor PWNU yang ada di Jalan Hasanuddin HM sebagai prioritas utama. Selain itu berkarya dalam bentuk lain, seperti pendirian klinik kesehatan, jika memang belum mampu membangun rumah sakit. Pendirian SMK di tiap kabupaten, yang dananya bisa menggunakan anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk urusan perguruan tinggi sudah tak lagi menjadi beban pengurus, meski sesungguhnya banyak hal yang belum dipenuhi sesuai ketentuan.

Ini harus dilakukan, agar suara-suara minor yang mungkin muncul dari berbagai sudut lorong pada akhirnya akan sirna sendiri. Karena suara-suara minor itu dijawab melalui karya nyata, amal usaha.

Dengan potensi serta relasi yang luas dari seorang Hasib Salim, saya yakin ia bisa mengatasinya, sehingga sengkerut yang hingga hari ini belum teratasi dengan baik, bisa dieliminasi. Apalagi ia tak sendiri, ia sudah punya tim khas.

Kondisi ini merupakan pertanda, bahwa angin segar yang terus berembus dengan sejuk dari berbagai mata angina, tengah menuju ke pusaran NU. Maka itu, harusnya para pemegang mandate di NU harus menjawabnya dengan karya. Ini dimaksudkan agar jam’iyah NU bisa semakin Maju dan Berjaya. Apalagi dalam hitungan waktu yang sangat dekat, NU segera akan memasuki era baru, “ NU Satu Abad” ditahun 2026 mendatang. Saatnya NU Banua terus berkarya dan menggelorakan perubahan, menyongsong kemajuan. Wallahu’alam bis Shawab.

*) Penulis adalah Dosen Senior Universitas NU Kalsel.

Baca Juga: Bersama NU Melawan Feodalisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *