Menyembelih Kurban Malam Hari, Apa Hukumnya?

Banua.co – Menyembelih hewan kurban pada malam hari, apa hukummya? Apakah kurbannya sah? Mari kita telaah bersama.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Menyembelih Kurban Malam Hari, Apa Hukumnya?Sebelumnya, sebagaimana tidak bersepakat tentang batasan hari boleh berkurban, para ulama juga tidak bersepakat tentang kapan waktu mulai boleh menyembelih hewan kurban.

Al Imam Am Nawawi dalam kitab Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab menyebutkan lima pendapat para ulama Mujtahid tentang waktu menyembelih hewan kurban.

Baca Kajian Sebelumnya: 5 Pendapat Ulama Tentang Hari Menyembelih Hewan Kurban.

Pendapat pertama, yaitu pendapat Madzhab Syafi’i, adalah:

مذهبنا أنه يدخل وقتها إذا طلعت الشمس يوم النحر ثم مضى قدر صلاة العيد وخطبتين كما سبق فإذا ذبح بعد هذا الوقت أجزأه سواء صلى الامام أم لا وسواء صلى المضحي أم لا وسواء كان من أهل الأمصار أو من أهل القرى أو البوادي أو المسافرين وسواء ذبح الامام ضحيته أم لا * هذا مذهبنا وبه قال داود وابن المنذر وغيرهما *

Menurut madzhab kami (Madzhab Syafi’i) sungguh masuk waktu menyembelih hewan kurban bila telah terbit matahari di hari Idul Adha kemudian telah berlalu sekedar (pelaksanaan) shalat Ied dan dua khutbah. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Maka bila disembelih kurban setelah waktu ini, telah memenuhi (sah). Baik imam telah shalat ataupun tidak. Baik orang yang berkurban shalat Ied atau tidak. Baik dia penduduk kota ataupun penduduk desa, atau dusun, atau sedang musafir. Baik imam menyembelih kurbannya atau tidak. Inilah pendapat madzhab kami, dan ini pula pendapat Imam Daud, Ibnu Mundzir, dan lainnya.

Pendapat kedua, yaitu pendapat Imam ‘Atha dan Imam Abu Hanifah:

وقال عطاء وأبو حنيفة يدخل وقتها في حق أهل الأمصار إذا صلى الامام وخطب فمن ذبح قبل ذلك لم يجزه قال وأما أهل القرى والبوادي فوقتها في حقهم إذا طلع الفجر الثاني *

Menurut Imam ‘Atha dan Imam Abu Hanifah, waktu menyembelih hewan kurban untuk penduduk kota bila imam telah selesai shalat Ied dan selesai berkhutbah. Maka sesiapa yang menyembelih sebelum waktu tersebut, tidak memenuhi (tidak sah). Adapun penduduk desa dan dusun, maka waktunya bagi mereka bila telah terbit fajar kedua (sejak waktu Shubuh).

Pendapat ketiga, yaitu pendapat Imam Malik bin Anas:

 وقال مالك لا يجوز ذبحها الا بعد صلاة الامام وخطبتيه وذبحه

Menurut Imam Malik, tidak boleh menyembelih hewan kurban kecuali setelah selesai shalat Imam dan dua khutbahnya, serta selesai dia menyembelih kurbannya.

Pendapat keempat adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

وقال أحمد لا يجوز قبل صلاة الامام ويجوز بعدها قبل ذبح الامام وسواء عنده أهل القرى والأمصار ونحوه عن الحسن البصري والأوزاعي وإسحاق بن راهويه

Menurut Imam Ahmad, tidak boleh menyembelih kurban sebelum imam shalat Ied. Dan boleh setelahnya, meski sebelum imam menyembelih kurbannya. Hal ini sama saja, baik bagi penduduk desa ataupun kota. Pendapat seperti ini juga diriwayatkan dari Imam Hasan Al Bashri, Imam Al Auza’i, dan Imam Ishaq bin Rahawaih.

Pendapat kelima adalah pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri:

 وقال سفيان الثوري يجوز ذبحها بعد صلاة الامام قبل خطبته وفى حال خطبته

Imam Sufyan Ats Tsauri mengatakan boleh menyembelih kurban setelah selesai imam shalat Ied, meski belum berkhutbah dan boleh juga ketika imam sedang berkhutbah.

Lima pendapat yang disebutkan Imam Am Nawawi di atas bertemu pada suatu kesepakatan, yaitu bahwa tidak sah menyembelih hewan kurban sebelum terbit fajar di hari Iedul Adha.

 قال ابن المنذر وأجمعوا على أنها لا يصح ذبحها قبل طلوع الفجر يوم النحر

Imam Ibnu Mundzir mengatakan mereka (para ulama Mujtahid) telah konsensus bahwa tidak sah menyembelih hewan kurban sebelum terbit fajar di hari Iedul Adha.

Namun, dari semua pendapat di atas tidak menyebutkan perihal siang atau malam. Hal ini mengindikasikan bahwa menyembelih hewan kurban baik siang atau malam hari, tidak menjadi masalah, selama masih di dalam hari-hari kurban. Apakah demikian?

Menyembelih Hewan Kurban di Waktu Malam Hari

Menurut Madzhab Syafi’i, melaksanakan penyembelihan hewan kurban sah sepanjang di dalam waktu yang telah ditentukan, yaitu sejak diasumsikan imam telah selesai shalat Ied dan berkhutbah, hingga batas akhir hari berkurban, yaitu tenggelam matahari di akhir Hari Tasyriq atau 13 Dzulhijjah. Baik di siang hari ataupun malam hari.

Hanya saja, para ulama Madzhab Syafi’i menghukumkan makruh bila menyembelih hewan kurban di malam hari.

Al Imam An Nawawi mengatakan:

 يخرج وقتها بغروب شمس اليوم الثالث من أيام التشريق واتفقوا على أنه يجوز ذبحها في هذا الزمان ليلا ونهارا لكن يكره عندنا الذبح ليلا في غير الأضحية وفي الأضحية أشد كراهة

Waktu (sah) menyembelih kurban telah keluar (habis) dengan tenggelamnya matahari di hari ke-3 dari Hari Tasyriq. Dan para ulama bersepakat bahwa boleh menyembelih hewan kurban pada masa tersebut (Iedul Adha dan Hari Tasyriq), baik malam ataupun siang. Akan tetapi, menurut kami (Madzhab Syafi’i) makruh menyembelih hewan yang bukan kurban di malam hari, maka dengan demikian lebih makruh lagi bila malam hari menyembelih hewan kurban.

Editor: Shakira.

Baca Juga: Kurban Seekor Kambing untuk Sekeluarga, Sah?

Baca Juga: Daging Kurban untuk Sajian Perjamuan, Bolehkah?

Baca Juga: Hukum Menggabungkan Akikah dan Kurban.
Baca Juga: Distribusi Kurban ke Luar Daerah, Ini Hukum Fikihnya.
Klik di sini untuk menelaah tentang Fikih Kurban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *