Telaah Sejarah; Benarkah Syekh Kasyful Anwar Murid Syekh Bakri Satha?

Syekh Kasyful Anwar menurut penuturan sebagian ulama di Martapura, Kabupaten Banjar adalah salah satu murid dari Syekh Bakri Satha -–Pengarang I’anatuth Thalibin—sekaligus sahabat dari Syekh Ali Al Banjari –sesepuh ulama Banjar di Makkah–. Penuturan tersebut agaknya perlu dikaji ulang, pasalnya ada keganjilan-keganjilan yang secara tidak langsung membantah penuturan tersebut.

Oleh: Muhammad Bulkini

Syekh Kasyful Anwar menurut penuturan sebagian ulama di Martapura, Kabupaten Banjar adalah salah satu murid dari Syekh Bakri Satha -–Pengarang I’anatuth Thalibin—sekaligus sahabat dari Syekh Ali Al Banjari –sesepuh ulama Banjar di Makkah–. Penuturan tersebut agaknya perlu dikaji ulang, pasalnya ada keganjilan-keganjilan yang secara tidak langsung membantah penuturan tersebut.

Mengacu dari penuturan itu, setidaknya Syekh Kasyful Anwar pernah bertemu dengan Syekh Bakri Satha. Adapun soal persahabat Syekh Kasyful Anwar dan Syekh Ali Al Banjari, mestinya usia keduanya tidak terpaut jauh.

Merujuk pada manaqib Syekh Kasyful Anwar “Nurul Abshor” yang ditulis cucu beliau, Tuan Guru H Munawwar bin Ahmad Ghazali. Guru Munawwar dalam buku tersebut menyebutkan, Syekh Kasyful Anwar lahir pada Senin 4 Rajab 1304 Hijriyah sekira pukul 10 malam (Senin malam/malam Selasa).

Pada 1313 H, Syekh Kasyful Anwar berangkat ke Tanah Suci Makkah di umur 9 tahun. Sekira 17 tahun mengaji di sana, yakni sekitar umur 26 tahun, beliau kembali ke kampung halaman pada 1330 H.

Baca juga: Penelusuran Manuskrip I’anatut Tholibin Tulisan Syekh Ali Menemukan Babak Baru

Setelah kepulangan itu, Syekh Kasyful Anwar tercatat dua kali berangkat ke Tanah Suci (1343 H dan 1352 H) untuk menunaikan ibadah haji. Beliau kemudian wafat pada 18 Syawal 1359 H di umur 55 tahun.

Sampai di sini, belum terlihat keganjilan itu. Mari kita bandingkan dengan riwayat hidup Syekh Bakri Satha –orang yang dipercaya sebagai gurunya. Syekh Bakri Satha sebagaimana dikutip dari Harakah.id, lahir pada tahun 1266 H dan wafat pada 1310 H.

Dari tahun kewafatan itu, kita bisa tahu, Syekh Bakri Satha tidak bertemu dengan Syekh Kasyful Anwar. Sebab menurut Guru Munawwar, Syekh Kasyful Anwar baru menginjak Tanah Suci sekira 3 tahun setelah kewafatan Syekh Bakri Satha.

Dengan merujuk riwayat hidup mereka, kita bisa pastikan keduanya tak berjumpa di dunia nyata (karena kita tidak membahas pertemuan secara ruhani). Dengan begitu, Syekh Kasyful Anwar bukan murid langsung Syekh Bakri Satha.

“Nurul Abshor” menyebut Syekh Kasyful Anwar adalah murid dari Sayyid Ahmad, yang tak lain adalah putra dari Syekh Bakri Satha.

Baca juga: Cara Cerdas Tuan Guru di Martapura Meredakan Gejolak Pemberontakan

Kedua, bagaimana soal persahabatan antara Syekh Kasyful Anwar dengan Syekh Ali Al Banjari? Mari kita tengok riwayat hidup Syekh Ali Al Banjari. Syekh Ali Al Banjari sebagaimana terdapat dalam buku “Jejak 8 Ulama Thoriqoh Sammaniyah” lahir pada 1285 hijriyah. Dengan demikian, Syekh Kasyful Anwar dan Syekh Ali terpaut usia 19 tahun.

Ketika Syekh Kasyful Anwar datang ke Makkah, beliau berusia 9 tahun (1313 H), sementara Syekh Ali sudah berumur 28 tahun. Pada saat Syekh Kasful Anwar pulang ke kampung halaman di Banjar pada 1330 H, usia Syekh Kasyful Anwar 26 tahun dan Syekh Ali berusia 45 tahun.

Dari usia yang terpaut cukup jauh tersebut, apakah mungkin keduanya bersahabat? Jangan dijawab dulu.

Mari kita simak riwayat ulama besar lainnya, yang juga berasal dari Martapura. Ulama itu adalah Tuan Guru Zainal Ilmi, beliau lahir di tahun yang sama dengan Syekh Kasyful Anwar, yakni 1304 H (Wikipedia). Tuan Guru Zainal Ilmi lebih tua beberapa bulan saja dari Syekh Kasyful Anwar. Meski lebih tua sedikit dari Syekh Kasyful Anwar, Tuan Guru Zainal Ilmi tercatat sebagai murid dari Syekh Ali Al Banjari.

Sementara, Syekh Kasyful Anwar dalam “Nurul Abshor” tidak mencatat Syekh Ali Al Banjari sebagai salah satu gurunya. Begitu pula di “Jejak 8 Ulama Thoriqoh Sammaniyah” tidak mencatat Syekh Kasyful Anwar sebagai murid Syekh Ali Al Banjari.

“Nurul Abshor” hanya menyebut nama Syekh Muhammad Amin bin Qadi H Mahmud sebagai guru dari Syekh Kasyful di Makkah. Syekh Muhammad Amin sendiri adalah paman dari Syekh Ali Al Banjari. Syekh Muhammad Amin juga tercatat sebagai guru dari Tuan Guru Zainal Ilmi.

Baca juga: KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri Ternyata Cicit Pengarang I’anatuth Thalibin!

Dari riwayat itu, Syekh Ali Al Banjari (dari sisi usia) agaknya lebih layak dijadikan guru ketimbang sahabat oleh Syekh Kasyful Anwar, sebagaimana yang dilakukan Tuan Guru Zainal Ilmi.

Apalagi, saat Syekh Kasyful Anwar pulang ke kampung halaman. Syekh Ali menitipkan putranya (Tuan Guru Husin Ali) untuk dibimbing. Perhatian Syekh Kasyful Anwar kepada Taun Guru Husin Ali muda “agak berlebihan”. Beliau kerap mendatangi Tuan Guru Husin Ali di rumahnya, di Pesayangan Martapura, untuk mengajarinya ilmu agama.

Karena kebiasaannya itu, Syekh Kasyful Anwar pernah ditegur ibu dari Guru Husin Ali, “Mestinya Husin yang ke rumahmu.”

“Tidak, ini amanah dari suamimu,” jawab Syekh Kasyful.

*

Walhasil, jika merujuk tahun demi tahun dari riwayat hidup Syekh Kasyful Anwar dan Syekh Bakri Satha dalam referensi tersebut, keduanya tidak pernah bertemu. Kecuali, referensi sejarah itu keliru.

Kedua, adakah nama Syekh Ali tercecer di deretan ulama yang menjadi guru Syekh Kasful Anwar? Mengingat Tuan Guru Zainal Ilmi yang seumuran dengan Syekh Kasyful Anwar berguru kepadanya.

Menarik untuk diteliti kembali.

Baca Juga: Tuan Guru Kasyful Anwar: Jangan Berguru Kepada Orang yang Suka Mencela!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *