Syeikhah Sulthonah, Wanita Sufi dari Hadhramaut

Banua.co – Syeikhah Sulthonah pernah berucap: “Aku memang perempuan, akan tetapi derajat dan kedudukan yang aku punya sama dengan kalian. Bahkan, perempuan melebihi laki-laki dalam masalah mendidik dan menjaga nasab keturunan.” Guru beliau, Syeikh Abdurrahman As-Segaf gembira mendengar ucapan tersebut.

Oleh: Ummu Zaini *)

Syeikhah Sulthonah putri Ali Az-Zubaidiyyah (dari keturunan kabilah Bani Haritsah al-Kindiyah) dilahirkan tepat di pemukiman al-Urr, dataran yang panjangnya mencakup tepi timur desa Maryamah hingga akhir batas kota Hauthah yang sekarang dikenal dengan “Hauthah Sulthonah” . Berjarak 3 mil dari kota Seiwun.

Hauthah merupakan bagian dari kota tua yang terletak di Provinsi Hadhramaut, Yaman. Disanalah lahir seorang sosok perempuan yang memahat lereng perbukitan Hadhramaut dengan nilai-nilai ketakwaan, ketho’atan dan keimanan.

Sejak kecil, Syeikhah Sulthonah tumbuh dalam lingkup keluarga pedalaman yang sangat kental dengan perkara ternak, perairan, rerumputan dan lainnya. Namun, hal itu tak membuatnya larut dalam kehidupan sekitar. Dia lebih suka ketenangan, menjauh dari teman-temannya dan menganggap buruk kehidupan baduwi (pedalaman) yang penuh dengan kezaliman, kekerasan dan penyiksaan.

images 2021 06 25T191345.305 - Syeikhah Sulthonah, Wanita Sufi dari Hadhramaut
Makam Syeikhah Sulthonah di Hadhramaut

Di antara faktor-faktor yang berperan dalam merubah kepribadiannya adalah sejarah kehidupan orang-orang shaleh yang sering ia dengarkan. Syeikhah Sulthonah berjalan kaki menuju masjid-masjid sekitar untuk mengetahui lebih dalam tentang kehidupan orang-orang shaleh, yang disampaikan oleh para ulama Tarim, Seiwun, Ghurfah, Syibam dan lainnya dengan tujuan dakwah. Dari sini, lambat laun terbangunlah istana tasawuf dalam dirinya.

Orang yang pertama menjadi guru beliau adalah Syeikh Muhammad bin Abdullah Qodim Ba-abbad yang tinggal di desa Ghurfah dekat dengan perkampungan Syeikhah. Dari sinilah pintu anugerah terbuka lebar dari Allah.

Akan tetapi, guru yang paling dekat dengannya adalah Syeikh Abdurrahman As-Segaf dan keturunannya. Syeikh Abdurrahman As-Segaf kala itu merupakan seorang tokoh, imam dan da’i.

Syeikhah Sulthonah pernah berkata, “Ketika Syeikh Abdurrahman datang berkunjung, aku melihat sekejap sebelum kedatangannya tempat tinggalku dan sekitarnya bercabang-cabang seperti hujan deras. Setelah itu aku mendengar orang memanggil, “telah datang seorang Sulthan dari keturunan Sulthan”.

Syeikhah Sulthonah diberi karunia umur yang panjang, sehingga beliau bertemu dengan putra Syeikh Abdurrahman As-Segaf yakni Habib Abu Bakar as-Sakran dan cucunya.

Meski kesehariannya diwarnai dengan corak kehidupan baduwi, tak mencegah Syeikhah Sulthonah untuk menyandang gelar “Rabi’atu Hadhramaut”, sebagai mahkota kewalian. Jiwa sufi sudah tercermin semenjak masa mudanya. Bahkan dalam catatan sejarah disebutkan bahwa, Syeikhah Sulthonah melebihi Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyah yang menyinari kota Bashrah.

Sayyid Muhammad bin Ahmad as-Syathiri menulis, “Syeikhah Sulthonah berbeda dengan Rabi’ah al-Adawiyah, sebab derajat sufi yang dimilikinya semakin bertambah seiring masa pertumbuhannya. Perjalanannya dalam menempuh ajaran tasawuf, sangatlah mudah tanpa adanya rintangan. Meski sejatinya kehidupan baduwi sangat bertolak arah denagn ajaran yang diamalkan. Akan tetapi, terjadi perkara yang mengherankan ketika kabilah-kabilah (suku) menyambut baik kedatangan ulama dan ahlul bait (para habaib) untuk menyebarkan ilmu dan dakwah, meski mereka masih belum siap menerima ajaran tasawuf dengan lapang dada.”

Syeikhah Sulthonah telah mencerminkan kewajiban-kewajiban keluarga dalam kehidupan sehari-hari dengan baik sejak dini. Menenun tekstil, menjaga makanan, menyiapkan makanan, memasak untuk keluarga dan lainnya adalah perkara biasa yang dilakukan. Disaat itu, dirinya juga seorang perempua yang taqwa, penyabar, ahli tasawuf, menasehati dan membimbing orang lain.

Syeikhah Sulthonah adalah sosok yang bersih hatinya, mulia dan menjauhi perkara-perkara yang hina. Tulus dalam ketho’atan dan dzikir yang terus-menerus menjadikan ketenangan dalam hatinya. Seluruh yang ia temui menggerakkan hatinya untuk lebih mengenal Tuhannya.

Dari sinilah dia menjadi sering mengungkapkan syair-syair tashawuf yang menggambarkan perasaan dan gejolak jiwanya. Kebanyakan syairnya berisikan rasa cinta kepada Sang Pencipta dengan corak syair rakyat dan nasyid. Dan sekarang masih sering didengungkan ketika pembacaah hadrah asy-Syeikh Abdurrahman As-Segaf, di Tarim.

Di antara keistimewaan wanita sufi ini, rela meninggalkan kehidupan duniawi untuk beribadah kepada Allah SWT, hidup membujang. Dan beliau merasa menikah bukan perkara yang harus terpenuhi.

Syeikhah Sulthonah sering berkunjung ke Tarim mengunjungi majlis Syeikh Abdurrahman As-Segaf, untuk mengaji, mendengarkan syair-syair tasawuf dan saling tukar pendapat dalam beberapa masalah keilmuan.

Suatu ketika Syeikhah Sulthonah pernah berucap: “Aku memang perempuan, akan tetapi derajat dan kedudukan yang aku punya sama dengan kalian. Bahkan, perempuan melebihi laki-laki dalam masalah mendidik dan menjaga nasab keturunan.” Guru beliau, Syeikh Abdurrahman As-Segaf gembira mendengar ucapan tersebut.

Syeikhah Sulthonah wafat tahun 843 H dan dimakamkan di kampung halamannya yang sekarang dikenal dengan Hauthah Sulthonah. Hingga sekarang, makam beliau masih sering diziarahi.

*) Disarikan dari Kitab Manaqib Syeikhah Suthonah Karangan Habib Abu Bakar Al-Masyhur dan diterjemahkan oleh Tim PCINU Yaman.

Baca Juga: Rabi’ah Al ‘Adawiyah dan Misteri 18 Potong Roti.
Baca Juga: Kisah Sufi dari Sekumpul, KehendakNya Itulah yang Aku Kehendaki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *