Distribusi Kurban ke Luar Daerah, Apa Hukumnya?

Banua.co – Apa hukumnya distribusi kurban ke luar daerah? Masalah ini mungkin layak kita perbincangkan hari ini. Karena seiring kemudahan akses dan informasi, banyak lembaga-lembaga filantrofi menawarkan bantuan distribusi kurban ke luar daerah, bahkan ke luar negeri.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Distribusi Kurban ke Luar Daerah, Apa Hukumnya?Sebelumnya, menurut para ulama tempat berkurban adalah di daerah mana seseorang berada ketika tiba waktu berkurban, yaitu Hari Raya Idul Adha. Baik daerah tersebut adalah tempat domisilinya ataupun dia musafir yang sedang berada di sana.

Masalahnya kemudian, bagaimana bila seseorang berkurban di luar daerah domisilinya. Atau bagaimana bila dia menyembelih di daerah domisilinya namun distribusi daging kurban ke luar daerah?

Hukum Memindah Kurban ke Luar Daerah

Menurut Madzhab Maliki, memindah kurban hingga ke daerah yang jaraknya boleh menqashar shalat hukumnya tidak boleh. Namun dikecualikan bila di tempat tersebut penduduknya lebih memerlukan ketimbang di tempat domisili yang berkurban. Ketika hal itu yang terjadi, maka memindah sebagian besar kurban justeru menjadi wajib.

Dalam kitab Al Fiqh Al Islam wa Adillatuh, Syekh Dr Wahbah Az Zuhaili menyebutkan:

وقال المالكية: ولا يجوز نقلها إلى مسافة قصر فأكثر إلا أن يكون أهل ذلك الموضع أشد حاجة من أهل محل الوجوب، فيجب نقل الأكثر لهم، وتفرقة الأقل على أهله

Ulama Madzhab Maliki mengatakan: Tidak boleh memindah kurban sampai batas jarak boleh menqashar shalat atau lebih. Terkecuali apabila penduduk daerah tersebut bersangatan memerlukan ketimbang penduduk tempat kurban wajib dilaksanakan (tempat domisili). Maka bila itu yang terjadi, wajib memindah sebagian besar kurban untuk mereka dan menyisakan sedikit untuk keluarga yang berkurban.

Berbeda dengan pendapat para ulama Madzhab Maliki, para ulama Madzhab Hanafi memandang makruh distribusi kurban ke daerah lain, terkecuali bila dikirim kepada keluarganya yang berada di daerah tersebut, atau bila penduduk daerah itu lebih memerlukan.

Berikut yang disebutkan Syekh Wahbah Az Zuhaili:

اما نقلها إلى بلد آخر: فقال الحنفية: يكره نقلها كالزكاة من بلد إلى بلد إلا أن ينقلها إلى قرابته أو إلى قوم هم أحوج إليها من أهل بلده، ولو نقل إلى غيرهم أجزأه مع الكراهة.

Adapun memindahkan kurban ke daerah lain, maka menurut ulama Madzhab Hanafi dimakruhkan, sebagaimana makruh memindah zakat dari satu daerah ke daerah lain. Dikecualikan bila memindah kurban ini kepada kerabatnya (yang berada di luar daerah) atau kepada penduduk yang lebih memerlukan ketimbang di daerahnya. Apabila memindah kepada selain mereka (yang disebutkan itu) kurbannya terpenuhi (sah) namun beserta makruh.

Menurut Al Imam An Nawawi, seorang ulama Madzhab Syafi’i, daerah berkurban itu adalah di mana posisi orang yang berkurban berada, baik daerah tinggalnya ataupun daerah lain yang dia sedang musafir di sana.

Adapun mengenai memindahkan dari daerah di mana dia berada, maka ada dua pendapat (ada yang membolehkan dan ada yang tidak).

Hal ini disebut Al Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab:

الخامسة: محل التضحية موضع المضحي، سواء كان بلده أو موضعه من السفر، بخلاف الهدي، فإنه يختص بالحرم، وفي نقل الأضحية وجهان حكاهما الرافعي وغيره تخريجاً من نقل الزكاة.

Yang Kelima: Tempat berkurban adalah tempat posisi orang yang berkurban, baik itu domisilinya ataupun tempat yang dia sedang musafir di sana. Berbeda dengan ‘Al Hadyu’. Maka itu tertentu hanya di tanah haram. Dan pada masalah memindah kurban, ada dua pendapat (wajhani) yang disebutkan oleh Imam Ar Rafi’i dan ulama lainnya, mentakhrij dari hukum memindah zakat.

Maksud Memindah Kurban

Namun, menurut dalam Hasyiyah Al ‘Ubbadi Al Ghurar Al Bahiyyah fi Syarh Al Bahjah Al Wardiyyah, yang dimaksud dengan daerah berkurban itu adalah daerah tempat menyembelih hewan kurban, bukan daerah posisi orang yang berkurban.

 وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ الْمُرَادَ بِبَلَدِهَا بَلَدُ ذَبْحِهَا وَقَدْ ظَنَّ بَعْضُ الطَّلَبَةِ أَنَّ شَرْطَ إجْزَاءِ الْأُضْحِيَّةَ ذَبْحُهَا بِبَلَدِ الْمُضَحِّي حَتَّى يَمْتَنِعَ عَلَى مَنْ أَرَادَ الْأُضْحِيَّةَ أَنْ يُوَكِّلَ مَنْ يَذْبَحُ عَنْهُ بِبَلَدٍ آخَرَ وَالظَّاهِرُ أَنَّ هَذَا وَهْمٌ بَلْ لَا يَتَعَيَّنُ أَنْ يَكُونَ الذَّبْحُ بِبَلَدِ الْمُضَحِّي بَلْ أَيُّ مَكَان ذَبَحَ فِيهِ بِنَفْسِهِ أَوْ نَائِبِهِ مِنْ بَلَدِهِ أَوْ بَلَدٍ أُخْرَى أَوْ بَادِيَةٍ أَجْزَأَ وَامْتَنَعَ نَقْلُهُ عَنْ فُقَرَاءِ ذَلِكَ الْمَكَانِ أَوْ فُقَرَاءِ أَقْرَبِ مَكَان إلَيْهِ إنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ فُقَرَاءُ فَلْيُتَأَمَّلْ

Dan semestinya diketahui bahwa yang dimaksud dengan daerah berkurban itu adalah daerah menyembelih kurban. Sungguh telah mengira sebagian penuntut ilmu bahwa syarat terpenuhi kurban adalah menyembelih di daerah domisili orang yang berkurban. Sehingga (dengan pemahaman seperti itu) terlaranglah orang yang ingin berkurban mewakilkan orang lain menyembelihkan kurban untuknya di daerah lain. Yang zhahir, pemahaman ini adalah wahm (sangkaan keliru).

Bahkan (yang benar) tidak tertentu bahwa penyembelihan kurban (harus) di daerah domisili orang yang berkurban. Bahkan (boleh menyembelih kurban) di negeri mana saja, baik orang yang berkurban menyembelih sendiri di negeri itu, ataupun wakilnya (yang mewakili penyembelihan), baik dari daerahnya atau daerah lain atau desa lain. Hal itu semua memenuhi (keabsahan kurban).

Dan yang terlarang adalah memindahkan (daging kurban) dari para fakir di daerah penyembelihan atau dari para fakir yang terdekat dengan daerah penyembelihan, bila di daerah penyembelihan tidak ada orang fakirnya. Maka hendaklah dipertimbangkan hal ini.

Kesimpulan Distribusi Kurban Ke Luar Daerah

Dari beberapa referensi di atas, dapat kita simpulkan ada dua praktek dalam memindah kurban, yaitu yang pertama memindah hewan kurban alias distribusi hewan kurban ke luar daerah domisili orang yang berkurban. Dan yang kedua adalah distribusi daging kurban ke luar daerah penyembelihan kurban.

Distribusi hewan kurban ke luar daerah, alias menyembelih kurban di luar daerah domisili orang yang berkurban mayoritas ulama membolehkan.

Adapun distribusi daging kurban ke luar daerah penyembelihan hewan kurban, maka ada yang melarang dan ada yang mengatakan makruh, dengan catatan bila yang menerima daging kurban di luar daerah tersebut bukan keluarga yang berkurban atau bukan orang fakir miskin yang lebih memerlukan ketimbang yang di daerahnya. Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah pemerhati Fikih dan Sosial Masyarakat. Alumnus Jurusan Fiqhiyyah Ma’had ‘Aly Darussalam Martapura.

Baca Juga: Kurban Seekor Kambing untuk Sekeluarga, Sah?
Baca Juga: Menggabungkan Akikah dan Kurban, Ini Rincian Hukumnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *