Budaya Banjar: Kada Tunggal Banih, Basa Gin Batakar Jua

Banua.co – Budaya Banjar memilih menyetarakan kata dengan menakar padi. Bagi petani, padi sangatlah berharga, hasil jerih payah semusim, dengan segala pengorbanan. Mengunakannya, harus ditakar dengan cermat. Demikian juga kata.

Oleh: Noorhalis Majid *)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Budaya Banjar: Kada Tunggal Banih, Basa Gin Batakar JuaKata-kata – ucapan – perkataan, harus dilihat baik dan buruknya, tidak asal sampaikan. Setiap yang sudah diucapkan, tidak dapat ditarik kembali, karena itu harus dipikirkan, dipertimbangkan segala konsekuensi – baik dan buruknya, itulah yang dimaksud kada tunggal banih, basa gin batakar jua.

Tidak hanya padi, kata-kata juga harus ditakar, begitu arti harfiahnya. Ditakar, berarti diukur kebutuhannya, dipertimbangkan segala resikonya. Jangan mentang-mentang pandai mengolah kata, sekehendak hati menyampaikan berbagai hal, sampai membuat orang lain tersinggung. Katakan seperlunya – sejelasnya, bukan seluruhnya, apalagi hingga berlebihan.

Menakar kata-kata, bukan hanya terkait apa yang disampaikan – urutan dan pilihan kata yang dipilih, tetapi juga bagaimana menyampaikannya.

Pandai menakar, berarti mampu melihat berbagai situasi pada saat kapan disampaikan, apa yang disampaikan, bagaimana cara menyampaikan, bahkan, yang tidak kalah penting, siapa menyampaikan. Semuanya harus ditakar – dipertimbangkan agar tepat.

Terkadang, sekalipun isinya benar, cara menyampaikannya bagus, namun bila yang menyampaikan kurang dipercaya, bisa saja semua yang disampaikan tidak dianggap.

Untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting, terlebih untuk menyadarkan banyak orang, bisa saja menggunakan mulut orang lain yang dipercaya. Mulut pejabat pemerintah, mulut ulama atau tokoh terkenal, lebih didengarkan, walau isinya sama saja dengan yang disampaikan orang biasa.

Begitulah kehidupan, orang lebih menghargai siapa yang menyampaikan, dari pada isi yang disampaikan. Sekalipun banyak nasehat untuk lebih memperhatikan isi dari pada penyampainya, tetap saja penyampai memegang peranan sangat penting.

Mengingat setiap kata yang sudah disampaikan, sulit ditarik kembali, maka harus cermat berkata-kata. Ada banyak nasehat soal pentingnya menjaga perkataan. Juga banyak petuah soal luka yang sulit diobati akibat perkataan. Perkataan, disetarakan dengan waktu, pedang, dan lain sebagainya. Menggambarkan dia sangat berharga.

Budaya banjar memilih menyetarakan kata dengan menakar padi. Bagi petani, padi sangatlah berharga, hasil jerih payah semusim, dengan segala pengorbanan.

Mengunakan kata, harus ditakar dengan cermat. Begitulah semestinya kata-kata, semua yang dikeluarkan juga harus ditakar, kada tunggal banih, basa gin batakar jua. (nm)

*) Penulis adalah pemerhati budaya Banjar.

Baca Juga: Paribasa Orang Banjar: Kajal Barait
Baca Juga: Telor Mata Sapi, Ayam Nang Mahajan Sapi Ampun Ngaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *