Peribahasa Banjar: Antah Bakumpul Antah, Baras Bakumpul Baras

Banua.co – Peribahasa Banjar yang satu ini menyoroti pergaulan orang-orang Banjar. Antah Bakumpul Antah, Baras Bamumpul Baras, demikian bunyinya. Apa maksudnya? Simak ulasan pemerhati budaya dan tradisi Banjar berikut ini!

Oleh: Noorhalis Majid

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Peribahasa Banjar: Antah Bakumpul Antah, Baras Bakumpul BarasBila mencari teman, sebaiknya cari yang punya banyak kesamaan, supaya mudah bergaul. Ada juga yang memaknai, cari yang sederajat, sehingga bisa memahami satu dengan lainnya. Bila terlalu jauh perbedaannya, baik menyangkut selera – hobi, kegemaran atau kesukaan lainnya, sulit seiring sejalan, itulah makna antah bakumpul antah, baras bakumpul baras.

Antah berkumpul antah, beras berkumpul beras, begitu arti harfiah peribahasa Banjar ini. Antah, adalah bulir padi yang tidak menjadi beras, terikut dalam beras hasil penggilingan. Kulit padi yang masuk dalam beras, sering kali juga disebut antah.

Beras, sebelum ditanak, dibersihkan dari antah, agar seluruhnya hanya beras. Antah tidak bisa dimasak, hanya cocok untuk makanan ayam atau burung.

Dulu ada tampi, alat untuk memisahkan beras dan antah. Beras yang akan ditanak, ditampi terlebih dahulu. Antah dikumpulkan sesuai peruntukannya, dan beras yang sudah bersih siap dimasak.

Sekarang sudah tidak diperlukan tampi, beras yang dijual di pasaran, sudah bersih. Kualitas penggilingan padi, mampu menghasilkan beras bersih, bahkan bersih bagai mutiara. Tidak ada lagi antah, apalagi batu, krikil dan lainnya yang ikut dalam kumpulan beras.

Sekalipun tampi sudah tidak dipakai lagi, dan tidak ada lagi antah dalam beras. Ungkapan peribahasa Banjar ini tetap ada sebagai pelajaran hidup. Bahwa kesamaan dan kecocokan dalam berbagai hal, mempermudah pergaulan. Tidak jarang sekedar berbeda selera, terjadi percekcokan. Sebabnya, karena tidak saling bertoleransi.

Di tengah masyarakat yang hetrogen – multikultur, etnis dan agama seperti ini, tentu sulit bila selalu ingin mencari persamaan. Karena itu tidak ada cara lain, kecuali berlapang dada, menerima dan terbuka pada kenyataan yang berbeda. Di sini toleransi mengambil peran penting, yaitu mampu memahami – menerima perbedaan sebagai satu kenyataan, dan hidup damai dalam perbedaan.

Dari pada selalu bersitegang pada perbedaan, lebih baik melatih diri – membiasakan hidup dalam perbedaan. Bila semua sudah terbiasa, mampu hidup di tengah berbagai perbedaan, bahkan cinta pada kenyataan berbeda, berarti semua toleran, sudah menjadi beras. Tidak perlu lagi memilah, sebagaimana peribahasa Banjar: antah bakumpul antah, baras bakumpul baras. (nm).

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan. Pemerhati Budaya Banjar.

Baca Juga: Budaya Banjar: Kada Tunggal Banih, Basa Gin Batakar Jua.
Baca Juga: Paribasa Orang Banjar: Kajal Barait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *