Hukum Kurban Anak yang Belum Baligh

Banua.co – Terkadang, kita menemui kurban atas nama seorang anak kecil yang belum baligh. Sebenarnya, apa hukum kurban anak yang belum baligh ini? Apakah anak kecil sunnah berkurban? Apakah sah dia berkurban? Apa pula hukumnya bila orangtuanya berkurban untuknya? Mari kita telaah bersama.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Hukum Kurban Anak yang Belum BalighSebelum membahas hukum kurban anak yang belum baligh, ada baiknya bila kita mengenal terlebih dahulu dua kategori hukum dalam syariat Islam, yaitu Taklifi dan Wadh’i.

Hukum Taklifi adalah hukum berkenaan dengan pembebanan syariat. Menurut Madzhab Syafi’i, ada ada lima hukum taklifi, yaitu fardhu, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Setiap perbuatan seorang muslim tidak terlepas dari lima hukum tersebut.

Adapun Hukum Wadh’i adalah hukum yang berkaitan dengan sah tidaknya pelaksanaan hukum taklifi. Professor Syekh Abdul Wahhab Khalaf dalam kitab Ushul Fiqh mendefinisikan:

وأما الحكم الوضعي: فهو ما اقتضى وضع شيء سببًا لشيء، أو شرطًا له، أو مانعًا منه

Hukum wadh’i ialah yang menuntut meletakkan sesuatu sebagai sebab, atau sebagai syarat, atau sebagai penegah dari (terciptanya hukum).

Antara hukum wadh’i dengan hukum taklifi saling terkait. Misal, secara taklifi seorang yang baligh berakal wajib melaksanakan shalat, namun secara wadh’i shalat tidak sah apabila tidak terpenuhi sebab wajibnya, yaitu masuk waktu. Sehingga, seseorang yang melaksanakan shalat sebelum masuk waktu dihukumkan tidak sah dan belum memenuhi kewajiban.

Kurban Anak yang Belum Baligh Menurut Madzhab Empat

Secara wadh’i, para ulama berbeda pendapat tentang baligh, apakah merupakan syarat atau bukan terhadap hukum taklifi kurban.

Madzhab Maliki dan Hanbali berpendapat, baligh bukan merupakan syarat bagi hukum sunnah berkurban.

Syekh Abdurrahman Al Jazairi, dalam Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah menyebutkan:

أما البلوغ فليس شرطا لسنيتها فتسن للصبي القادر عليها ويضحي عنه وليه ولو كان الصبي يتيما عند المالكية والحنابلة

Adapun baligh, maka bukan merupakan syarat bagi kesunnahan kurban. Maka disunnahkan bagi anak kecil yang mampu berkurban, dan disunnahkan (pula) wali seorang anak berkurban untuk anak tersebut, sekalipun anak yatim. Ini menurut madzhab Maliki dan Hanbali.

Senada dengan Madzhab Maliki dan Hanbali, para ulama Madzhab Hanafi -yang berpendapat hukum berkurban adalah wajib-, juga berpendapat baligh bukan merupakan syarat bagi hukum taklifi berkurban.

الحنفية قالوا : البلوغ ليس شرطا لوجوبها فتجب على الصبي عندهما ويضحي وليه من مال الصبي إن كان له مال فلا يضحي الأب عن ولده الصغير

Para ulama Madzhab Hanafi berpendapat, baligh bukan merupakan syarat bagi wajibnya berkurban. Maka wajib atas seorang anak kecil berkurban, dan seorang wali anak wajib berkurban dengan harta milik si anak, bila si anak memiliki harta. (Dengan demikian) maka jika seorang anak memiliki harta, tidak sah bapaknya berkurban (dengan hartanya sendiri) untuk anaknya yang masih kecil (belum baligh) tersebut.

Berbeda dengan tiga madzhab di atas, Madzhab Syafi’i berpendapat baligh adalah syarat bagi hukum taklifi kurban. Karenanya, tidak sunnah bagi anak kecil berkurban, sebab tidak terpenuhi syaratnya.

الشافعية قالوا : لا تسن للصغير فالبلوغ شرط لسنيتها

Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa kurban tidak disunnahkan bagi anak kecil. Baligh adalah syarat bagi (berlakunya hukum) kesunnahannya.

Selanjutnya, bila kita mengikuti pendapat Madzhab Syafi’i yang mengatakan anak kecil tidak sunnah berkurban, maka apakah sah andai dia berkurban. Atau, andai orangtuanya berkurban untuknya?

Kurban Anak yang Belum Baligh Menurut Madzhab Syafi’i

Seorang ulama panutan madzhab Syafi’i, Syekh Ibnu Hajar Al Haytami dalam kitab Tuhfah Al Muhtaj menjelaskan:

ثُمَّ مَذْهَبُنَا أَنَّ التَّضْحِيَةَ ( سُنَّةٌ ) فِي حَقِّنَا لِحُرٍّ أَوْ مُبَعَّضٍ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ رَشِيدٍ نَعَمْ لِلْوَلِيِّ الْأَبِ أَوْ الْجَدِّ لَا غَيْرُ التَّضْحِيَةِ عَنْ مُوَلِّيهِ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ

Kemudian madzhab kita berpendapat bahwa berkurban sunnat pada hak kita bagi orang yang merdeka, atau budak muba’adh (setengah budak), yang muslim, mukallaf, cerdas. Akan tetapi, bagi seorang wali, baik ayah ataupun kakek, bukan bagi yang selain mereka, boleh berkurban untuk yang di bawah perwaliannya, dengan hartanya sendiri (bukan dengan harta orang yang di bawah perwaliannya tersebut).

Berdasarkan penjelasan dari Syekh Ibnu Hajar di atas, boleh saja dan sah bila seorang wali anak berkurban untuk anak tersebut. Dengan catatan biaya kurban tidak diambil dari harta si anak.

Kenapa demikian? Karena seorang anak kecil yang belum baligh berakal, bila memiliki harta maka hartanya berstatus ‘mahjur’ (terlarang). Yaitu, meski dia memiliki harta namun dia tidak diberi kebebasan untuk mentasharrufkan (menggunakan) hartanya tersebut.

Anak kecil, menurut Madzhab Syafi’i termasuk salah satu kategori dari enam kategori manusia yang dilarang menggunakan hartanya sendiri.

Syekh Ibn Qasim dalam Matn Al Ghayah wa At Taqrib menyebutkan enam kategori tersebut:

( فصل ) والحجر على ستة الصبي والمجنون والسفية والمبذر لماله والمفلس الذي ارتكبتها لديون والمريض المخوف عليه فيما زاد على الثلث والعبد الذي لم يؤذن له في التجارة

Pelarangan (menggunakan hartanya sendiri) atas enam kategori, yaitu anak kecil, orang gila, orang idiot, orang yang suka menghamburkan harta, orang yang pailit (bangkrut) yang hartanya untuk bayar hutang, orang sakit keras bila lebih dari sepertiga hartanya, dan budak yang tidak diizinkan tuannya untuk berdagang. 

Kesimpulan Hukum Kurban Anak yang Belum Baligh

Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa menurut Madzhab Syafi’i, seorang anak kecil yang belum baligh berakal tidak sunnah berkurban. Mereka tidak boleh berkurban bila menggunakan hartanya. Namun bila seorang wali anak ingin berkurban untuk mereka, diperbolehkan apabila biayanya diambil dari harta si wali dan tidak boleh bila diambil dari harta si anak.

Sebaliknya, menurut Madzhab Maliki dan Hanbali, seorang anak kecil justeru sunnah berkurban. Namun, hukum sunnah berkurban terpenuhi bila wali-nya berkurban untuknya.

Menurut Madzhab Hanafi, anak kecil yang belum baligh wajib berkurban dari hartanya sendiri, bila dia memiliki harta. Bahkan, bagi seorang anak yang memiliki harta ini,  wali-nya tidak sah berkurban untuknya bila tidak diambil dari harta si anak.

Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah pemerhati Fikih dan Sosial Masyarakat, Alumnus Jurusan Fiqhiyyah Ma’had ‘Aly Darussalam Martapura.

Baca Juga: Distribusi Kurban ke Luar Daerah, Apa Hukumnya?
Baca Juga: Menggabungkan Akikah dan Kurban, Ini Rincian Hukumnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *