Ungkapan Banjar: Cacing Handak Managuk Naga

Ungkapan Banjar ini tidak dimaksudkan menghina atau mengecilkan hati yang lemah tapi memiliki tekad kuat. Ia ingin mengajak realistis mengukur kemampuan. 

Oleh: Noorhalis Majid *)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Ungkapan Banjar: Cacing Handak Managuk NagaTekad boleh saja besar, tapi mesti diukur dengan kemampuan dimiliki. Kalaupun ingin mengalahkan seseorang yang sangat kuat, seorang yang kaya lagi berkuasa, harus mempersiapkan diri dengan matang. Bila tidak, dan terbukti tidak mampu karena sangat lemah, maka itulah yang dimaksud cacing handak managuk naga.

Cacing hendak menelan naga, begitu arti harfiahnya. Seorang yang lemah, ingin mengalahkan yang berkuasa. Ungkapan Banjar ini tidak dimaksudkan menghina atau mengecilkan hati yang lemah tapi memiliki tekad kuat. Ia ingin mengajak realistis mengukur kemampuan, lalu mempersiapkan diri, termasuk dengan mengorganisasikan segala potensi yang mendukung, sehingga cacing bisa saja berubah menjadi naga dan akhirnya setara untuk melawan naga lainnya.

Kalau tidak pernah mempersiapkan diri, maka cacing terasa mustahil mengalahkan naga. Dalam banyak cerita, tentu ada saja keajaiban, karena kelemahan bisa berubah menjadi kekuatan, wujud dari banyak simpatik, sehingga terhimpun berbagai potensi untuk turut mendukung. Itupun artinya menjadi kuat dahulu melalui banyak dukungan, baru bisa melawan.

Terkadang, walau tahu bahwa diri lemah, namun cacing memang harus berani melawan naga. Bukan untuk menang, tapi ingin memberi tahu bahwa yang lemah juga bisa melawan.

Kalah dan menang adalah putusan akhir, sedangkan melawan adalah pilihan menolak dihinakan – ditindas – disepelekan. Melawan adalah bentuk sikap berontak pada keadaan yang tidak disetujui.

Betapa banyak pihak yang lemah – takut melawan, walau haknya dirampas. Sering kita menemukan cerita petani atau masyarakat adat yang lemah – tidak pernah mengecap bangku pendidikan, tanahnya dirampas – diambil dengan paksa. Berbagai kasus penyerobotan tanah oleh kekuatan kekuasaan, membuatnya tidak berdaya. Bahkan pengadilan – aparat penegak hukum, dijadikan alat menakut-nakuti. Pasrah pada kenyataan, pada takdir yang tidak bisa dilawan. Merasa takdirnya sebagai cacing, tidak mungkin mampu mengalahkan naga.

Ungkapan Banjar ini, memberikan pelajaran, bahwa pihak yang dianggap lemah, bisa saja memiliki tekad, memilih melawan – bahkan ingin mengalahkan. Walau mustahil melawan yang kuat lagi berkuasa, tidak ada salahnya berani melawan, sekalipun digambarkan begitu tragis, cacing handak managuk naga. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan, Pemerhati Budaya Banjar.

Baca Juga: Peribahasa Banjar: Antah Bakumpul Antah, Baras Bakumpul Baras.
Baca Juga: Budaya Banjar: Kada Tunggal Banih, Basa Gin Batakar Jua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *