Falsafah Hidup Orang Banjar: Bawa Batanang

Pernah mendengar orang Banjar mengucapkan: Bawa Batanang, Musuh Harat? Apa makna falsafah hidup orang Banjar ini? Simak ulasan pemerhati Budaya Banjar berikut.

Oleh: Noorhalis Majid *)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Falsafah Hidup Orang Banjar: Bawa BatanangSaat situasi tidak stabil – tensi dan atmosfir semakin memanas, harus pandai mengendalikan suasana. Apalagi emosi yang terefleksi dalam bentuk sikap dan tindakan semakin meninggi, maka tidak ada cara, kecuali menenangkan diri, bila tidak – pasti akan berbuah ketidakbaikan – lepas kendali, itulah yang dimaksud bawa batanang.

Bertenang diri, begitu kira-kira arti harfiah falsafah hidup orang Banjar ‘bawa batanang’. Seperti mengendapkan sesuatu, agar yang semula berkecamuk – bergolak, mengakibatkan tensi tinggi, bisa melandai dan akhirnya kembali normal.

Ada banyak padanan ungkapan lain falsafah hidup orang Banjar ‘bawa batanang'” ini, misal; bawa baingat, bawa bazikir, bawa minum dan lain sebagainya, bahkan ada yang mengungkapkan bawa maunjun – rupanya, memacing ikan bagian dari cara menenangkan diri, saat memancing, ada situasi tenang – syahdu layaknya orang berefleksi.

Bawa batanang tentu lebih universal – berlaku umum, bisa diperuntukkan bagi siapa saja. Berbeda dengan bawa baingat, bawa bazikir, apalagi bawa baudu – bawa sumbahyang, semuanya khas Islam – tidak universal. Walau substansinya sama, agar ingat, sehingga kembali rasional – tidak emosional. Tidak grasah-grusuh, melakukan tindakan yang tidak terkontrol.

Semua orang perlu tenang, sebelum mengambil langkah dan tindakan. Bahkan agama melarang mengambil keputusan saat marah – situasi masih emosi, belum stabil. Boleh marah, asal terkontrol. Marah yang tidak terkontrol, tentu dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Ungkapan ‘bawa batanang’ ini satu bentuk kearifan – kekayaan pengetahuan. Beruntung Banjar memiliki kebudayaan sebagai basis untuk kembali, ketika situasi publik tidak terkendali.

Ketika keadaan atau tensi publik semakin memanas karena sesuatu – baik karena ekonomi, sosial dan politik, maka ungkapan ‘bawa batanang’ ini bagai siraman air yang dapat memadamkan api.

Apalagi bila diucapkan oleh orang yang dihormati, misal; ulama – tokoh agama, tokoh masyarakat. Dalam lingkup kecil, diucapkan oleh orang tua atau orang yang dituakan. Sehingga mampu menjadi penyejuk untuk bertenang diri dan stabil.

Percekcokan sering sekali terjadi, dalam lingkup apapun. Bahkan karena persaingan semakin ketat, menimbulkan ketegangan – disharmoni. Bagaimanapun situasinya, walau emosi sudah sampai di ubun-ubun – darah bergejolak tak tertahankan, kebudayaan memberi penyejuk, sehingga manusia tidak kehilangan adab dan kewarasannya, ia berujar dalam kalimat pendek, bawa batanang. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan, Pemerhati Budaya Banjar.

Baca Juga: Ungkapan Banjar: Cacing Handak Managuk Naga.
Baca Juga: Paribasa Banua Banjar: Kandal Kulit Pada Isi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *