Kurban untuk Orang yang Sudah Mati Menurut Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari

Banua.co – Termasuk ulama yang berpandangan ibadah kurban berbeda dengan sedekah biasa dan tidak sah dikerjakan untuk orang yang sudah mati bila tanpa wasiatnya, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kalampayan, ulama besar Madzhab Syafi’i dari Banua Banjar.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Kurban untuk Orang yang Sudah Mati Menurut Syekh Muhammad Arsyad Al BanjariSejatinya tidak ada kesepakatan para ulama mengenai hukum kurban untuk orang yang sudah mati. Ada yang memandang sah dan ada yang tidak.

Perbedaan pendapat ini berhulu pada perbedaan memandang posisi kurban di mata syari’at. Ada yang memandang kurban adalah suatu ibadah khusus yang telah ditetapkan aturannya oleh syariat, dan ada yang memandang kurban sebagai sebuah sedekah, hanya saja dikhususkan pada hari tertentu.

Mereka yang berpandangan kurban adalah ibadah mahdhah, tidak membolehkan dan tidak menganggap sah kurban untuk orang lain, baik masih hidup atau sudah mati, bila tanpa izin atau wasiat orang yang bersangkutan.

Sementara, mereka yang berpandangan ibadah kurban semakna dengan sedekah, maka membolehkan dan menganggap sah kurban untuk orang lain, khususnya untuk orang yang sudah mati.

Ibadah Kurban untuk Orang Mati Mutlak Sah.

Imam Abu Al Hasan Al ‘Ubbadi (495 – 415 H), seorang ulama Madzhab Syafi’i aliran Khurasan berpendapat kurban untuk orang yang sudah meninggal dunia atau mati, boleh secara mutlak. Maksudnya, meski tidak ada wasiat dari orang yang meninggal tersebut.

(وَأَمَّا) التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ

Adapun berkurban untuk orang yang sudah mati, maka Abu Al Hasan Al Abbadi memperbolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah. Adapun alasan kebolehannya adalah karena ibadah kurban bagian dari sedekah. Sedangkan sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma` para ulama” 

Pendapat ini kemudian diikuti sebagian ulama Madzhab Syafi’i generasi belakang, di antaranya Imam Ar Ramli (919 – 1004 H), sebagaimana disebutkan dalam Hasyiyah Al ‘Umairah. Imam Ar Ramli memperkuat argumennya bahwa hal ini telah dilakukan oleh seorang muhaddits besar, guru Imam Al Bukhari, yaitu Abu Al Abbas As Sarraj.

وَقَالَ الرَّافِعِيُّ : فَيَنْبَغِي أَنْ يَقَعَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُوصِ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَحُكِيَ عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ السَّرَّاجِ شَيْخِ الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ خَتَمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مِنْ عَشَرَةِ آلَافِ خَتْمَةٍ وَضَحَّى عَنْهُ مِثْلَ ذَلِكَ

“Dan Imam Ar Rafi’i berkata: Maka semestinya terjadi (sah kurban) untuknya (orang yang sudah mati). Meskipun (orang yang sudah mati tersebut) tidak berwasiat (minta agar berkurban untuknya). Karena kurban adalah bagian dari sedekah. Dan diceritakan dari Abi Al ‘Abbas As Sarraj, guru Imam Al Bukhari, bahwa dia mengkhatamkan (Al Qur’an) bagi Rasulullah shalallahu’alaih wa aalih wa sallam lebih dari seribu kali dan berkurban untuknya seperti itu juga”.

Ibadah Kurban untuk Orang Mati Tidak Sah.

Sementara, sebagian lain ulama Madzhab Syafi’i berpandangan ibadah kurban tidak sama dengan sedekah. Kurban adalah suatu ibadah mahdhah, yang telah ditentukan syarat dan rukunnya dalam syariat. Sehingga ibadah kurban terikat dengan aturan-aturan tertentu yang apabila dilanggar maka tidak sah atau tidak terhitung sebagai kurban.

Kelompok kedua ini memandang ibadah kurban mirip dengan membayarkan Zakat Fitrah untuk orang lain, yaitu tidak sah bila tanpa izin orang yang bersangkutan.

Baca Juga: Hukum Kurban Anak yang Belum Baligh.

Termasuk ulama yang berpandangan ibadah kurban berbeda dengan sedekah biasa dan tidak sah dikerjakan untuk orang yang sudah mati bila tanpa wasiatnya, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kalampayan, ulama besar Madzhab Syafi’i dari Banua Banjar.

Ketika membahas ibadah kurban dalam kitab Sabilal Muhtadin, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mengemukakan:

“Dan tiada harus, lagi (tiada) memadai, mengurban daripada orang yang hidup dengan tiada izinnya. Dan telah terdahulu perkataan bahwasanya harus (maksudnya boleh) bagi bapak atau nenek mengurban anak atau cucu daripada harta dirinya.

Dan demikian lagi tiada harus, lagi tiada memadai, mengurban (untuk) orang yang mati dengan tiada wasiat daripadanya. Maka (hukum kurban) bersalahan dengan (hukum) sedekah, bersalahan jikalau ada wasiatnya, maka yaitu harus (boleh).” 

Pendapat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari bahwa tidak sah kurban untuk orang yang sudah mati ini adalah pendapat arus besar Madzhab Syafi’i generasi akhir. Syekh Mahfuzh At Tirmasi (Tremas) misalnya, dalam Hasyiyah Mawhibah Dzi Al Fadhl menulis:

وَلاَيُضْحِيْ أَحَدٌ عَنْ مَيّتٍ لَمْ يُوْصِ لِمَا مَرَّ وَفُرِّقَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الصَّدَقَةِ بِأَنَّهَا تُشْبِهُ الْفِدَاءَ عَنِ النَّفْسِ فَتَوَقَّفَتْ عَلَى اْلإِذْنِ بِخِلاَفِ الصَّدَقَةِ وَمِنْ ثَمَّ لاَيَفْعَلُهَا وَارِثٌ وَأَجْنَبِيٌّ عَنِ الْمَيِّتَ وَإِنْ وَجَبَتْ بِخِلاَفِ نَحْوِ حَجٍّ وَزَكَاةٍ وَكِفَارَةٍ ِلأَنَّ هذِهِ لاَ فِدَاءَ فِيْهَا فَأَشْبَهَتِ الْمَدْيُوْنُ وَلاَ كَذلِكَ التَّضْحِيَّةُ

“Seseorang tidak boleh berkurban dari mayit yang tidak berwasiat karena alasan yang telah disebutkan. Antara kurban dengan sedekah dibedakan dengan bahwa kurban itu menyerupai penebusan (pembebasan) diri, maka keabsahannya terpaku pada izin (yang bersangkutan). (Hal ini) berbeda dengan sedekah. (Berhulu) dari situ, tidak (sah) melakukan (kurban untuk orang lain) baik seorang yang bukan keluarga maupun ahli warisnya. Sekalipun kurban tersebut wajib (sebab nadzar mayit). Berbeda dengan ibadah seumpama haji, zakat, dan kafarat. Karena pada ibadah-ibadah tersebut tidak ada makna fida (penebusan diri), maka menyerupai hutang (yang boleh dibayarkan orang lain). Ibadah kurban tidak seperti itu.”

Meski, menurut pendapat sebagian ulama Madzhab Syafi’i, ibadah kurban tidak sah untuk orang yang sudah mati, namun tidak ada perbedaan pendapat dari mereka apabila pahala kurban dihadiahkan untuk orang yang sudah mati.

Sehingga, saran penulis, bila kita ingin berkurban untuk orang yang sudah mati, baik dari keluarga kita ataupun orang lain, maka cukup pahala kurbannya saja hadiahkan untuk mereka. Hal ini agar kita keluar dari ikhtilaf (perbedaan pendapat) para ulama yang mengatakan tidak sah. Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah Pemerhati Fikih dan Sosial Masyarakat, Alumnus Jurusan Fiqhiyyah Ma’had ‘Aly Darussalam Martapura.

Baca Juga: Hukum Daging Kurban Dijadikan Masakan untuk Jamuan Walimah, Haulan, dan Semacamnya.

Baca Juga: Viral, Informasi Hoax Mencatut Nama Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari!
Kurban 2021, PCNU Banjar Potong 10 Sapi dan 2 Kambing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *