Refleksi Ungkapan Urang Banjar: Ma Uwas-uwasi

Banua.co – Pernah mendengar ungkapan urang Banjar “Ma Uwas-uwasi?” Apa makna dari istilah ini? Mari kita simak refleksi berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid *)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Refleksi Ungkapan Urang Banjar: Ma Uwas-uwasiDengan berbagai cara mencegah agar batal dan tidak terjadi, memprovokasi secara negatif – bahkan menakut-nakuti. Seolah hal dimaksud sangat horror – mengerikan, atau sangat berat tidak mungkin dilakukan. Lebih baik batal, tidak usah, hindari saja, dan tinggalkan, tindakan itulah yang dimaksud ma uwas-uwasi.

Menakut-nakuti, begitu kira-kira arti yang tepat ungkapan urang Banjar ini. Saat seseorang perlu dukungan, motivasi agar mampu melakukan, ungkapan ini justru sebaliknya. Membuat yang bersemangat penuh tekad, justru mengurungkan niat. Apalagi bila masih ragu-ragu, setengah hati, lebih cepat lagi membatalkannya. Karena berbagai kemungkinan negatif disampaikan sebagai bahan pertimbangan.

Orang tua yang sudah berniat memasukkan anaknya ke pesantren misalnya, ketika meminta pertimbangan pada orang yang tidak tepat, tidak paham soal pesantren dan pentingnya ilmu agama, bisa saja bukan mendapatkan motivasi, justru sebaliknya.

Disampaikan berbagai cerita menyedihkan tentang situasi pesantren tempo dulu, soal makanan yang dijatah – bahkan gizi anak tak terperhatikan, mandi susah – harus bergantian – banyak yang kena penyakit kulit, tidur dengan nyamuk, salah sedikit dihukum.

Berbagai cerita menakutkan tersebut membuat orang tua mengurungkan niatnya memasukkan anak ke pesantren.

Sebaliknya, bila yang dimintai pendapat orang yang paham, tentu ceritanya berbeda, di pesantren akan diajar berbagai ilmu agama untuk bekal dunia dan akherat, bahkan diajar langsung oleh kiyai – guru agama yang mumpuni – menjadi murid langsung mereka, kedisiplinan ditanamkan, kekompakan – persaudaraan menjadi semangat dan kehidupan keseharian, pandai bergaul dan berkomunikasi, bahkan menguasai berbagai bahasa, dan lain-lain, menggambarkan betapa istimewanya menuntut ilmu di pesantren.

Baca Juga: Santri dan Pondok Pesantren, Benteng Pancasila Negeri Ini.

Ungkapan urang Banjar ini tentu tidak selalu bermakna negatif. Bila rencana yang akan dilakukan memang membahayakan – tidak logis, perlu pula ma uwas-uwasi, agar memahami ada resiko yang tidak kecil dalam rencana tersebut.

Misalnya ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah, tapi tidak punya uang dan bukan orang terkenal. Hanya modal nekat saja, saat meminta pertimbangan pada orang yang logis – realistis, bisa saja berbagai resiko disampaikan, akhirnya kembali rasional dan urung niatnya. Namun, bila sudah menjadi tekad, akan nekad tetap maju, tidak peduli seberapa banyak yang ma uwas-uwasi. (nm)

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan, Pemerhati Budaya Banjar.

Baca Juga: Falsafah Hidup Orang Banjar: Bawa Batanang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *