Keterlibatan Tunji Setta dalam Pendirian Pesantren Darussalam Martapura

Catatan tentang keterlibatan seorang saudagar kaya bernama Tunji Setta dalam pendirian Pondok Pesantren Darussalam Martapura berasal dari Memorie van Overgave Onderafdeeling Martapoera Door yang disusun oleh H M Holtrust. Sebagai seorang saudagar kaya, status sosial Tunji Setta sangat tinggi di mata orang-orang Belanda. Bahkan menurut catatan Holtrust, Tunji Setta bersama anaknya yang bernama Haji Abdurrahman pernah diundang ke Belanda.

Oleh: Khairullah Zain

Banua.co – Kita mungkin kurang akrab mendengan nama Tunji Setta sebagai seorang saudagar kaya yang terlibat dalam pendirian pondok pesantren Darussalam Martapura. Kebanyakan orang hanya mengenal nama Syekh Kasyful Anwar sebagai pendiri pondok pesantren Darussalam. Tapi sebagian alumni Darussalam masih mengenang nama Tunji Setta sebagai seorang saudagar kaya yang terlibat dalam pendirian Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Memang, kita sulit menemukan catatan tentang keterlibatan Tunji Setta dalam pendirian Pondok Pesantren Darussalam. Karena memang tradisi mencatat kurang akrab bagi masyarakat Banjar. Orang Banjar telah terbiasa dengan tradisi lisan, sehingga sejarah hanya bisa didapatkan dari kisah yang ditransfer melalui mulut ke mulut. Sebab itu, akurasinya rendah.

Beruntung, ada catatan yang berasal dari pejabat Belanda, yaitu Memorie van Overgave (M v O) yang bisa kita jadikan rujukan. Memorie van Overgave adalah laporan serah terima jabatan pada masa pemerintah kolonial Belanda. Catatan ini sebagai panduan dari seorang pejabat lama kepada pejabat baru dalam melanjutkan pemerintahan.

Catatan tentang keterlibatan seorang saudagar kaya bernama Tunji Setta dalam pendirian Pondok Pesantren Darussalam Martapura bisa kita lacak dalam Memorie van Overgave Onderafdeeling Martapoera Door tulisan H M Holtrust.

Sebagai seorang saudagar kaya, status sosial Tunji Setta sangat tinggi di mata orang-orang Belanda. Bahkan menurut catatan Holtrust, Tunji Setta bersama anaknya yang bernama Haji Abdurrahman pernah menghadiri undangan pemerintah ke Belanda.

Tunji Setta, Saudagar Kaya Martapura

Nama Tunji sebenarnya adalah gelar, yaitu singkatan dari Tuan Haji. Gelar Tuan Haji ini untuk membedakan antara ulama dengan non ulama. Ketika itu, yang mampu melaksanakan ibadah haji hanya dari kalangan ulama dan saudagar kaya. Seorang ulama bila sudah menunaikan ibadah haji mendapat gelar Tuan Guru Haji, sementara seorang saudagar akan mendapat gelar Tuan Haji alias Tunji.

Sejak tahun 1920-an, Belanda mencatat ada seorang saudagar kaya bernama Tunji Setta di Martapura. Ayahnya bernama Muhammad Arsyad. Adapun isterinya seorang muslimah keturunan Tionghoa dari marga Lim yang telah memakai nama lokal Hajjah Intan.

Menurut catatan Belanda, Tunji Setta memiliki banyak usaha. Dia punya 30 perahu pengangkut batubara, 37 perahu tambang, 16.423 perahu jukung. Tunji Setta juga punya usaha pabrik karet. Pada tahun 1927 pabrik karet Tunji Setta telah menghasilkan 1931 pikul alias 120.687 kilograms karet kering.

Seperti umumnya para pengusaha Martapura zaman, Tunji Setta pun berbisnis intan. Dia punya usaha tambang dan penggosokan intan. Untuk penggosokan intan, dia mempekerjakan 12 orang yang bekerja menggosok intan hasil dari tambang miliknya.

Tunji Setta terus mengembangkan usahanya. Tahun 1928, Tunji Setta membuka pabrik es untuk memenuhi kebutuhan warga kota Martapura.  Selain itu, Tunji Setta punya sawah yang sangat luas. Banyak para petani Martapura menggarap Sawah Tunji Setta dengan sistem aron, yaitu bagi hasil antara pemilik dengan pihak petani yang menggarap.

Berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Martapura

Tunji Setta tidak hanya terkenal sebagai pengusaha. Namun dia juga seorang yang gemar menuntut ilmu agama. Setiap selesai sholat Jum’at, Tunji Setta membuka majlis mudzakarah di rumahnya. Dia menghadirkan para ulama, khususnya Tuan Guru Kasyful Anwar. Tuan Guru Kasyful Anwar adalah seorang ulama alumnus Makkah yang dipercaya memimpin Darussalam sejak tahun 1922, melanjutkan kepemimpinan Tuan Guru Hasan Ahmad.

Ketika itu, Darussalam masih berupa pengajian sorogan tanpa jenjang kelas. Lembaga pendidikan ini berawal dari inisiatif Tuan Guru Jamaluddin bersama para ulama dan masyarakat Martapura pada tahun 1914. Tuan Guru Jamaluddin memimpin lembaga ini selama lima tahun, yaitu dari 1914 sampai 1919. Sepeninggal Tuan Guru Jamaluddin yang juga seorang aktivis Syarikat Islam, Tuan Guru Hasan Ahmad melanjutkan kepemimpinan Darussalam. Beliau yang memimpin hingga tahun 1922.

Bermula dari pembicaraan di majlis mudzakarah di rumah Tunji Setta, kemudian lahir ide untuk memajukan sistem pendidikan di Darussalam. Apalagi Tuan Guru Kasyful Anwar adalah alumnus Madrasah As Shaulatiyah Makkah. Madrasah yang berdiri sejak tahun 1873 ini adalah lembaga pendidikan pertama di kota Makkah bahkan di kawasan Hijaz, yang menganut sistem pendidikan modern, yaitu jenjang kelas.

H M Holtrus dalam Memorie van Overgave Onderafdeeling Martapoera Door mencatat pendirian Darussalam sebagai berikut:

“Di ibukota Martapura sebuah sekolah agama didirikan di atas petak hak milik dengan 385 murid dan 7 tenaga pengajar. Gedungnya disebut Darussalam dan berasal dari cabang SI lokal. Bantuan keuangan terutama berasal dari Haji Setta. Tiga guru terkenal setiap bulan menerima f40 dan f20.”

Pondok Pesantren Darussalam kemudian berdiri di tepian sungai Martapura. Lembaga pendidikan ini terdiri dari enam kelas. Menurut cerita Abah Guru Sekumpul di pengajiannya, awalnya di tempat berdirinya gedung Pondok Pesantren Darussalam tersebut adalah rumah perjudian. Dari tempat maksiat kemudan berubah menjadi tempat ibadah, yaitu menuntut ilmu. Karena itulah, nama Darussalam relevan dengan perubahan status ini.

Menurut catatan Belanda, Tuan Haji Setta tidak hanya mendukung pembangunan gedung dan tanah untuk pembangunan Pondok Pesantren Darussalam Martapura, tapi juga penyediaan kursi, meja, serta perlengkapan pembelajaran dalam kelas. Wallahu A’lam.

Editor: Shakira.

Baca Juga:

Pondok Pesantren Darussalam Martapura Bangun Cabang di Banjarbaru.
Pesantren Darussalam Martapura, Kantor Cabang NU Pertama di Luar Pulau Jawa.

One thought on “Keterlibatan Tunji Setta dalam Pendirian Pesantren Darussalam Martapura

  • 10 Juli 2021 pada 16:11
    Permalink

    Semoga semua tpkoh yg terlibat falam pendirian PP Darussalam Martapura mendapat tempat surga dari Allah SWT.Aamiin

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *