Peribahasa Banjar: Tasalukut Gadang Basah

Peribahasa Banjar ‘Tasalukut Gadang Basah’ ini memberikan pelajaran, bahwa ada orang yang tidak mudah tersulut api emosi menyikapi provokasi, walau bagaimanapun kuatnya hasutan, fitnah dan adu domba. Pada masyarakat berpendidikan, kaya akan pengetahuan dan pengalaman, semua akan terkonfirmasi. Percuma menyebarkan berita bohong – hoak – provokasi pada masyarakat terpelajar – berpengetahuan, sama halnya tasalukut gadang basah.

Oleh: Noorhalis Majid *)

Paribasa Urang BanjarBanua.co – Tidak bisa diprovokasi, tidak mempan berbagai hasutan. Merespon cerita atau kabar miring dengan tenang, bahkan bukan hanya mengklarifikasi – mengkonfirmasi kebenarannya, juga mampu meluruskan, memyampaikan secara obyektif, bahkan menenangkan yang sudah termakan berita, itulah yang dimaksud tasalukut gadang basah.

Tersulut batang pisang basah, begitu kira-kira arti yang tepat peribahasa Banjar ini. Kalau batang pisang sedang basah, dibakar bagaimanapun tidak akan bisa. Bahkan batang pisang basah, menjadi media memadamkan api. Api yang sedang berkobar, dilempari batang pisang basah akan padam.

‘Tasalukut Gadang Basah’ dipinjam sebagai perumpamaan, melihat seseorang yang mampu bersikap tenang merespon kabar atau berita bernada provokatif.

Tidak semua orang mudah disulut atau diprovokasi. Ada orang yang selalu tenang, menggunakan akal dan pikirannya untuk mencerna berita yang diterima. Tidak asal telan, tapi dikunyah sedemikian rupa. Dicari tahu informasi yang berimbang – dipikirkan maslahat mudaratnya.

Bahkan kalau pun benar, berusaha mengecilkan persoalan besar yang memungkinkan tersulutnya emosi banyak orang, dan menghilangkan potensi kecil yang mudah memprovokasi. Yang besar dikecilkan, yang kecil dihilangkan. Jangan sampai sebaliknya, berita kecil dibesarkan, berita besar dibuat semakin membesar, sampai tidak terkendali.

Ketenangan menghadapi hal-hal yang memprovokasi, sangat diperlukan di era sekarang. Di tengah derasnya arus informasi yang sulit dibendung. Berita, kabar, desas-desus, informasi dan lain sebagainya, sudah tidak dapat dipilah. Berita bohong yang diulang-ulang, diposting di banyak media, menjadi viral, bisa saja dianggap informasi – kebenaran.

Faktor Pendidikan – pengetahuan, menjadi penyebab utama mudahnya seseorang terprovokasi.

Pada masyarakat yang level rata-rata pendidikannya sudah tinggi, tentu saja sulit termakan isu yang tidak benar, karena secara otomatis, otaknya menyaring, mengklarifikasi berita yang tidak masuk akal – banyak bubunya, berlebihan dan lebay.

Peribahasa Banjar ‘Tasalukut Gadang Basah’ ini memberikan pelajaran, bahwa tidak semua orang mudah tersulut api emosi hingga terprovokasi, walau bagaimanapun kuatnya hasutan, fitnah dan adu domba.

Pada masyarakat berpendidikan, kaya akan pengetahuan dan pengalaman, semua akan terkonfirmasi. Percuma menyebarkan berita bohong – hoak – provokasi pada masyarakat terpelajar – berpengetahuan, sama halnya -dalam peribahasa Banjar- tasalukut gadang basah.

*) Penulis adalah Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalsel, Pemerhati Budaya Banjar.

Baca Peribahasa Banjar lainnya:

Kaya Kura-kura Ditimbai Ka Banyu.
Menyambung Puntung Handap
Baca Juga: Maksud Ungkapan ‘Bawa Batanang!’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *