Suami Mencuri Harta Isteri, Ini Hukumannya!

Banua.co – Bagaimana bila seorang suami mencuri harta isteri? Pun sebaliknya, isteri mengambil harta suami tanpa izin alias mencurinya? Apakah berlaku hukuman sebagaimana hukuman pencurian yaitu potong tangan? Simak ulasan berikut.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20200822 WA0044 1 150x150 - Suami Mencuri Harta Isteri, Ini Hukumannya!Pada prinsipnya, setiap orang memiliki hak masing-masing atas harta miliknya. Seorang suami punya hak atas hartanya, demikian pula seorang isteri punya hak atas harta miliknya.

Dengan adanya hak masing-masing tersebut, maka setiap orang tidak boleh atau terlarang menzalimi hak orang lain. Meskipun, antara yang berbuat zalim dengan korbannya ada hubungan pertalian, seperti suami isteri.

Seorang isteri tidak boleh menggunakan harta suami tanpa seizin suaminya tersebut. Demikian pula sebaliknya.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu’alaihi wa aalih wa sallam bersabda:

لا تُنْفِق امرأة شيئًا من بيت زوجها إلا بإذن زوجها 

“Janganlah seorang wanita menafkahkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya.” (HR Tirmidzi).

Namun, bila seorang suami memberi nafkah kepada isterinya, maka nafkah tersebut telah menjadi hak milik isteri. Karenanya, hukumnya telah berbeda dengan harta suami. Isteri berhak untuk menggunakan harta pemberian suaminya tersebut.

Syekh Ibnu Qudamah, seorang ulama ahli fikih perbandingan dalam kitab Al Mughni mengatakan:

ولأن المرأة من أهل التصرف، ولا حق لزوجها في مالها، فلم يملك الحجر عليها في التصرف بجميعه كأختها. 

Dan karena sejatinya seorang perempuan termasuk ‘ahli tasharruf’ (orang yang punya hak kelola), maka tidak ada hak atas suaminya pada harta perempuan tersebut. Seorang suami tidak punya hak untuk melarang atas isterinya pada mengelola hartanya dengan keseluruhannya, sebagaimana (tidak ada hak pula atas) saudara perempuan isterinya tersebut.

Kemudian, bagaimana bila seorang isteri mengambil harta suami tanpa izin alias mencurinya? Pun sebaliknya, seorang suami mencuri harta isteri? Apakah hukumannya sebagaimana hukuman pencurian? Ataukah ada keringanan hukuman karena adanya hubungan pertalian suami-isteri?

Hukuman Suami-isteri yang Mencuri Harta Pasangannya.

Para ulama Madzhab Syafi’i menemukan ada beberapa pendapat Imam Syafi’i mengenai hal ini.

Pendapat pertama, dan ini adalah ‘Qaul Azhar’ (istilah untuk pendapat terkuat dari beberapa pendapat Imam Syafi’i), hukuman untuk suami yang mencuri harta isteri atau isteri yang mencuri harta suami adalah potong tangan, alias sama seperti hukuman pencurian lain.

Syekh Syarbani Al Khatib menjelaskan dalam kitab Mughni Al Muhtaj sebagai berikut:

(والأظهر قطع أحد زوجين بالآخر) 

أي بسرقة ماله المحرز عنه لعموم الآية الاخبار.

ولان النكاح عقد على منفعة فلا يؤثر في درء الحد كالإجارة لا يسقط بها الحد عن الأجير أو المستأجر إذا سرق أحدهما من الآخر

Menurut qaul azhar (hukumannya adalah) potong tangan salah seorang dari suami-isteri dengan sebab mencuri harta pasangannya yang tersimpan. Karena keumuman makna ayat yang mengabarkan (tentang hukum pencurian). Dan karena nikah adalah akad atas manfaat (bukan akad kepemilikan), maka tidak berdampak pada terangkatnya hukum hadd. Hukum ini sebagaimana hukum perupahan. Tidak gugur hukum dengan sebab ada pertalian perupahan (kontrak kerja) antara pihak yang menjadi karyawan dengan bossnya (dan juga sebaliknya), apabila salah seorang dari mereka mencuri harta yang lain.

Pendapat kedua, tidak ada perberlakuan hukuman potong tangan terhadap suami ataupun isteri yang mencuri harta pasangannya.

والثاني لا قطع على واحد منهما للشبهة فإنها تستحق عليه النفقة وهو يستحق الحجر عليها، 

Pendapat nomer dua, tidak ada hukuman potong tangan atas salah seorang (suami-isteri), karena adanya kesamaran (dalam status harta mereka). Karena sejatinya isteri berhak atas nafkah dari suaminya, dan sebaliknya suami berhak melarang isterinya.

Pendapat nomer tiga, suami yang mencuri harta isteri mendapat hukum potong tangan, tapi tidak sebaliknya, yaitu isteri yang mencuri harta suami. Alasannya adalah karena seorang isteri punya hak pada harta suaminya.

والثالث يقطع الزوج دونها لأن لها حقوقا في ماله بخلافه ومال إليه الأذرعي.

Dan pendapat yang ketiga, dipotong tangan suami (yang mencuri harta isteri), tidak tangan isteri (yang mencuri harta suami). Karena bagi seorang isteri ada hak pada harta suaminya. Berbeda dengan suami (tidak ada hak pada harta isteri). Dan Imam Al Adzra’i cenderung terhadap pendapat ini.

*) Penulis adalah pemerhati Fikih dan Sosial Masyarakat, alumnus Jurusan Fiqhiyyah Ma’had’Aly Darussalam Martapura.

Baca Juga: Kewajiban Suami Menyediakan Rokok untuk Isteri!
Baca Juga: Ini Hukum Eyelash Extension Menurut Fikih!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *