Kaltim Ibu Kota Indonesia, Kasyaf Abah Guru Sekumpul!

Banua.co, MARTAPURA – Tidak banyak yang tahu bahwa ternyata Abah Guru Sekumpul atau KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani sudah memikirkan bahwa hanya Kaltim yang cocok menjadi ibu kota Indonesia.

Menurut Abah Guru Sekumpul bila Kaltim menjadi ibu kota Indonesia, maka Indonesia akan maju. Kaltim lebih layak ketimbang provinsi lainnya di Indonesia.

“Kalau Indonesia ingin maju, ibu kota pindah ke Kaltim,” demikian kurang lebih yang diucapkan Abah Guru Sekumpul, sebagaimana diceritakan Dokter Dhiauddin, putra KH Badaruddin Martapura kepada baNUa.co.

“Abah Guru Sekumpul mengatakan ketika saya masih menjadi mahasiswa dan silaturrahmi bersama dua teman mahasiswa lainnya ke Abah Guru Sekumpul. Saat itu kami diajak masuk ke kamar beliau,” cerita dokter yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar ini.

“Nah, salah satu yang dibicarakan beliau adalah tentang Kaltim sebagai ibu kota Indonesia. Kalau Indonesia mau maju, ibu kota pindah ke Kaltim kata beliau,” lanjut adik pimpinan Pesantren Darussalam, KH Hasanuddin ini.

1629865464085 1 - Kaltim Ibu Kota Indonesia, Kasyaf Abah Guru Sekumpul!

Sejatinya, wacana pemindahan ibu kota Indonesia dari kota Jakarta telah bergulir sejak lama. Beberapa daerah muncul sebagai alternatif ibu kota negara, yaitu Palembang (Sumatera Selatan), Karawang (Jawa Barat), Sulawesi Selatan dan Palangka Raya (Kalimantan Tengah). Namun nama Kalimantan Timur belum ada yang memunculkan.

Rencana memindahkan Ibu kota Indonesia ke Kalimantan Timur di kalangan pemerintah baru muncul belasan tahun pasca Abah Guru Sekumpul wafat tahun 2005, yaitu pada era pemerintahan Presiden Jokowi.

Seolah sepemikiran dengan Abah Guru Sekumpul, pada Pidato Kenegaraan 16 Agustus 2019 Presiden Jokowi menyampaikan secara gamblang wacana pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan Timur. Presiden Jokowi meminta dukungan dari anggota parlemen dan rakyat Indonesia untuk memindahkan ibu kota Indonesia ke pulau Kalimantan.

Presiden Joko Widodo kemudian mengumumkan secara resmi keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur, pada 26 Agustus 2019.

Cerita Abah Guru Sekumpul sudah memikirkan bahwa hanya Kaltim yang layak menjadi ibu kota Indonesia ini mendapat respon salah seorang santri yang lama ikut mengaji di Sekumpul, Ustadz Khairullah Zain.

“Seorang wali Allah punya kemampuan visual dan nalar yang berbeda dengan orang awam. Karena mereka berfikir menggunakan Akal Rabbani, sehingga mampu membaca yang belum terbaca oleh orang awam,” kata Khairullah Zain.

Walaupun hal ini tidak ada dalil gamblangnya dalam Al Qur’an ataupun Hadits, namun kata Ustadz Khairullah Zain ada dalil yang diisyaratkan dalam sebuah Hadits Qudsi.

“Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah menyatakan bahwa jka Allah telah mencintai seorang hamba, maka Dia menjadi pendengaran yang hamba tersebut mendengar dengannya, Dia menjadi penglihatan yang hamba tersebut melihat dengannya, menjadi tangan yang hamba tersebut memukul dengannya, menjadi kaki yang hamba tersebut berjalan dengannya,” terang pengagum para sufi dan wali ini.

“Seorang kekasih Allah atau Wali Allah, bukan hanya panca indera saja yang diambil alih oleh Allah, tapi juga indera yang keenam, yaitu akalnya. Bahkan ini yang utama,” lanjutnya.

“Kemampuan berfikir dan bernalar dengan Akal Rabbani inilah yang kadang membuat orang awam susah memahami jalan pikiran para Wali Allah, sebab tidak jarang berbeda dengan logika orang awam. Para Wali Allah telah melihat apa yang tidak mampu dilihat oleh orang awam dan menalar apa yang tidak mampu dinalar orang awam. Mereka tidak hanya mengalami kasyaf hissi atau inderawi, tapi juga kasyaf maknawi,” pungkasnya.

Kasyaf Abah Guru Sekumpul

Tak disangkal, ulama karismatik Kalimantan Selatan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani memang dianugerahi keistimewaan tersendiri dari Allah SWT berupa mata bathin yang tajam.

Mengenai ketajaman mata bathin alias kasyaf Abah Guru Sekumpul –Akrab beliau dikenal- telah disaksikan banyak orang, tak terkecuali oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalsel, Drs H Muhammad Tambrin M MPd.

Ustadz H M Tambrin mengaku memiliki pengalaman yang tak pernah dilupakannya dengan sosok Abah Guru Sekumpul. Yakni, pertemuan pertama kali dengan beliau di tahun 1994, saat dia baru saja lulus dari Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin.

“Tepatnya 22 tahun yang lalu,” katanya.

Klik Lanjutannya: Amalan Hidup Sukses dari Abah Guru Sekumpul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *