IMDA1914, Gerakan Filantrofi Alumni Darussalam

Banua.co – Program IMDA1914 mengingatkan saya pada ajaran Abah Guru Sekumpul yang langsung beliau contohkan. Abah Guru Sekumpul selalu mengingatkan kepada jamaahnya agar jangan melupakan para guru, juga janda dan anak-anak guru. Beliau memberikan keteladanan, memberikan santunan berupa hadiah kepada para ulama dan janda ulama.

Oleh: Khairullah Zain *)

Ketika Gusti Muhammad menghubungi saya via WA, 2020 silam, mengungkapkan keinginannya bersama kawan-kawan santri lainnya membentuk sebuah gerakan yang saya pahami sebagai gerakan filantrofi, saya langsung bersetuju.

Filantrofi adalah alih bahasa dari kata philanthropy yang berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, philen yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Filantrofi adalah sebuah tindakan yang berdasarkan pada cinta kepada sesama manusia, untuk kemudian bersedia menyumbangkan waktu, uang, tenaga, dan fikiran. Hamid Abidin, Direktur Eksekutif Filantrofi Indonesia, memaknai filantrofi sebagai upaya untuk berbagi menyalurkan sumber daya dan berderma secara terorganisir untuk kepentingan strategis jangka panjang dan berkelanjutan.

Sumbangan dalam filantrofi bukan sekedar sumbangan biasa, tapi sumbangan yang berdasarkan pada cinta kasih terhadap sesama umat manusia. Hal ini tentu jauh berbeda dengan sumbangan ala politikus ketika kampanye, ataupun CSR pada perusahaan. Filantrofi berbeda dengan charity. Derma charity biasanya hanya terkait dengan momen tertentu, misalnya membantu korban banjir, korban kebakaran, dan semacamnya.

Dalam ajaran agama Islam, filantrofi adalah salah satu bagian penting. Adanya rukun Islam yang bernama zakat, tidak terlepas dari semangat filantrofi. Pun juga, munculnya ‘hukuman’ atas beberapa pelanggaran ajaran agama berupa fidyah (memberi makan fakir miskin), memuat makna filantrofi.

Dalam sejarah Islam, filantrofi dan konsolidasi adalah pondasi dari terbangunnya peradaban besar agama ini. Sejarah mencatat nama Sayyidatina Khadijah yang mempersembahkan segalanya untuk perjuangan Nabi Muhammad mendakwahkan agama Islam. Sayyidina Abu Bakr yang menyerahkan seluruh hartanya, juga para sahabat lainnya yang terlalu panjang bila kita sebutkan satu persatu.

Ketika hijrah ke Yatsrib, Nabi Muhammad memulai langkah dengan mempersaudarakan antar pengikut agama Islam. Konsolidasi antara kaum Muhajirin dengan kaum Ansar yang kelak melahirkan sebuah kekuatan besar. Filantrofi dan konsolidasi adalah dua kaki berdirinya peradaban Islam.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar” (QS. Al-Hujurat [49]: 15).

IMG 20210821 WA0006 2 - IMDA1914, Gerakan Filantrofi Alumni Darussalam
Penulis dan Ketua IMDA1914 bersama ulama sepuh Darussalam, KH Muaz Hamid

IMDA1914, Bukan Sekedar Gerakan Filantrofi

Semula, saya mengusulkan agar kawan-kawan membentuk lembaga berupa foundation alias yayasan. Karena memang di mana-mana lembaga filantrofi pasti berbentuk yayasan. Namun, karena beberapa pertimbangan, kawan-kawan lebih memilih lembaga berbentuk perkumpulan atau organisasi. Hingga terbentuklah organisasi yang kelak ditasmiyahi dengan Ijtima Mahabbah Darussalam, disingkat dengan IMDA.

Pada selanjutnya, IMDA mengenalkan diri dengan IMDA1914. Kode 1914 adalah untuk mengingat berdirinya tonggak Pondok Pesantren Darussalam Martapura, yaitu pada tahun 1914 M.

Dalam Anggaran Dasar Bab IV Pasal 5 disebutkan bahwa organisasi ini bersifat professional, gotong royong, kekeluargaan dan bebas dari unsur politik. Sementara pada pasal 6 disebutkan bahwa salah satu tujuan dibentuknya organisasi ini adalah membina hubungan antara alumni dengan pengasuh, alumni dengan pesantren, alumni dengan santri, dan antar sesama alumni sendiri.

Dari anggaran dasar itulah saya memahami, bahwa bukan sekedar gerakan filantrofi, tapi juga gerakan konsolidasi.

Setahun berjalan, IMDA1914 telah menunjukan kiprahnya. Menjalin silaturrahmi kepada para ulama pengajar di Pondok Pesantren Darussalam, berinfak sebagai hadiah kepada para ulama dan janda ulama, adalah di antara program IMDA1914 yang sudah berjalan dan akan terus berlanjut.

Program tersebut mengingatkan saya pada ajaran Abah Guru Sekumpul yang langsung beliau contohkan. Abah Guru Sekumpul selalu mengingatkan kepada jamaahnya agar jangan melupakan para guru, juga janda dan anak-anak guru. Beliau memberikan keteladanan, memberikan santunan berupa hadiah kepada para ulama dan janda ulama.

Bila para guru ASN mendapat pensiunan dari pemerintah, maka semestinya para guru agama juga mendapat ‘pensiunan’ dari murid-muridnya. Demikian makna yang saya tangkap dari yang pernah beliau sampaikan.

Sebagai sebuah gerakan filantrofi dan konsolidasi, IMDA mempunyai potensi dan harapan besar untuk maju dan berkembang. Tentu saja ini harus menjadi perhatian para pendiri dan pengurusnya. Bahwa kelak, ketika organisasi ini telah besar, akan muncul orang-orang yang ingin mewarnai organisasi dengan warna politik praktis, adalah sebuah konsekwensi. Karena sudah dimaklum, di mana ada kendaraan bagus, selalu ada yang ingin menumpanginya.

Konsistensi dan istiqomah pada ‘khittah’ berdirinya IMDA, yaitu bebas dari unsur politik, mutlak diperlukan bagi siapapun yang kelak menjadi pengurus organisasi ini. Karena bila tidak, bisa saja haluan organisasi akan terbawa arus angin politik praktis.

Pengurus dan anggota organisasi harus ingat, bahwa bila satu kali saja terjebak pada kubangan kepentingan para politikus, akan sangat sulit untuk mampu keluar dan kembali ke jalur semula. Bahwa sejatinya setiap orang bebas menentukan pilihan politik, siapapun berhak punya warna politik, dan semua orang boleh saling berbeda. Memaksakan untuk satu warna hanya akan mencederai persatuan.

Ada sangat banyak program yang menantikan kehadiran IMDA1914. Program penguatan ekonomi anggota organisasi, program beasiswa santri berprestasi, dan lain sebagainya, kedepannya bisa menjadi gawian IMDA1914.

Akhirul Kalam, saya ucapkan selamat kepada IMDA1914. Kalian telah melangkah di jalan yang penuh berkah. Teriring do’a, semoga selalu istiqomah.

*) Penulis adalah seorang alumnus Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Dewan Pengawas IMDA1914.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *