Bulu Batis di Mana-mana, Paribasa Banua Banjar

Bulu batis di mana-mana, ujar urang Banjar. Bulu kaki di mana-mana, demikian arti harfiahnya. Apa maksud paribasa bubuhan Banjar ini? Simak ulasan pemerhati budaya Banua Banjar berikut ini.

Oleh: Noorhalis Majid *)

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Bulu Batis di Mana-mana, Paribasa Banua BanjarBanua.co – Bulu batis di mana-mana bermakna suka melakukan perjalanan kemana saja, tidak ada tempat yang tidak didatangi. Sudah berkeliling dan pergi ke banyak tempat, karena hobinya memang jalan – berkeliling mengelana, mendatangi yang belum pernah ia kunjungi, sekedar ingin tahu, ingin melihat dan membuka wawasan. Suka bepergian, dikiaskan dengan bulu batis di mana-mana.

Bulu kaki di mana-mana, demikian arti harfiah paribasa banua ‘Bulu Batis di Mana-mana’. Rupanya, orang yang suka melakukan perjalanan, bulu kakinya mudah rontok, sehingga tercecer di mana ia mampir dan bermukim. Tentu ini hanya perumpamaan, untuk menggambarkan bahwa perjalanan tersebut meninggalkan jejak atau setidaknya kenangan.

Semakin jauh dan sering berjalan, semakin banyak kenangan. Baik kenangan yang dibawa pelaku perjalanan, ataupun yang ditinggalkan – tempat yang dikunjungi. Semuanya akan saling memperkaya, memberikan pengalaman dan pengetahuan baru. Jangan takut berjalan jauh, pergilah ke banyak tempat, semampu yang bisa dilakukan.

Masyarakat banjar, gemar melakukan perjalanan jauh. Terbukti ada banyak ungkapan terkait perjalanan, mulai dari tulak, bakunjang, raun, mudik, labuh, sampai dengan madam. Semuanya menggambarkan pergi atau perjalanan dengan makna dan konteksnya masing-masing. Semakin banyak kosa kata menyangkut sesuatu hal, semakin menggambarkan intensitas peristiwa tersebut.

Boleh kita ambil contoh lain untuk memperkuat asumsi tersebut. Misalnya, di tanah banjar, terutama di Banjarmasin, sering sekali terjadi kebakaran. Peristiwa yang cukup sering tersebut melahirkan banyak ungkapan terkait kebakaran, mulai dari kaapian, kasalukutan, kagusangan, kamandahan. Setidaknya, lebih dari satu ungkapan, dan semuanya menggambarkan peristiwa yang sama, yaitu kebakaran.

Ungkapan ini memberikan apresiasi kepada orang yang telah berjalan ke banyak tempat. Sebagai orang yang sudah banyak menggali pengalaman, meninggalkan kenangan. Jejak perjalanan yang sudah dilakukan, tentu melahirkan pengetahuan, memperkaya wawasan sebagai bekal hidup. Semakin jauh berjalan, semakin banyak pengalaman didapatkan, semakin banyak bekal dikumpulkan.

Jangan heran, kalau pelaku perjalanan – pengelana, lebih mumpuni dari yang lainnya. Apalagi bagi yang hanya di rumah saja, menjadi penunggu kampung, tidak berani menjelajah menimba pengalaman dan pengetahuan ke negeri-negeri paling jauh. Pengelana, wajar lebih mumpuni, karena bulu batisnya di mana-mana. (nm)

*) Penulis adalah pemerhati budaya Banua Banjar, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan.

Simak Paribasa Banua Banjar lainnya:

Tinggi Pada Panjuluk Pauh
Manimba Jukung Miris
Kandal Kulit pada Isi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *