Gus Yaqut Maju Terus, Saatnya NU Melawan!

Banua.co – Tak ada yang salah jika Gus Yaqut terus melakukan penguatan fanatisme ke-NU-an, agar warga NU yang menurut data LSI di atas, hampir separo penduduk negeri ini bisa maju, berdaya saing, inovative dan creative sebagai anak bangsa. Bagaimana pun jika urusan NU di negeri ini selesai, itu artinya separo dari urusan berbangsa di negeri ini sudah selesai. Jika warga NU diabaikan, seperti era Soeharto berkuasa, maka upaya apa pun untuk memajukan negeri ini tetap terkendala, ada hambatan dan rintangan.

Oleh : M. Syarbani Haira *)

IMG 20200406 105550394 1 150x150 - Gus Yaqut Maju Terus, Saatnya NU Melawan!PIDATO Menteri Agama RI, Gus Yaqut (Yaqut Cholil Qoumas), yang seharusnya untuk konsumsi internal Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU), khususnya kalangan pesantren (RMI), dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2021, menjadi bahan bully-an banyak pihak. Mereka tak saja berasal dari kelompok yang sedari dulu memang tak suka adanya jam’iyah an-nahdliyah, pelakunya juga datang kalangan jam’iyah sendiri.

Kelompok yang tak suka itu melakukan semacam bully terhadap elemen NU dengan beragam ejekan. Misal ada yang menyebut kampungan, kurang berpendidikan, pelaku TBC (takhayul, bid’ah, dan churafat), pengamal ibadah dhalalah, dan calon penghuni neraka. NU kerapkali dituding sebagai pelaku amaliyah keagamaan yang suka mengada-ada, tak berdasar, serta menyalahi ajaran Rasulullah.

Sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga hari ini, NU selalu dituding sebagai orang yang suka melakukan kegiatan agama menyimpang. Misalnya sholat selalu didahului dengan “ushalli”, atau kegiatan keagamaan lainnya mereka nilai tak berdasar, seperti yasinan, tahlilan, maulidan, wiridan, dll-nya. Semua itu, kata mereka adalah pekerjaan bid’ah. Tak sampai di situ saja, pekerjaan bid’ah dianggap pekerjaan yang masuk kategori dhalalah (salah), dan setiap yang dhalalah hanya dineraka tempatnya. Kejam banget vonis mereka.

Kebudayaan yang hidup dan berkembang katanya mengadopsi kebudayaan Hindu, dan mereka anggap sebagai kesalahan besar. Kasus keseleo Menteri Agama RI Gus Yaqut (anggaplah ini semacam kesalahan taktis), tanpa perlu waktu lama sudah direspons oleh mereka dengan beragam cacian dan bully-an. Tak hanya itu, salah satu tokoh mereka Anwar Abbas, tanpa tedeng aling-aling, langsung mengusulkan agar Kementerian Agama dibubarkan saja.

Merembet Muktamar

Sesungguhnya. Figur Menteri Agama RI ini, Gus Yaqut Cholil Qoumas, adalah figur dan sekaligus representasi jam’iyah Nahdlatul Ulama. Ini bisa dibaca dari respon yang berkembang, umumnya berasal dari komunitas yang sedari dulu tak suka dengan NU. Bahwa ada segelintir dari orang yang mengaku melakukan kritik, cacian serta bully-an berasal dari internal NU, ini lebih karena sedang ada persoalan politik sesaat di lingkungan internal NU.

Kita semua tahu jika Yaqut Cholil Qoumas itu adalah adik kandung Yahya Cholil Staquf, Katib ‘Am PBNU. Kita semua tahu jika bulan Desember mendatang, NU akan menyelenggarakan event Muktamar ke-34, di Lampung. Info sementara sejumlah PWNU dan PCNU menginginkan adanya regenerasi di lingkungan NU. Kebetulan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA, sudah 11 tahun memimpin NU. Beliau terpilih tahun 2010 dalam Muktamar NU ke-32 di Makasar, menggantikan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi (alm), yang juga memimpin PBNU selama 2 periode, dari tahun 1999 hingga 2010.

Kabarnya, mayoritas pemegang suara di Muktamar NU akan memilih Gus Yahya. Itu sebabnya, orang-orang yang tak setuju jika PBNU dipimpin Gus Yahya kerapkali melakukan pem-bully-an, entah dalam bentuk tulisan dan video, dengan tudingan pro Yahudi, anti Arab, tak bisa ceramah, tak faham Bahasa Arab, dan sebagainya.

Adanya kejadian ini merupakan moment buat mencaci Gus Yaqut. Ini karena Gus Yaqut bersama barisan Ansor se-Indonesia, di samping Kementerian Agama se Indonesia, memiliki kekuatan luar biasa, diperkirakan bisa mengendalikan muktamirin. Andai betul Menteri Agama ini pendukung utama pencalolan Gus Yahya menjadi Ketua Umum PBNU tentu sangat memuluskan jalan. Maka itulah penyerang Menteri Agama ini juga datang dari internal NU. Dengan demikian klop sudah kelompok penyerang Menteri Agama ini, datang dari eksternal, juga dari internal.

Ini tak ada yang aneh, karena moment Muktamar NU seperti Pilpres atau Pilkada. Jika dalam kehidupan bernegara, mereka yang sedang menduduki jabatan di pemerintahan, tentu akan membela pemimpinnya yang ada, agar jabatannya yang ada bisa langgeng dan kontinyu. Di tubuh NU format serupa pun tak jauh beda. Saya masih ingat betapa jajaran pengurus dari ketua umum sebelumnya, bisa tak muncul dalam kepengurusan yang baru, jika pemimpinnya berganti. Itu sebabnya muncullah alasan baru bahwa di NU tak masalah memimpin berlama-lama, jika memang diinginkan.

Inilah antara lain maka kasus yang sedang menimpa Menteri Agama Gus Yaqut ini semakin ramai, bahkan diramaikan oleh internal NU sendiri. Andai saja kejadian ini tak bersamaan dengan persiapan muktamar NU, mungkin yang terjadi adalah pembelaan. Jadi sesungguhnya, kejadian ini pun sudah merembet event muktamar.

Sejarah Panjang

Sesungguhnya nasib NU di negeri ini dari satu sisi, bisa dikatakan tak beruntung. Dikatakan demikian karena jauh sebelum NU itu sebagai wadah perjuangan para santri dan dunia pesantren berdiri, masyarakat nahdliyin melalui pesantren dan majelis taklim, yang dipimpin para kyai, telah berjuang untuk negeri ini. Misalnya dengan dibentuknya Nahdlatuttujjar (ekonomi) tahun 1918, atau Tashwirul Afkar (keilmuan) 1922, dan Nahdlatul Wathan (politik) 1924. Melalui lembaga itu, para Kyai dan masyarakat pesantren terus berbuat untuk kemerdekaan negeri ini. Terlebih setelah NU lahir pada tanggal 31 Januari 1926, maka kiprah dan karya NU untuk negeri ini semakin intensif, terstruktur dan massif.

Dalam setiap muktamar (sejak lahir tahun 1926 NU selalu melaksanakan mujtamar setiap tahun), keputusan NU selalu untuk kepentingan umat di nusantara ini. Bahkan dalam Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin tahun 1936, keputusan NU sangat monumental hingga hari ini, yakni tentang bentuk negara, di mana negara yang akan dibentuk adalah negara damai (Darussalam). Selain itu, keputusan NU selalu mensupport kelangsungan negeri bernama Indonesia ini.

Di luar event muktamar, pimpinan tertinggi Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, Rais Akbar PBNU, setelah mendengar harapan Presiden RI Bung Karno tentang akan kembalinya colonial Belanda, yang mendompleng kehadiran pasukan sekutu pimpinan Inggris di Surabaya. Kyai Hasyim Asy’ari kemudian mengeluarkan “Resolusi Jihad” (dibacakan Bung Tomo), yang membuat masyarakat santri beramai-ramai melakukan perlawanan terhadap sekutu tersebut. Dampak dari perlawanan tersebut, matinya para jenderal pasukan Inggris di Surabaya.

Sayangnya para tokoh di negeri ini malah menghilangkan peran NU tersebut. Baru setelah Jokowi menjadi presiden, peran itu mulai dihargai. Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Meski negara sudah menghargai peran santri, masih terngiang di telinga teriakan pihak yang tak suka pada NU, bahwa hari santrri itu tak patut dan tak pantas, bisa memecah belah persatuan. Padahal sesungguhnya santri mereka sudah menikmati kemerdekaan negeri ini sejak lama.

Kejadian yang sangat menyedihkan adalah ketika negeri ini dipimpin Jenderal Soeharto, yang dikenal dengan rezim orde baru. Semua orang tahu jika selama orde baru berkuasa NU paling dipinggirkan. Menjadi PNS susah, berbisnis juga susah.

Fenomena dilingkungan Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) menjadi menarik. Tak lama setelah Prof Mukti Ali menjadi Menteri Agama RI tahun 1973, agenda besarnya adalah mengeliminasi tokoh-tokoh NU. Dibuatlah aturan agar PNS harus punya ijazah sekolah (negeri), dampaknya tak diakuinya ijazah pesantren. Sejak itu tersingkirlah kyai-kyai NU, dari yang semula Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama (untuk tingkat provinsi), atau Kepala Kantor Departemen Agama (untuk kabupaten kota), dan tak bisa menjadi Rektor atau Dekan di lingkungan IAIN, menjadi Dirjen, dan sebagainya.

Kejadian amat menarik nampak terlihat disebuah PTN Islam di Banjarmasin. Jika Rektor sebelumnya selalu mencoba membangun keharmonisan dengan mengangkat minimal seorang wakil rektor unsur NU, tetapi rektor yang satu ini selama 2 periode memimpin kampus, sama sekali tak menghargai NU. Padahal dosen unsur NU sudah professor doktor. Dengan alasan profesional, ia menggangkat wakil rektor yang baru saja ujian magister. Ini sisi lain penghinaan dan penyingkiran terhadap orang-orang NU.

Masih banyak kejadian lain yang bisa panjang jika dibeber satu persatu. Pada tahun 1970-an, ayah saya menjadi orang buangan sebagai PNS karena bertahan menjadi warga NU. Beberapa kolega ayah saya ada yang harus berhenti sebagai PNS. Era orde baru itu, jangankan menjadi pejabat seperti sekarang, menjadi PNS saja susah. Keadaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh mereka yang anti terhadap NU. Ini antara lain saya sebut orang NU tak beruntung.

Teruskan Perjuangan

Menyikapi kondisi ini, warga NU dengan sabar, terus berdoa, agar keadilan bisa terjadi. Alhamdulillah, 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mundur, karena gelombang demonstrasi. Entah kenapa, di awal reformasi tersebut, mulailah orang yang dulu pernah memusuhi NU ramai-ramai balik ke NU. Mereka mengaku ayahnya, atau neneknya, atau cuma gurunya, sebagai orang NU pejuang.

Tapi tak otomatis orang NU bisa menjadi pejabat, seperti menjadi Dirjen atau Kakanwil Kementerian Agama. Termasuk ketika Gus Dur sudah menjadi presiden tahun 1999. Walau Menteri Agama Kyai Tholhah Hasan sudah dari NU, namun para Dirjen dan Kakanwil masih dikuasai rezim yang suka mencaci NU itu. Baru setelah Menteri Agama Kyai Maftuh Basuni, sejak itulah Kementerian Agama mulai dikuasai tokoh NU. Cukup lama NU teraniaya, tersingkir dalam percaturan politik dan usaha, kerap dibully sebagai kampungan, tak terpelajar, suka bid’ah dalam beragama, bakal menjadi penghuni api negara, yang disampaikan secara terbuka dan tertutup, tak ada yang mau membela NU. NU memang harus berjuang sendiri.

Selain itu, meski data survei LSI, dan sejumlah lembaga survei lain menyebut jika hasil survei mereja menyatakan bahwa tak kurang 49 % warga negara di negeri ini dari penduduk 267 juta mengaku bagian dari NU. Nyatanya, dalam pembentukan lembaga kenegaraan selalu ada gerakan ramai-ramai dan simultan untuk menyingkirkan orang NU.

Lihat saja pembentukan KPU, atau Bawaslu. Jatah NU selalu di bawah orang yang tak suka NU. Di kampus setali tiga uang, adik-adik IPNU, atau PMII pun kerap tersingkir dalam pembentukan lembaga kemahasiswaan, pemberian beasiswa, atau jatah meneruskan studi.

Maka itu tak ada yang salah jika Gus Yaqut terus melakukan penguatan fanatisme ke-NU-an, agar warga NU yang menurut data LSI di atas, hampir separo penduduk negeri ini. Harapannya agar warga NU bisa maju, berdaya saing, inovative dan creative sebagai anak bangsa. Bagaimana pun jika urusan NU di negeri ini selesai, itu artinya separo dari urusan berbangsa di negeri ini sudah selesai. Jika warga NU diabaikan, seperti era Soeharto berkuasa, maka upaya apa pun untuk memajukan negeri ini tetap terkendala, ada hambatan dan rintangan.

Untuk itu, Gus Yaqut baik sebagai Menteri Agama, atau suatu hari nanti sudah di posisi lain, teruslah berjuang untuk negeri ini, terlebih buat warga NU, yang kerapkali dianggap sebagai masyarakat tertinggal. Ke depan, tentu saja harapan kita agar semua warga NU bisa seirama, kompak untuk negeri ini. Saatnya perlawanan terus digelorakan. Kita tak boleh lagi melihat ada elemen yang tega menyingkirkan NU terjadi lagi. Kita harus ingat jika mereka itu adalah orang yang tak peduli dengan NU, dan tak pernah mau membela NU. Semoga kita selalu diberkahi Allah SWT. Amien … !!

*) Penulis adalah Ketua Dewan Syuro Mesjid As-Su’ada, Syekh Abdul Kadir Hasan, Universitas NU Kalsel   

Baca Juga: Menjadi Menteri Agama,  Ini Profil Gus Yaqut.

Baca Juga: Biografi KH Bisri Mustofa, Kakek Gus Yaqut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *