Bebaskan Konflik NU di Muktamar Lampung

Banua.co – Munculnya wajah baru dalam muktamar NU di Lampung nanti, tentu sebuah kabar gembira, lembaran baru NU. Gerakan baru itu akan mengantarkan NU ke arah perbaikan, modernisasi kelembagaan, serta program dan aktivitas. 

Oleh : M Syarbani Haira *)

IMG 20210810 WA0019 1 150x150 - Bebaskan Konflik NU di Muktamar LampungJAM’IYAH diniyah Nahdlatul Ulama kembali akan melaksanakan muktamar. Kali ini dilaksanakan di pesantren Darussa’adah, Mojo Agung, Lampung Tengah. Awalnya digawi antara 23 – 25 Desember 2021. Belakangan, Menteri PMK Prof Muhajir Effendy mengumumkan per 24 Desember 2021 hingga 02 Januari 2022, negeri ini menerapkan PPKM 3 di semua kota di Indonesia. Resikonya, tak boleh ada konsentrasi tumpukan orang. Karenanya jadwal yang sudah disiapkan menjadi ambyar. Sebagian ada yang memanfaatkan ketentuan pemerintah itu dengan mengusulkan agar muktamar ditunda tahun depan saja. Untungnya, Rais ‘Am PBNU KH Miftahul Achyar, mengusulkan agar muktamar dipercepat saja. Usulan ini kemudian juga diamine oleh 27 PWNU se Indonesia.

Seperti muktamar sebelumnya, aroma “konflik” di tubuh jam’iyah berlogo “Bola Dunia” ini selalu terasa. Kini juga demikian, dengan unculnya dua kubu besar dalam tampilan berbeda. Satu kubu mengelindingkan pencalonan kembali Prof KH Said Aqil Siraj, MA, Ketua Umum PBNU yang sudah memimpin jam’iyah selama 11 tahun, dua periode. Pengusung kelompok ini umumnya elite yang kini menguasai PBNU. Harapannya, seperti dunia politik dan pemeritahan, agar mereka mendapat kursi dalam gerbong pengurus NU periode 2021 – 2026.

Di sisi lain, ada kelompok-kelompok yang menginginkan wajah baru kepemimpinan NU. Mereka mengusung Katib ‘Am Syuriah PBNU 2015 – 2020, KH Yahya Cholil Staqub. Uniknya kelompok ini didukung jaringan PWNU dan PCNU, yang disampaikan melalui dukungan tertulis, tak lama setelah NU menyelenggarakan Munas Alim Ulama di Jakarta. Di antara surat dukungan yang viral adalah dukungan PWNU Jatim, yang lengkap ditandatangani Syuriah dan Tanfidziah.

Kelompok yang mempelopori pencalonan Gus Yahya (panggilan akrab KH Yahya Cholil Staqub) adalah orang yang dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang 2015, justru pendukung Kyai Said Aqil Siraj. Misalnya, Gus Ipul (Syaifullah Yusuf), Nusron Wahid, sejumlah kyai seperti Rais Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Mansyur, Rais Syuriah NU DIY KH Mas’ud Masduqi, Rais Syuriah NU DKI KH Muhyidin Ishaq (untuk menyebut beberapa nama). Selain itu, ada pula elemen muda NU yang menginginkan adanya pembaharuan wajah dan kepengurusan. Ekspectasi mereka, dengan wajah baru, pasti akan muncul ide dan gagasan baru untuk NU, dalam hubungannya dengan kelembagaan (institusi), baik manajemen, program, sumber pendanaan, independensi, peran NU baik untuk umat, bangsa dan negara, serta peran NU di dunia internasional.

Bernuansa Konflik

Sayangnya, muktamar yang memiliki ekspectasi jam’iyah akan lebih baik ini, tak disikapi elemen NU secara dewasa. Setidaknya selama proses menuju muktamar, kontestasi pemilihan ketua umum PBNU ini sepertinya setali tiga uang dengan dunia politik, pemerintahan, baik praktek politik pilpres, pilkada, pileg, dan sebagainya. Ini terlihat dari tayangan-tayangan yang muncul, entah itu dalam bentuk tulisan, atau dalam bentuk video dan publikasi lainnya.

Kandidat yang paling banyak mendapat tekanan adalah sang penantang, dalam hal ini Gus Yahya. Bully-an kepada cucu salah satu pendiri NU ini lumayan sarkastis. Misalnya video saat Gus Yahya sedang pidato, dengan koment yang muncul : “inilah tokoh pro Israel dan anti Arab”. Ia juga dituding tak punya ilmu, tak bisa bahasa Arab. Padahal dalam banyak kesempatan pemberitaan media telah memperlihatkan kompetensi Gus Yahya ini ceramah Bahasa Arab. Hebatnya lagi, Katib ‘Am PBNU ini juga lancar Bahasa Inggris. Ia pernah diundang PBB, bicara tentang Islam rahmatan lil alamin didepan tokoh-tokoh dunia dalam Bahasa Inggris.

Bully-an lainnya adalah foto Gus Yahya, yang dibikin buzzer tertentu, buat memunculkan kebencian. Foto dengan background warna hijau, lazimnya warna NU, bertuliskan “HMI siap menguasai NU”. Saya yang pernah kuliah di UGM (di mana Gus Yahya juga kuliah) cuma ketawa. Sedikit banyak saya tahu dan faham langkahnya. Bahwa Gus Yahya pernah ikut HMI, memang iya. Namun nama beliau tak tercatat sebagai aktivis HMI UGM. Tapi apa yang salah jika ada orang yang pernah aktiv di HMI mimpin NU ? Bukankah tokoh PMII yang pernah mimpin PBNU itu cuma Kyai Hasyim Muzadi ? Selebihnya bukan kader PMII, seperti Gus Dur, atau Kyai Idham Chalid, dan seterusnya. Mahbub Djunaidi, Ketum pertama PMII, juga HMI. Atau Dr As’ad Said Aly, dan nama-nama lain yang pernah “nyantri’ di HMI.

Bully-an lainnya, adalah beredarnya sebuah video, menampilkan seorang elite NU sedang bicara. Bunyinya yang bersangkutan pernah didatangi utusan Israel, diundang ke Tel Aviv. Tapi tak mau hadir, kecuali jika Israel mengakui Palestina. Ini mengingatkan cerita sebelumnya, ada cerita pernah diminta presiden menjadi Menteri Agama, namun tidak mau. Nyatanya tak ada trending topik berita media mengenai penolakan tersebut. Masa ah … media masa tak menganggap ini bukan berita besar ?

Untungnya, kubu Gus Yahya tak merespon bully-an tersebut. Tim-nya sama sekali tak terpengaruh. Gus Yahya dan Tim, serta tokoh-tokoh NU lainnya, konsisten dengan petuah yang diberikan kyai sepuh, untuk menghindari konflik. Bagaimana pun NU sudah kenyang dengan konflik. Dari muktamar ke muktamar hampir saja selalu ada konflik. Konflik yang sangat monumental saat NU melaksanakan Muktamar ke-29 Cipasung, Jawa Barat 1994. Dampak dari konflik ini NU terbelah menjadi dua. Ada PBNU dipimpin Gus Dur, dan ada KPPNU yang dipimpin Abu Hasan (yang direstui rezim Soeharto). Begitu juga dalam muktamar Solo, Jawa Tengah 2004, potensi konflik muncul lagi. Antara pendukung Kyai Hasyim dengan pendukung Gus Dur. Juga dalam Muktamar NU 2010 Makasar, di mana hampir semua orang yang dianggap pasukan Kyai Hasyim Muzadi tersingkir dari percaturan kepengurusan PBNU, hatta seorang sekretaris jenderal sekali pun ikut menghilang namanya saat formatur bersidang.

Usai Pemilu 1982, konflik juga muncul terkait tersingkirnya tokoh-tokoh NU dalam pencalonan anggota DPR RI di PPP. Sementara konstituen PPP sekitar 70 % berasal dari NU. Kala itu Ketua Umum PBNU DR KH Idham Chalid. Beliau dianggap lemah memimpin NU. Itu sebabnya, beberapa hari setelah pencoblosan suara, empat kyai NU terkemuka tiba di kediaman kyai Idham Chalid, di Cipete, Jakarta Selatan. Hasil pembicaraan, Kyai Idham Chalid mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU. Berita mundurnya Kyai Idham Chalid dari Ketua Umum PBNU itu baru besok hebohnya, bukan hari itu juga seperti sekarang.

Menyikapi kejadian itu, HM Chalid Mawardi, Ketua Umum GP Ansor, langsung mendatangi Kyai Idham Chalid di Cipete, dan meminta mencabut pengunduran tersebut. Besoknya, heboh lagi, karena beliau pun mencabut pengunduran diri tersebut. Sejak itu ada polarisasi di tubuh NU, ada yang bermarkaz di Cipete (Kyai Idham Chalid dkk), dan ada pula di Situbondo yang dipimpin para kyai sepuh. Sampai terlaksananya Muktamar NU ke-27 1984, di Situbondo, Jawa Timur, yang menghasilkan duet kepemimpinan PBNU, Rais ‘Am KH Ahmad Siddiq dan Ketua Umum KH Abdurrahman Wahid. Sejak itulah NU rukun kembali, muncul dengan ide-ide segar dan brilliant, dan semakin diperhitungkan berbagai kalangan, termasuk dunia internasional.

Wajah Baru, Ide Baru, dan Gagasan Baru

Sesungguhnya, mereka yang hari ini memimpin NU, baik pusat atau daerah, masih ada yang pernah merasakan kehidupan ketat rezim Orde Baru. Menjadi aktivis NU era orde baru sangat tak kondusif. Pasca Reformasi 1998, mulai banyak generasi NU terdidik, dan besar di alam demokrasi. Maka itu kelompok ini tak boleh lupa kebengisan rezim Orde Baru. Bukan untuk menanam permusuhan, melainkan untuk dijadikan pelajaran dan pengalaman, sekaligus catatan sejarah.

Eforia demokrasi sejak Mei 1998 membuat elemen NU lupa. Lupa akan penganiyaan rezim Soeharto terhadap NU. Sifat “pelupa” orang NU ini nampak ketika sejumlah orang, yang dalam sejarah Orde Baru pernah menjadi elemen penting di pemerintahan, belakangan menjadi tokoh urgent. Padahal beberapa dari mereka itu malah menjadi orang nomor satu dalam mempersulit roda NU. Kala itu mereka masih muda, dan jabatan tertingginya Camat, atau sejenisnya. Pasca reformasi, mereka sudah berusia 40-an dan 50-an. Mereka dapat jabatan penting, misalnya pada level daerah ada yang menjadi gubernur, bupati, dsb. Ironisnya, mereka ramai-ramai ber-NU, bahkan masuk jajaran pimpinan. Hebatnya, mereka nampak paling NU, mengalahkan orang yang bertahun-tahun konsisten di NU, bahkan ikut teraniaya bersama NU.

Warga Nahdliyyin harus ingat jika era Orde Baru itu generasi NU yang ingin masuk PNS saja dipersulit. Jika sudah jadi PNS pun tak diberi jabatan. Jika pengusaha, tak bisa berkembang, dan seterusnya. Itulah sesungguhnya, sejarah NU yang kini mulai dilupakan. Tak hanya itu, kelompok yang tadinya telah melakukan marginalisasi terhadap NU, justru menduduki posisi penting, entah di partai politik atau lembaga negara lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana anak-anak dan pejuang NU kerap tersingkir. Baik secara ekonomi atau politik.

Munculnya wajah baru dalam muktamar NU di Lampung nanti, tentu sebuah kabar gembira, lembaran baru NU. Gerakan baru itu akan mengantarkan NU ke arah perbaikan, modernisasi kelembagaan, serta program dan aktivitas. Karena itu, seharusnya kalangan generasi NU terdidik, tak boleh berpangku tangan. Tak perlulah terlibat pada kubu-kubu, tetapi mungkin akan lebih produktif jika ikut memberikan alternatif, ide dan gagasan baru terkait Muktamar dan masa depan NU.

Harapannya, generasi terdidik ini bertanggung-jawab terhadap masa depan NU. Masa depan NU sudah harus menyesuaikan dengan kebutuhan, entah yang berdimensi revolusi 4.0 atau revolusi 5.0. Dalam bahasa tokoh NU Yogyakarta, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA, PhD, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga yang kini menjadi Kepala BPIP RI, tampilan aktivis NU ke depan adalah orang yang tetap menguasai ilmu-ilmu ushuluddin (Islam), tetapi juga yang memiliki wawasan ilmu social, sains dan teknologi. Maka itu, cara berpikir elite dan tokoh NU harus berpandangan jauh ke depan, bukan cuma bangga dengan masa lalu.

Figure elite NU mendatang adalah yang mau bekerja, beramal, dan mengabdi. Ia bisa berakhir pekan di Aceh buat membina PWNU, PCNU, MWC hingga Ranting dan Anak Ranting, dua hari kemudian sudah ada di perbatasan calon Ibukota Negara yang baru, Paser Panajam Utara (PPU), Kalimantan Timur, untuk selanjutnya melanjutnya melakukan pembinaan dan penguatan NU dari aliran-aliran perusak umat di Kalimantan Tenggara. Pembinaan akan semakin genuine, ketika beban biaya perjalanan dan biaya-biaya yang diperlukan lainnya adalah ketika semuanya ditanggung oleh lembaganya sendiri. Dalam hal ini, operasional PBNU ditanggulangi PBNU, dan operasional PWNU dan PCNU ditanggung PWNU dan PCNU sendiri.

Munculnya wajah baru model ini akan menjawab semua persoalan tersebut. Wajah NU ke depan benar-benar merupakan figure untuk mengabdi dan beramal nyata. Kehadirannya tanpa saling membebani satu sama lain. Jika ada kesadaran bersama mengenai soal ini sudah merata, maka konflik di tubuh NU, terlebih berkaitan dengan muktamar sekarang, bisa dihindari. Jika demikian, maka wajah baru NU nantinya sekaligus akan menjadi penyelamat NU itu sendiri. Pembinaan NU se Indonesia bisa merata, dan data LSI yang menyebut data NU sekitar 56 % akan menjadi kenyataan. Wallahu ‘alam bissawab … !!!

*) Penulis adalah Ketua Dewan Syuro Mesjid As-Su’ada, Syekh Abdul Kadir Hasan, Universitas NU Kalsel. Pernah menjadi Ketua Rayon PMII di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Baca Juga: Muktamar NU dan Nasib Regenerasi Organisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *