Paribasa Banjar: Padaringan Buntus

Banua.co – Paribasa Banjar “Padaringan Buntus” memberikan pelajaran, prioritaskan kebutuhan dapur terlebih dahulu. Terutama kebutuhan pokok sandang – pangan. Jangan sampai di rumah tidak ada beras dan lauk pauk. Biar kalah aksi, asal di dapur ada nasi. Percuma menang aksi, ternyata di rumah tidak ada nasi.

Oleh: Noorhalis Majid

Screenshot 20210331 074156 1 150x150 - Paribasa Banjar: Padaringan BuntusBapak dan atau ibu rumah tangga, berkewajiban mengelola keuangan di rumah tangganya, agar cukup untuk kebutuhan sebulan. Kalau dananya terbatas, pandai-pandailah memprioritaskan kebutuhan pokok, bukan kebutuhan lainnya yang tidak penting.

Bila tidak bisa mengelola, uang habis untuk pengeluaran yang tidak perlu – tidak substansi, itulah yang disindir dengan ungkapan padaringan buntus.

Tempat beras bolong, demikian arti harfiah “Padaringan Buntus”. Padaringan, adalah sebutan untuk tempat menyimpan beras. Terbuat dari tanah liat berbentuk tajau, atau berupa kaleng besar, sekarang disebut dengan rice box. Kalau tempat ini bolong, tentu saja beras akan berhamburan.

Padaringan yang bolong, tidak saja bermakna mengelola beras, lebih luas dari itu menggambarkan ketidakmampuan mengelola keuangan rumah tangga.

Entah bapak atau ibu yang mengelola keuangan rumah tangga, yang penting dana tersedia dapat mencukupi kebutuhan selama satu bulan. Apalagi bila dana tersebut dapatnya bulanan berupa gazi, bukan harian atau mingguan. Maka harus cukup sampai bulan berikutnya. Jangan sampai bolong ditengah jalan. Mestinya cukup sebulan, dua minggu sudah habis. Bukan karena kurang dan tidak cukup, tapi dipakai untuk kebutuhan lain yang tidak penting.

Betapa banyak kasus tidak pandai mengelola keungan rumah tangga. Uang dapur habis dibelanjakan untuk kebutuhan make up, baju, sepatu, kaca mata, aksesoris sepeda, dan hal-hal lainnya yang bersifat sekunder, hanya sebagai penunjang kebutuhan hidup. Kebutuhan yang sebenarnya bisa ditunda, setelah kebutuhan primer dipenuhi. Karena tidak pandai memprioritaskan yang primer, masalah rumah tangga tak terhindarkan, tidak jarang berujung perceraian. Saling salah menyalahkan, padahal sebabnya tata kelola keuangan rumah tangga yang tidak disiplin.

Ungkapan “Padaringan Buntus” ini memberikan pelajaran, prioritaskan kebutuhan dapur terlebih dahulu. Terutama kebutuhan pokok sandang – pangan. Jangan sampai di rumah tidak ada beras dan lauk pauk. Biar kalah aksi, asal di dapur ada nasi. Percuma menang aksi, ternyata di rumah tidak ada nasi.

Segala yang bisa ditunda, usahakan tunda dulu. Bila nanti ada kelebihan uang, baru memenuhi hal-hal bersifat pelengkap. Kelola uang rumah tangga sebaik mungkin, jangan sampai padaringan buntus. (nm)

Baca Paribasa Banjar Lainnya: Tinggi pada Panjuluk Pauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *