Gegara Kiai Bikin Ulah, Pesawat Batal Mendarat

Gegara Kiai satu ini, pesawat batal mendarat. Perintah untuk tidak mendarat turun dari langit! Simak kisah lengkap serba-serbi Muktamar NU ke-34 di Lampung berikut ini.

Oleh: Khairullah Zain.

Bukan Muktamar NU kalau tidak ada keunikan dan keajaiban. Setiap Muktamar selalu ada cerita unik dan asyik diperbincangkan.

Kisah berikut ini yang saya saksikan menjelang Muktamar NU ke-34 di Lampung.

Begini. Penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Internasional Radin Inten di Lampung tidak lama, hanya sekira 30 menit saja.

Menurut Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Orang selama Libur Hari Raya Natal dan Menyambut Tahun Baru 2021 dalam Masa Pandemi Covid-19, selama naik pesawat dengan perjalanan kurang dari 2 jam dilarang makan dan minum.

Masalah datang. Pesawat yang kami tumpangi membagikan makanan dan minuman gratis, diiringi pengumuman aturan pemerintah.

Seorang Kiai sepuh, dengan santai dan polosnnya membuka kemasan dan menikmati makanan tersebut. Seolah tidak mendengar adanya pengumuman aturan penerbangan. Lha, ngapain dikasih kalau tidak boleh dinikmati. Mungkin begitu pikir beliau.

Kiai di samping saya nyeletuk, “Penerbangan kurang dari dua jam tidak boleh makan dan minum di pesawat”. Disambut Kiai yang menikmati makanan dengan terkekeh.

Ringkas kisah. Kami hampir sampai. Monitor di hadapan penumpang menunjukkan sekira 5 menit lagi pesawat akan mendarat. Alhamdulillah.

Tiba-tiba, ada pengumuman bahwa pendaratan tertunda. Cuaca tidak mengizinkan.

Pilot melanjutkan penerbangan. Pengumuman mengabarkan pendaratan akan telat sekira 30 menit dari jadwal.

Ketika ingin mendarat, cuaca masih belum mengizinkan. Kembali, pilot melanjutkan penerbangan.

Berulang-ulang, pesawat muter-muter di atas kota Lampung. Hingga akhirnya, terdengar pengumuman bahwa pesawat akan mendarat. Alhamdulillah, pesawat benar-benar mendarat. Mulus. Kami sampai dengan selamat.

Eh, ternyata, setelah kami kalkulasi, kami terbang dari Jakarta – Lampung lebih dari dua jam.

Kiai yang tadi bilang penerbangan kurang dari dua jam tidak boleh makan nyeletuk lagi, “Kasyaf juga Kiai itu”, katanya sembari tertawa.

Saya jawab, “Ntar kalau beliau mau makan lagi di pesawat, kita cegah saja. Bikin pesawat tidak bisa mendarat”. Hehehehe.

Wallahu A’lam, apakah ini kebetulan belaka. Tapi yang jelas, kisah ini nyata. Wong saya saksinya kok.

Baca Juga Kisah: Gus Dur Negosiasi Umur dengan Malaikat Maut!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *