Islam, NU dan Optimisme

Ajaran Islam sangat mendorong optimisme. Berpikir positive sangat diajarkan oleh Islam. Namanya husnudhan. Janganlah kita menjadi berburuk sangka, yang dampaknya kita sendiri yang akan menerimanya. Terlebih sebagai bagian dari NU, di mana banyak qaidah ushul fiqh yang digelorakan NU, yang semangatnya adalah berpikir positive, hatta terhadap musuh sekali pun. 

Oleh: M. Syarbani Haira *)

Syarbain Haira 150x150 - Islam, NU dan OptimismeJam’iyah diniyah Nahdlatul Ulama (NU), baru saja menyelesaikan sebuah agenda besarnya, Muktamar yang ke-34 dari tanggal 22 – 23 Desember 2021, di Lampung. Meski sempat diwarnai adu kekuatan antara kelompok-kelompok pendukung yang berkontestasi, alhamdulillah muktamar berakhir sukses, aman dan damai, dengan terpilihnya KH Miftahul Achyar sebagai Rais ‘Am PBNU, dan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU masa khidmat 2021-2026. Mantan Katib ‘Am PBNU masa khidmat 2015 – 2020 ini berhasil mengalahkan ketua umum sebelumnya, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA, dengan score yang sangat signifikan.

Terpilihnya kepemimpinan baru PBNU ini disambut optimisme banyak pihak, khususnya para pendukung dan pengamat sosial umumnya. Mereka mengapresiasi kepemimpinan baru PBNU ini, dengan beragam ekspektasi. Terlebih ketua umum tanfidziah-nya memiliki geneologi pemikiran dengan Gus Dur, sang pendobrak kejumudan NU beberapa dekade lalu. Meski begitu, sejumlah elemen lain masih sayup-sayup terdengar, meragukan kepemimpinan baru PBNU ini. Hanya saja suaranya semakin ke depan sudah mulai tak terdengar lagi.

Bersamaan dengan itu, tak lama berselang usai muktamar, meski struktur baru PBNU belum tersusun, waktu berjalan cepat. Sehingga secara alami, pergantian tahun syamsiah, tahun yang dihitung berdasar rotasi syamsiah (matahari), pun menyertai perjalanan hidup manusia, dari tahun 2021 kepada tahun 2022.

Ternyata, pergantian tahun diwarnai kehidupan manusia yang tengah dilanda beragam krisis dahsyat, multidimensi. Krisis ini telah menimpa hampir merata di semua bangsa. Krisis ini antara lain diwarnai dengan segala aneka variasinya, mulai dari soal culture, hingga soal government dan ekonomi. Dalam konteks ini, kehidupan manusia kadang terasa serba nikmat menyenangkan, tetapi tak sedikit pula yang dilanda kesusahan. Kadang sukses, tetapi kerapkali juga dihadapkan dengan kegagalan.

Menghadapi krisis semacam ini, patut direnungkan firman Allah SWT (al-Qur’an Al-Baqarah ayat 155-157), yang artinya : “Dan sungguh kami uji kalian dengan sedikit rasa ketakutan, lapar, kekurangan harta benda, jiwa, buah buahan. Dan berilah kabar gembira orang orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang ditimpa musibah, mereka mengatakan ‘Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Mereka itulah orang yang akan mendapatkan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang mendapatkan hidayah.”    

Ayat ini menggambarkan bahwa kehidupan manusia akan selalu berubah-ubah. Roda kehidupan yang selalu berputar, misalnya hari ini kita jumpai kemudahan, namun besoknya bisa saja kita temukan kesulitan. Manusia sekali waktu kadang sedih, tapi di lain waktu justru gembira. Inilah ujian Allah SWT, agar keimanan manusia bisa semakin tebal, kedekatan pada Allah SWT akan selalu bertambah.

Fenomena ini mengingatkan kita pada syair yang dimuat dalam kitab matan al-Kharidah al-Bahiyyah, oleh Syekh Ahmad Dardir, yang mendendangkan sebuah syair, yang bunyinya : “Dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat Allah, dan bersabarlah atas cobaan-cobaan-Nya.”   

Qasidah ini membimbing manusia agar pandai bersyukur. Semua anugerah yang diberikan tak membuat terlena, sehingga mampu menggunakan dengan baik. Begitu juga saat ada cobaan, maka harus dihadapi dengan sabar. Manusia harus selalu husnudhan pada Allah, dan meyakini akan selalu memberikan kemudahan, mungkin nanti atau di kemudian hari. Semangat ini sesuai firman Allah SWT, surah al-Insyirah ayat 5 dan 6, yang bunyinya : “Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.”    

Pesan ini tegas, jika ada kesulitan, pasti akan ada kemudahan. Allah bahkan mengulangi sampai dua kali. Maka itu kita tak boleh ragu. Karena dalam sebuah hadits qudsi, diriwayatkan Ibnu Abbas RA, Allah berfirman : “Aku ciptakan kesulitan satu, tetapi di situ pula aku ciptakan dua kemudahan.”

Model ujian sendiri sangat beragam. Seorang petani bisa saja mengalami gagal panen. Atau sukses tapi harganya tak sesuai harapan. Seorang pelajar nilainya kurang sesuai harapan. Pekerja kantor, ada masalah di kantornya. Seorang pedagang ditipu. Semua ini bisa saja menimpa kita. Namun sebaiknya, kita tetap harus menata hati untuk memosisikan Allah, dalam dugaan yang selalu baik (husnudhan).

Maka itu kita harus meyakini Allah bisa menyelesaikan urusan kita, rumit sekali pun. Manusia harus yakin jika Allah akan menyelesaikan problem manusia, bahkan dengan indah. Manusia patut memanjatkan pada Allah kalimat-kalimat optimism, memuji asma-Nya. “Allahu akbar ! Allah maha paling besar.” Seberapa besar masalah kita, Allah lebih agung daripada masalah kita.

Perihal kesulitan, Ibnu Mas’ud pernah menyebutkan : “Demi Allah, seandainya kesulitan, keterpurukan, kegagalan itu berada dalam suatu lubang, pasti kemudahan akan mencarinya hingga bisa merangsek masuk. Dan kesulitan tidak akan bisa mengalahkan kemudahan. Dalam arti, kemudahan pasti akan menang.”

Maka itu pilihan terbaik hidup ini adalah optimism. “Optimisme merupakan sumber keilmuan, apa saja.” Karenanya tahun 2022 ini, tekad kita adalah optimism. Mungkin saja ada yang pernah gagal saat pileg, pilkada, konferensi atau muktamar, atau hajat-hajat lainnya. Tak perlu lah kita sampai menjadi manusia pengumpat hanya karena kekalahan kita, atau kegagalan dalam sebuah kontestasi. Apalagi sampai memusuhi orang yang dianggap menjadi penghalang tujuannya.

Ajaaran Islam sangat mendorong optimism. Berpikir positive sangat diajarkan oleh Islam. Namanya husnudhan. Janganlah kita menjadi berburuk sangka, yang dampaknya kita sendiri yang akan menerimanya. Terlebih sebagai bagian dari NU, di mana banyak qaidah ushul fiqh yang digelorakan NU, yang semangatnya adalah berpikir positive, hatta terhadap musuh sekali pun.

Maka itu kita gelorakan optimisme, sembari membenahi kekurangan diri sendiri, mengevaluasi sikap, kinerja, dan sebabainya. Tentu tetap berdoa, munajat pada Allah SWT dengan rajin, disertai shalat malam (qiyamu al-lail), supaya semua masalah bisa diselesaikan secara indah. Dengan begitu, insya Allah akan ada jalan keluar dari aneka krisis. Rasulullah SAW bersabda : “Sebaik-baik ibadah adalah menanti kegembiraan.” Ini dimaksudkan optimisme menyambut datangnya kebahagiaan itu merupakan ibadah yang agung.

Umat Islam di muka bumi ini tak boleh berputus asa. Semua harus tetap berusaha. Dalam Islam, putus asa harus dihindari. Lawan putus asa adalah optimisme, keyakinan yang tangguh. Inilah yang dipesankan Nabi Ya’qub pada anak-anaknya, seperti cerita al-Quran Surah Yusuf ayat 87 : “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir.”

Maka itu sekali lagi semua orang bisa saja bahagia, dan sebaliknya berduka. Jika bahagia, sikapnya harus bersyukur, jika berduka harus bersabar. Ada baiknya manusia selalu memohon pada Allah dengan penuh optimisme. al-Qur’an Surah al-Baqarah ayat 186, Allah SWT berjanji akan selalu mengabulkan hajat hamba-Nya. Cerita Nabi Yunus saat dia ditelan oleh ikan menjadi kasus menarik. Berkat doa yang ia panjatkan, Allah kemudian mengabulkan. Dzin Nun atau yang terkenal dengan nama Nabi Yunus pun akhirnya bisa keluar dari perut ikan.

And last but not least, pentingnya berhusnudhan kepada Allah ta’âlâ. Berprasangka baik merupakan kunci kebahagiaan. Bagi mereka yang sedang dirundung duka, penuh cobaan hidup, hendaknya memperbanyak doa, misalnya : Ya Allah ya Tuhan kami. Ya Jabbar, Ya Karim. Jadikan kami sebagai hamba yang selalu diberi anugerah, agar bisa mensyukuri aneka ragam nikmat-Mu. Jika diberi cobaan, perkuatlah kesabaran, dan optimisme. Jadikan kami semua termasuk pribadi yang selalu dekat pada-Mu, baik dalam suka atau duka. Berikan kami kekuatan dalam meniti hidup ini. Aamin … !!!

*) Penulis adalah Ketua Dewan Syuro Mesjid As-Su’ada, Syekh Abdul Kadir Hasan, Universitas NU Kasel (sebagian dari naskah ini disampaikan dalam khutbah Jumat di Mesjid As-Su’ada, Syekh Abdul Kadir Hasan, Universitas NU Kalsel, Jumat, 07 Januari 2021 Masehi, bertepatan 04 Jumadil Akhir 1443 Hijriyah).

Baca Juga: Muktamar NU dan Nasib Regenerasi Organisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *