PBNU Menghidupkan Gus Dur, NU Kalsel Mestinya Hadirkan Abah Guru Sekumpul

Oleh: Muhammad Bulkini

Ketua Umum PBNU yang baru, KH Yahya Cholil Staquf berjanji menggunakan lima tahun kepemimpinannya di PBNU untuk menghidupkan Gus Dur.

“Jika tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan sosok Gus Dur, maka perlu disediakan seribu orang untuk bekerja seperti Gus Dur. Kalau seribu orang belum cukup, mari kita sediakan sejuta orang laksana Gus Dur. Namun, jika sejuta orang belum cukup, berarti seluruh umat manusia harus bersama-sama mengadopsi, mempercayai nilai-nilai yang dulu diperjuangkan oleh Gus Dur,” kata Gus Yahya.

Gus Dur membaktikan waktu hidupnya untuk menawarkan gagasan-gagasan dan bekerja mewujudkan solusi bagi masalah-masalah kemanusiaan. Dia mengajak kita berpihak kepada seluruh manusia tanpa kecuali, tanpa peduli latar belakang apa pun–demi mengupayakan kualitas hidup yang meningkat dan peradaban yang lebih mulia.

***

Baca Juga: Meneladani Abah Guru Sekumpul, Membangun Kemandirian NU

Tulisan di atas saya olah dari tulisan Mas Sulak –teman Gus Yahya kuliah di UGM– dalam status facebooknya.

Gus Yahya sedang getol-getolnya melanjutkan kembali perjuangan Gus Dur dengan jargon “Menghidupkan Gus Dur”. Misinya sebenarnya masih sejalur dengan apa yang sudah diterapkan KH Said Aqil Siroj, yakni Islam toleran. Namun, setelah membaca gagasan-gagasannya, agaknya Gus Yahya lebih mengerti penerapannya di lapangan, lebih-lebih di dunia internasional.

Satu contoh, Kiai Said mengeluarkan jargon “Islam Nusantara”, yang intinya adalah Islam toleran. Jargon itu menjadi kontroversi. Ia dipandang sebagai aliran baru (sesat) oleh orang-orang yang tidak suka dengan NU. Juga bagi mereka yang bersumbu pendek –istilah untuk menggolongkan orang-orang yang mudah percaya kabar tanpa tabayun atau konfirmasi.

Padahal, istilah Islam Nusantara telah lama dipakai banyak peneliti dalam tulisan-tulisan mereka. Satu yang saya ingat, pada tahun 1980-an, Peneliti Malaysia Wan Mohammad Saghir menulis tentang Islam Nusantara. Bahkan, dalam tulisan itu ia menyebut Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari sebagai “Matahari Islam Nusantara”.

Sekalipun Kiai Said dan jargon “Islam Nusantaranya” tidak salah, Gus Yahya berpandangan, jargon tersebut tidak cocok jika dikembangkan ke luar negeri. Dia berpendapat, jika kita ingin menawarkan sesuatu ke luar negeri, maka jangan bawa-bawa identitas lokal. Gus Yahya akan mengganti “Islam Nusantara” dengan “Humanitarian Islam”; Islam untuk Kemanusiaan.

Pandangan Gus Yahya yang didasari gagasan Gus Dur itu mestinya mudah dipahami oleh orang-orang yang berjalan di relnya Abah Guru Sekumpul. Seperti, mengapa Gus Yahya tidak membawa lokalitas ke luar negeri yang Islamnya didominasi oleh orang-orang Arab?

Abah Guru punya jawabannya, “Penyakit (umum) orang Arab adalah Taasub (Asabiah). Mereka menonjolkan Al, suku,” begitu kata Abah Guru.

Dengan demikian, sebaik apa pun gagasan “Islam Nusantara” tidak akan diterima dengan baik di luar sana, karena itu mengandung “kesukuan” dengan kata “Nusantara”-nya. Maka, gagasan “Humanitarian Islam” oleh Gus Yahya terlihat lebih bersahabat.

***

Baca Juga: Mimpi Bertemu Abah Guru Sekumpul dan Gus Dur, ini Tafsirnya

Gus Dur dan Abah Guru Sekumpul itu satu frekuensi. Gagasan-gagasan Gus Dur mudah diterima oleh orang-orang yang mengikuti rel Abah Guru, terutama dalam misi kemanusiaan. Jika kita sulit memahami Gus Dur karena tidak ada kedekatan, kita bisa memahaminya dengan pendekatan Abah Guru. Atau sebaliknya.

Kembali ke judul, jika PBNU sedang menghidupkan Gus Dur, NU Kalsel mestinya menghadirkan Abah Guru Sekumpul. Saya memakai kata “Hadir”, karena menurut keyakinan saya, aulia yang berpindah alam tidak mati, bahkan sekadar tidur.

Satu lagi, jika PBNU sedang menghidupkan Gus Dur, pesan saya jangan tinggikan Gus Dur dari Abah Guru Sekumpul (minimal di Kalsel). Sebab berkaca dari sejarah, ketika Gus Dur diberi kursi dan duduk di atasnya, sementara Abah Guru dibiarkan duduk di lantai –sebagaimana yang terjadi di Masjid Al Karomah Martapura–, kita menyaksikan Gus Dur-lah yang “disuruh turun” kemudian.(*)

One thought on “PBNU Menghidupkan Gus Dur, NU Kalsel Mestinya Hadirkan Abah Guru Sekumpul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *