Tarekat Abah Guru Sekumpul, Sebuah Wacana

Sebagai seorang ulama, Abah Guru Sekumpul juga pengamal tarekat. Sering beliau ceritakan di pengajian bahwa dirinya telah mengambil dan mengamalkan bermacam tarekat. Bermula dari Guru Bangil, kemudian -atas saran Guru Bangil- beliau mengambil kepada Kyai Falak Bogor, lalu dilanjut ke Sayyid Amin Al Kutbi, Makkah.

Oleh: Khairullah Zain *)

IMG 20220220 133136 150x150 - Tarekat Abah Guru Sekumpul, Sebuah Wacana

Secara bahasa, tarekat berarti jalan. Para Sufi memaknainya sebagai jalan menuju Tuhan. Asy Syarif aj Jurjani dalam At Ta’rifat mendefinisikan dengan, “Metode khusus untuk orang-orang yang berjalan (salik) menuju Allah Ta’ala dengan melewati tahapan-tahapan dan maqam-maqam”.

Dalam sejarah, ada banyak tarekat yang disusun dan kemudian disebarkan oleh para sufi. Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman), sebuah organisasi para pengamal tarekat yang merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama mencatat lebih dari 40 tarekat yang diakui muktabar dan bisa diikuti.

Abah Guru Sekumpul dan Tasawwuf

Bila pada masa pengajian di Keraton, Abah Guru Sekumpul mengajarkan tafsir, fikih, dan ilmu-ilmu lainnya, maka semenjak hijrah dan membuka majlis di Sekumpul, Abah Guru Sekumpul lebih dominan mengajarkan Tasawwuf.

Dari yang penulis ikuti sejak tahun 1994 hingga beliau wafat pada tahun 2005, hanya ada dua kitab fikih yang beliau ajarkan. Itu pun fikih tingkat dasar. Yaitu, Syarh Minhajul Qawim susunan Syekh Ibn Hajar Al Haytami, dan kitab Parukunan, yang beliau ajarkan kepada para ibu-ibu di hari Sabtu.

Sementara, kitab-kitab Tasawuf mendominasi pengajian. Beberapa yang penulis ikuti diantaranya: Minhajut Thalibin, Ihya ‘Ulumiddin, Ayyuhal Walad, Syarh Hikam Ibn ‘Athaillah, Nashaih ad Diniyyah, Risalah fi Itsbati Wujudin Nabi fi Kulli Makan, Tafrijul Kuruub wa Tafrihul Quluub, Fathullah Ar Rahman Ar Rahim, Hadits Nur Muhammad, Ar Risalah An Nuraniyah, dan beberapa kitab lainnya.

Kitab hadits, hanya ada satu, itu pun masih bicara tentang akhlak dan Tasawuf, yaitu Kitab Riyadush Shalihin susunan Al Imam An Nawawi. Selain itu, beliau juga pernah mengajarkan tentang qiraat sab’ah, tapi pada peserta yang terbatas dan lokasinya tidak di Sekumpul, tapi di Cempaka.

Abah Guru Sekumpul dan Tarekat Sammaniyyah.

Sebagai seorang ulama, Abah Guru Sekumpul juga pengamal tarekat. Sering beliau ceritakan di pengajian bahwa dirinya telah mengambil dan mengamalkan bermacam tarekat. Bermula dari Guru Bangil, kemudian -atas saran Guru Bangil- beliau mengambil kepada Kyai Falak Bogor, lalu dilanjut ke Sayyid Amin Al Kutbi, Makkah.

Semasa di Sekumpul, Abah Guru Sekumpul mulai membaiat jamaahnya untuk mengamalkan dzikir tarekat. Beliau menalqin jamaah dengan talqin dzikir, dan kemudian membaiat jamaah masuk dalam Tarekat As Sammaniyyah.

Amaliah Tarekat Sammaniyyah yang beliau ajarkan cukup mudah dan ringkas, yang wajib hanya dzikir setelah sholat Shubuh. Adapun amaliah harian lainnya berupa beberapa membaca surah Al Fatihah 100 kali, surah Al Kautsar 100 kali, Dzikir Laa Ilaaha Illallah Al Malikul Haqqul Mubin 100 kali dan sholawat Ummi 100 kali, hanya beliau sarankan, “bila ada waktu, amalkan”. Kewajiban lainnya adalah sebagaimana wasiat Syekh Samman sendiri, yaitu senantiasa melaksanakan shalat fardhu secara berjamaah.

Secara sanad, ada dua jalur sanad yang beliau berikan. Pertama dari jalur Guru Bangil yang berpuncak pada Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang mengambil langsung dari Syekh Samman Al Madani, dan dari jalur Syekh As Sayyid Amin Al Kutbi.

Jalur sanad Guru Bangil didominasi oleh para ulama Nusantara, yaitu Guru Bangil (Syekh Muhammad Syarwani Abdan) menerima dari Syekh Zainudin As Sumbawi, yang menerima dari Syeh Ali bin Abdullah Al Banjari, yang menerima dari Syekh Nawawi bin ‘Umar Al Bantani, yang menerima dari Syekh Syihabuddin Al Banjari, yang menerima dari ayahnya sendiri, Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari, yang menerima dari pendiri tarekat, Syekh As Sayyid Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani.

Sementara, jalur sanad Sayyid Amin Al Kutbi didominasi oleh para “Sayyid”. Sayyid Amin Al Kutbi menerima dari Sayyid Husein ‘Aidid dari Sayyid ‘Ayderus bin ‘Umar bin ‘Ayderus Al Habsyi, yang menerima dari pamannya sendiri, Sayyid Muhammad bin ‘Ayderus Al Habsyi, yang menerima dari Syekh Abdul Baqi’ bin Muhammad Shalih Asy Syi’ab Al Anshari, yang menerima dari pendiri tarekat, yaitu Syekh As Sayyid Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani.

Selain Tarekat As Sammaniyyah, Abah Guru Sekumpul juga mengajarkan dzikir Tarekat Al ‘Aydarusiyyah dan dzikir Tarekat Al Idrisiyyah.

images - Tarekat Abah Guru Sekumpul, Sebuah Wacana
Amalan Tarekat Sammaniyyah Abah Guru Sekumpul

Terkhusus Tarekat As Sammaniyyah, di sepanjang tahun 1994-1995, setiap Rabu malam Abah Guru Sekumpul membacakan manaqib Syekh Muhammad bin Abdul Karim As Samman Al Madani, pendiri Tarekat As Sammaniyyah, yang menurut beliau adalah seorang dzuriat Rasulullah shalallahu alayhi wasallam dari Sayyidina Hasan radhiyallahu ‘anh. Kemudian dilanjutkan dengan membaca syair-syair pujian terhadap Syekh Samman Al Madani.

Setiap Rabu malam, sehabis shalat Maghrib, Abah Guru Sekumpul mengulas lebih luas tentang Syekh Samman Al Madani dan Tarekat As Sammaniyyah. Kemudian dilanjutkan dengan membaca syair-syair pujian terhadap Syekh Samman Al Madani yang diiringi terbang berukuran besar. Setelah shalat Isya, beliau memberikan waktu untuk membaiat orang-orang yang ingin mengambil baiat Tarekat As Sammaniyyah.

Bisa dikatakan, Rabu malam adalah kegiatan Tarekat Sammaniyyah.

Abah Guru Sekumpul juga menyusun sebuah risalah kecil, penjelasan atas Tawassulat As Sammaniyyah, yang diberi judul Ar Risalah An Nuraniyah fi Syarh At Tawassulat As Sammaniyyah.

Pembaiatan masuk Tarekat As Sammaniyyah untuk umum ini tidak berlangsung lama beliau lakukan. Sepengingat penulis hanya sampai tahun 1995. Selanjutnya, beliau hanya mengijazahkan dzikir hasanat saja, sebagai tabarrukan. Tidak lagi membaiat.

Beliau juga pernah mengadakan peringatan haul besar-besaran Syeikh Samman Al Madani, yaitu sebanyak tiga kali. Tahun 1994, 1995, dan 1996. Selanjutnya, acara haul Syekh Samman Al Madani tidak lagi diperingati secara khusus, namun dibarengkan dengan jadwal pengajian. Yaitu pada Minggu malam untuk pria dan pada Sabtu pagi untuk perempuan.

Tarekat Abah Guru Sekumpul.

Pada tahun-tahun berikutnya, Abah Guru Sekumpul tidak lagi melaksanakan acara Tarekat Sammaniyyah, tidak membaiat, juga tidak melaksanakan peringatan haul secara khusus.

Pengajian-pengajian Abah Guru Sekumpul kelak lebih menekankan pada pembinaan akhlak ala Tarekat Alawiyah. Abah Guru Sekumpul banyak membicarakan tentang ajaran ulama-ulama Hadramaut. Khususnya dari kalangan Saadah Bani ‘Alawi. Beliau mengajarkan Kitab Al ‘Ilmun Nibras susunan As Sayyid Abdullah bin Alwi bin Hasan Al ‘Aththas yang sangat kental Tarekat Alawiyyahnya. Abah Guru Sekumpul juga meng-imla-kan Khulashoh Madad An Nabawi, sebuah kitab Amaliah/wiridan di kalangan Tarekat Alawiyah.

Hal ini berbeda dengan sebelumnya, di mana beliau menekankan tentang Tauhidul Asma, Shifat, dan Dzat. Tentang Fana Fillah dan Baqo Billah. Tentang Nur Muhammad. Juga tentang Maqomat dan Ahwal pada Sufi.

Kendati demikian, beliau tetap menyarankan jamaahnya untuk mengamalkan dzikir Tarekat Sammaniyyah.

Bila kita telaah lebih jauh, Abah Guru Sekumpul sepertinya beranjak dari seorang Syekh Mursyid Tarekat Sammaniyyah menuju menjadi Syekh Tarekat mandiri.

Pengajian-pengajian beliau tidak didominasi oleh kitab-kitab kalangan Sammaniyyah. Bahkan kitab-kitab karya Syekh Samman, seperti ‘Unwanul Jalwah, Igatsatul Lahfan, Al Futuhaat Al Ilahiyyah, dan lainnya, tidak beliau ajarkan. Pengajian-pengajian Abah Guru Sekumpul diwarnai oleh bermacam aliran tarekat. Kadang beliau berbicara ala Tarekat Syadziliyah, kadang ala Tarekat Alawiyah, dan kadang ala tarekat lainnya.

Kita bisa mencari data dan informasi untuk kemudian membandingkan bagaimana metode para syekh tarekat dari berbagai aliran tarekat dengan metode Abah Guru Sekumpul. Entah itu Tarekat Sammaniyyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Qadiriyah, Tijaniyah, dan tarekat-tarekat lainnya. Abah Guru Sekumpul berbeda dengan mereka.

Pada tahun-tahun terakhir menjelang wafatnya, Abah Guru Sekumpul memberikan mushafahah, mu’anaqoh, munawalatus subhah, dan libasul khirqoh, kepada jamaahnya.

Libasul khirqoh sendiri merupakan sebuah tradisi khas Sufi. Pemberian secarik kain seperti serban, bisa pula berupa pakaian. Ada libasul khirqoh khusus yang bermakna pelantikan untuk menempati suatu maqom tertentu, seperti yang dikisahkan dalam Manaqib Syekh Samman bahwa beliau telah baju jubah putih dari Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Ada pula libasul khirqoh bermakna umum, hanya untuk men-sah-kan seseorang sebagai murid atau bagian dari kelompok/jamaahnya. Biasanya yang umum ini sebagai “tabarrukan”, khususnya untuk orang-orang yang tidak sempat duduk mulazamah belajar atau hadir di majelis. Bahasan lumayan mendalam tentang hal ini bisa kita baca dalam kitab Masyra’ur Rawi susunan Sayyid Muhammad bin Abu Bakr Asy Syili. Kitab yang juga pernah dibacakan Abah Guru Sekumpul di kisaran tahun 1995-1996.

Wallahu A’lam. Mungkin saja ini mengandung makna tersirat bahwa Abah Guru Sekumpul tidak lagi sebagai seorang “Mursyid Sammani”, yang membawa para salik untuk menempuh jalan berdasarkan yang dirintis oleh Sayyid Muhammad bin Abdul Karim As Samman. Namun, Abah Guru Sekumpul telah merintis jalan sendiri, sesuai kondisi zamannya.

Abah Guru Sekumpul yang telah menerima, mengamalkan, dan “menempuh jalan” bermacam tarekat, kelak menemukan metode sendiri yang lebih cocok untuk orang-orang di zamannya. Beliau merintis tarekat sendiri.

Karenanya, sah-sah saja bila kemudian kita beri nama metode ini sebagai “Tarekat Abah Guru Sekumpul”. Namun, tentu saja ini perlu penelitian lebih lanjut, untuk kemudian diteorikan metodologinya. Pastinya, ini tugas para murid beliau yang ahli di bidangnya.

Bukankah umumnya bermacam tarekat, bahkan madzhab dalam fikih (termasuk madzhab Syafii), nama dan pembakuan teori metodologinya muncul pasca perintisnya wafat? Dibakukan teorinya oleh para murid dan pelanjut ajaran sang perintis. Juga, bukankah para perintis tarekat sebelumnya mengikuti suatu tarekat tertentu, kemudian baru mereka merintis tarekat secara mandiri.

Bila Syekh Samman Al Madani telah mengolaborasikan beberapa tarekat, diantaranya Qodiriyah dan Khalwatiyah menjadi Tarekat Sammaniyyah, maka bisa saja kita berpendapat Abah Guru Sekumpul telah melakukan hal yang sama dan melahirkan Tarekat Abah Guru Sekumpul.

Menurut Sampeyan?

*) Penulis adalah santri Abah Guru Sekumpul, Mudir Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh (Jatman) Idaroh Syu’biyyah Kabupaten Banjar.

Baca Juga: Ini Rahasia Abah Guru Sekumpul Dicintai Banyak Orang!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *