Kritik; Tradisi Para Ulama Menjaga Kewarasan Ilmu

Jika ada yang mengatakan, “Agama itu anti kritik, sebab, agama selalu harus dimulai dengan iman, bukan kritik” maka buru-buru perlu ditanyakan, “Agama yang mana, yang anda maksud?”. Jika yang dia maksud adalah agama Islam, jelas dia salah besar. 

Oleh: Idzharul Hasan*)

IMG 20220723 213141 150x150 - Kritik; Tradisi Para Ulama Menjaga Kewarasan IlmuKritik adalah kegiatan ilmiah yang tidak bisa dihindari. Dalam paradigma sains modern, tidak bisa disebut sains, sebuah teori yang tidak bisa “dikritik” (oleh Karl Popper, disebut “difalsifikasi”).

Inilah kegiatan yang sejatinya menjaga seseorang tetap “waras” ilmunya. Waras dalam artian, pemahaman seseorang tidak keluar dari pakem-pakem ilmiah yang sudah disepakati.

Kritik dalam Ajaran Islam.

Islam, adalah agama yang sangat mendorong para pemeluknya agar menjadi pribadi yang kritis. Tidak asal terima jadi, namun acuh dari meneliti kebenarannya atau validitasnya.

Ada banyak sekali ayat yang mengajak umat Islam agar kritis. Misalnya, ayat tentang tabayun dalam surat al-Hujurat, yang sangat masyhur itu. Para mufasir juga banyak menjadikan ayat tentang celaan Allah kepada para penyembah berhala, “Mereka hanya mengikuti orang-orang sebelum mereka tanpa ilmu”, sebagai dalil untuk selalu kritis, apalagi menyangkut persoalan akidah.

Jika ada yang mengatakan, “Agama itu anti kritik, sebab, agama selalu harus dimulai dengan iman, bukan kritik” maka buru-buru perlu ditanyakan, “Agama yang mana, yang anda maksud?”. Jika yang dia maksud adalah agama Islam, jelas dia salah besar.

Tumpukan kitab-kitab hadits, fikih, akidah, dan lainnya, yang merupakan karya-karya agung ulama Islam –dan itu sudah dimulai sejak abad pertama perkembangannya– menjadi saksi nyata, bahwa Islam bukan agama anti kritik. Ilmu-ilmu Islam, justru hidup di tengah pusaran kritik, yang bukan hanya datang dari eksternal (agama lain), namun juga internal.

Inilah yang membuat teks-teks keilmuan Islam benar-benar matang, dan nyaris sulit –di zaman ini– dicari kelemahannya untuk kemudian dikritik ulang, karena, antara lain, teks-teks itu sudah digodok, berabad-abad lamanya, baik dalam forum-forum diskusi ilmiah, maupun individu.

Lebih spesifik lagi ilmu hadits. Syaikh Nuruddin ‘Itr, di akhir kitabnya, “Manhaj an-Naqd” (metode kritik), menuliskan banyak sekali bantahan atas tuduhan orientalis, macam Ignac Goldziher, yang menganggap bahwa ilmu kritik sanad ulama hadits hanya sampai pada kritik eksternal (kritik perawi, alias transmitor sebuah riwayat) namun abai melakukan kritik internal (kritik matan, alias isi teks hadits).

Anggapan ini jelas dibantah habis-habisan oleh syaikh Nuruddin ‘Itr, dengan hanya menunjukkan prasyarat sebuah hadits bisa diterima, dan layak dijadikan sebagai hujjah. Selain Ittishal Sanad (terjadi transmisi riwayat yang sambung), perawi yang ‘adil dan dhabith (mencakup intelektual dan moralitas), juga disyaratkan matan haditsnya tidak Syadz (mengandung kontradiksi yang tidak dimaafkan) dan juga mengandung ‘Illat (cacat yang lebih luas; baik teks maupun makna teks).

Dua syarat yang disebutkan terakhir itu, jelas-jelas merupakan bentuk kritik matan, yang oleh Ignac Goldziher disebut, “kritik internal”. Bukan yang lain. Lebih lanjut lagi, beliau, syaikh Nuruddin ‘Itr, menganggap bahwa pesyaratan dhabith seorang perawi sejatinya sudah bisa dikategorikan kritik matan, dengan menimbang, rumitnya syarat-syarat seorang perawi dapat dinyatakan dhabith.

***

Sikap kritis ulama Islam ini pun tidak pandang bulu, karena mereka memang berangkat dari semangat ilmiah, bukan sentimen golongan, atau apapun yang tidak ilmiah. Maka tidak jarang kita temukan, ada ulama yang mengkritisi ayahnya, atau ayah mengkritisi anaknya.

Untuk contoh yang pertama, Imam Ali bin Abdullah bin Ja’far al-Madini, salah seorang ulama hadits terkemuka di zamannya, pernah mengatakan secara terus terang, “Ayahku dha’if dalam urusan hadits”. Selanjutnya, Imam Abu Dawud, seorang maestro hadits ternama, pernah mengkritik anaknya, “Anakku berdusta (dalam menyampaikan hadits)”. Maksudnya, jangan mengambil hadits darinya.

Akan terlalu panjang jika saya harus menyebutkan contoh-contoh yang lain. Kiranya, sekelumit contoh di atas, sudah cukup menyadarkan siapa-siapa yang masih menganggap Islam sebagai agama yang “anti kritik”.

Kritik Bukanlah Sentimen

Namun, berpagi-pagi perlu untuk diberi sedikit catatan, bahwa yang dilakukan para ulama Islam ini bukanlah kritik yang penuh kebencian, caci maki, buruk sangka, dan seterusnya yang banyak kita saksikan terjadi sangat liar di jagad medsos. Para ulama ini selalu bisa membedakan: mana argumen, mana sentimen.

Selain kritis dan tidak anti kritik, mereka tidak pernah lepas dari “adab” dalam mengkritik. Jika mereka dikritik, kemudian menyadari kesalahan, mereka akan segera mengakui itu, tanpa harus menghindar dengan berbagai alibi dan tuduhan sentimental.

Imam al-Hakim an-Naisaburi, menulis kitab mustholah hadits berjudul al-Madkhol. Suatu ketika, kitab yang ditulisnya itu sampai di tangan syaikh Abdul Ghani bin Sa’id (generasi murid imam al-Hakim). Imam Abdul Ghani, setelah selesai membaca kitab al-Maddkhal, beliau menuliskan kitab yang mengkritisi kitab itu, diberi nama, Kasyf al-Awham. Setelah selesai menulisnya, syaikh Abdul Ghani mengirimkan kitab itu kepada imam al-Hakim.

Tatkala imam al-Hakim menerima kitab itu, beliau lantas mengkaji kitab itu bersama murid-muridnya, dan beliau menuliskan surat kepada syaikh Abdul Ghani, berisikan ungkapan terima kasih atas kitab Kasyf al-Awham, yang notabenenya berisikan kritik atas kitab beliau.

Ketika surat itu sampai kepada syaikh Abddul Ghani, beliau langsung memuji imam al-Hakim, dan mengatakan, “Saya tahu, imam al-Hakim adalah seorang yang cerdas dan bijak”.

Inilah tradisi kritik ulama kita. Tajam dari segi argumen, namun tidak perlu membawa-bawa sentimen.

Semoga bermanfaat.

*) Penulis adalah pengkaji Ilmu Hadits.

Baca Juga: Manaqib Abu Hurairah, Perawi Hadits Terbanyak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *