Metode Pendidikan ala Nabi, Bukan Hanya Menghafal dan Memahami!

Ternyata bukan hanya menghafal dan memahami, tapi ada lagi yang dicontohkan oleh Baginda Nabi dalam mendidik para sahabatnya. Salah seorang sahabat mengatakan, “Kita ini diperintahkan untuk (memahami dan) mengamalkan ayat al-Qur’an, baru kemudian kami menghafalkannya”. 

Oleh: Idzharul Hasan *)

IMG 20220723 213141 150x150 - Metode Pendidikan ala Nabi, Bukan Hanya Menghafal dan Memahami!Para pengamat pendidikan modern seringkali menyampaikan, bahwa di masa mendatang, kompetensi menghafal sudah tidak lagi diperlukan. Gagasan ini juga seringkali diungkapkan oleh Mendikbud Indonesia, Nadiem Makarim.

Menurut Nadiem, tantangan masa depan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi, sehingga dibutuhkan kemampuan selain menghafal, yakni kemampuan memahami konsep bacaan (literasi) dan kemampuan numerasi (mengaplikasikan konsep hitungan di dalam suatu kompleks yang abstrak atau nyata).

Syaikh Ibnu Abdil Barr, seorang ulama besar Islam dari Spanyol, dalam kitabnya, Jaami’u Bayan al-Ilm (jilid 2, hlm. 1020), mengatakan bahwa, “Pandangan mainstream mayoritas ulama Islam adalah; menganggap tercela memperbanyak menghafal hadits tanpa memahami dan mentadaburi makananya”.

Masih di halaman yang sama, beliau amat menyayangkan fenomena di zaman beliau di mana banyak orang yang suka menghafal banyak hadits, namun tidak diiringi dengan pemahaman akan maknanya.

Lebih jauh lagi, syaikh Yusuf al-Qardhawi, seorang ulama kontemporer, mengkritik banyaknya orang di zaman ini yang berlebihan dalam mengapresiasi penghafal al-Qur’an.

Al-Qardhawi juga mengkritik praktek musabaqoh tilawah al-Qur’an yang menjamur di banyak tempat, dengan pemberian hadiah yang fantastis! Dan menyayangkan, fenomena yang sama tidak ditemukan dalam bidang-bidang lain, seperti musabaqoh pemahaman al-Qur’an, Hadits, Fikih, Tafsir, dan lainnya, yang bukan cuma menuntut hafalan.

Menghafal Tidak Lagi Penting di Zaman Ini?

Saya ingin mengatakan bahwa, sebenarnya permasalahan ini tidak sesederhana, “hafal namun tidak faham sama sekali, atau paham, namun tidak hafal sama sekali”.

Memang, pada dasarnya, memahami itu asas di setiap fan keilmuan. Tidak akan disebut “berilmu” seseorang yang hanya menghafal, namun tidak paham isinya.

Sedangkan menghafal, adalah perantara untuk mengikat dan mengokohkan apa yang telah kita pahami. Ini kaidah umumnya.

Namun, ada persoalan yang teramat kompleks, yang menuntut kita untuk tidak mencukupkan diri dari kaidah umum di atas.

Barangkali, untuk sedikit memperjelas masalahnya, saya akan mengutarakan hal-hal berikut:

Pertama, ada dua macam hafalan: Ada hafal secara tekstual, dan ada hafalan yang tidak tekstual (dalam istilah lain, hafal secara makna, implisit).

Kedua, pemaham ini ada tingkatannya: Ada yang sekedar memahami teks secara global, ada yang memahami secara terperinci dan komprehensif.

Pertanyaan yang patut diajukan adalah:

Apakah menghafal tekstual itu penting?

Mana yang lebih penting, antara memahami teks secara global dengan menghafal secara tekstual?

Apakah teks-teks detil, juga harus dihafal secara tekstual?

Bagi saya, Al-Qur’an dan Hadits, sampai kapanpun, masih memerlukan hafalan tekstual. Kedua teks ini memang terbilang berbeda dari teks-teks keilmuan –baik Syar’i maupun non Syar’i– yang lain. Mengapa demikian? Sebab, Al-Qur’an, misalnya, terdapat fadhilah khusus dengan membaca dan menghafalnya saja.

Di luar itu, Al-Qur’an adalah kalam Allah yang teksnya diriwayatkan secara Mutawatir. Dengan begitu, dibutuhkan hafalan yang benar-benar tekstual.

Saya katakan, menghafal secara tekstual, bukan memahami secara tekstual. Itu dua hal yang berbeda!

Hukum menghafal Al-Qur’an pun fardhu kifayah. Maka, untuk yang satu ini, antara hafalan dan pemahaman sama-sama ditekankan secara seimbang.

Karena alasan fundamental inilah, meski mushaf al-Qur’an sudah banyak beredar, mengahafalkan al-Qur’an secara tekstual masih ditekankan.

Untuk hadits, meski ia tidak disebut “al-Muta’abbad bi Tilawatihi”, namun mengahafal hadits secara tekstual juga sangat penting. Sejarah periwayatan Hadits juga dilatarbelakangi oleh para penghafal Hadits (tekstual) yang luar biasa. Oleh karenanya, dalam kriteria Dhabit seorang perwi, ada yang disebut, “Dhabhtu as-Shadr” (hafal di luar kepala).

Dan para perawi hadits ini tidak dituntut untuk memahami teksnya. Ia hanya dituntut untuk menjaga keakuratan teks. Dalam khazanah ilmu Hadits, biasanya seorang perawi diibaratkan sebagai apoteker, dan seorang Fakih bagaikan dokternya.

Dalam kajian Ilmu Riwayat, perbedaan satu dua huruf dalam teks Hadits, dapat berkonsekuensi pada status hadits itu! Maka dari itu, menghafal hadits “secara tekstual” sama pentingnya dengan memahami teksnya dengan pemahaman yang baik.

Memang, sebagian ulama ada yang mencukupkan hafalan hadits secara makna. Namun tidak bagi semua orang. Ada persyaratan tertentu bagi orang yang ingin menyampaikan hadits secara makna.

Adapun ilmu-ilmu syar’i lain (selain teks al-Qur’an dan Hadits), seperti Ulum al-Qur’an, Ulum al-Hadits, dan semacamnya., jelas lebih utama pemahaman daripada menghafal secara mutlak. Untuk menghafalnya pun tidak perlu secara tekstual. Apalagi jika sudah menyangkut teks-teks yang begitu komoleks, sehingga membutuhkan analisa yang mendalam.

Kita tidak perlu menghafal teks Ibaroh fikih per-se, cukup memahami ibaroh itu dengan baik, kemudian bisa mengaplikasikannya di dalam forum Bahtsul Masail, misalnya, bagi saya itu cukup.

Meskipun, lagi-lagi, jika seseorang mampu menggabungkan keduanya, antara memahami dan menghafal, mengapa tidak? Hanya saja, sekali lagi, memahami itu asas. Dan menghafal adalah wasilah demi memperkokoh hafalan.

Sebagian orang, ada yang lebih mudah memahami dengan cara menghafalnya terlebih dulu. Itu selera. Sah-sah saja. Asal setelah menghafal, tidak lantas puas dan mencukupkan diri dengan hafalan.

Tujuan terpenting dari menghafal adalah, mengikat pemahaman kita. Jika kita sekedar paham, namun kita tidak menghafal (baik secara makna maupun tekstual) apa yang telah kita pahami itu akan segera hilang. Pemahaman itu hanya akan mampir sebentar di otak kita, lalu ia pergi tanpa pamit.

Menghafal dan Memahami, Cukup?

Namun, pertanyaannya kemudian, apakah ilmu cukup sampai di situ? Dipahami dan dihapalkan, lalu selesai? Tidak! Karena memahami, belum tentu malakah!

Saya beri contoh sederhana yang riil saya alami. Dalam Nahwu, ada pembahasan soal ‘Adad dan Ma’dud. Saya paham sekali kaidahnya. Sayapun hafal sebagian besar kaidahnya. Namun, tatkala diajak berbicara langsung menggunakan bahasa Arab dengan menyertakan ‘Adad dan Ma’dud, saya selalu kagok. Entah kenapa, tiba-tiba hafalan itu ambyar dan menjadi seolah rumit sekali.

Bahkan untuk berbicara Bahasa Arab dengan I’rob yang benar, saya masih suka gelagapan. Padahal itu materi dasar. Dasar sekali.

Mengapa itu terjadi? Alasannya, antara lain, karena saya baru hafal dan paham, namun belum sampai malakah. Di siniah kekuatan praktek; baik itu menulis maupun berdialog (bisa dengan berdiskusi, atau sekedar menggunakannya dalam percakapan sehari-hari).

Lebih dari Sekedar Menghafal dan Memahami.

Ilmu yang sudah kita hafalkan dan pahami, jika tidak pernah kita praktekkan, seolah masih tersimpan rapi di alam pikiran kita. Namun ketika kita mulai menerapkannya, menulisnya, mendiskusikannya, maka perlahan-lahan ilmu-ilmu itu akan terekam dengan baik di otak sistem satu kita.

Ada sebuah penelitian menarik dari NTL (Institute of Applied Behavioral Science Learning) terkait hal ini. Hasil penelitian mereka mengatakan, bahwa tingkat pemahaman seseorang akan sebuah materi pelajaran berbeda-beda, tergantung bagaimana ia mempelajari itu.

Di situ disebutkan, pemahaman yang didapat dari belajar dengan sistem mendengarkan penjelasan orang lain, hanya 5%. Dengan disertai membaca, meningkat menjadi 10%. Jika disertai audio-visual, naik lagi menjadi 20%. Dengan demonstrasi 30%.

Belajar dengan cara diskusi, bisa mencapai 50%. Dengan langsung dipraktekkan, berkisar 75%. Dan terakhir, dengan cara mengajari orang yang lain, pemahaman bisa mencapai 90%!

Saya kok, jadi teringat metode pendidikan Nabi kepada para sahabatnya. Para sahabat Nabi, setelah mendengarkan dari Nabi, mereka akan langsung mengamalkan (praktek, mengaplikasikan).

Salah seorang sahabat mengatakan, “Kita ini diperintahkan untuk (memahami dan) mengamalkan ayat al-Qur’an, baru kemudian kami menghafalkannya”.

Selain itu, Nabi kerap kali mengajari sahabatnya dengan cara diskusi. Seperti, ketika ada seseorang meminta izin untuk berzina kepada Nabi, maka Nabi tidak langsung mengatakan, “Haram!”. Beliau mengajaknya berdiskusi, “Bagaimana jika ibumu dizinai, anak wanitamu, saudaramu..” dan seterusnya. Hingga akhirnya, ia benar-benar membenci perbuatan zina selama hidupnya.

Nabi juga sering memerintahkan sahabatnya untuk menulis. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda, “Menulis adalah proses mengikat ilmu”

Selain itu, Nabi juga memerintahkan sahabat untuk menyampaikan (mengajarkan) apa yang mereka dengar dari Nabi kepada orang lain, meskipun satu ayat! Lengkap sudah.

Apakah ada metode pendidikan yang lebih baik dan sempurna dari pendidikan Nabi?

*) Penulis adalah peminat Ilmu Hadits. Tinggal di Surabaya.

Baca Juga: Akal dan Nalar, Urgensinya dalam Beragama.

Baca Juga: Peran Akal pada Orang Beriman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *